Dengarkan Artikel
Oleh : Mahratul Husna
Mahasiswa Semester V, Jurusan Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh
Di tengah hiruk pikuk kota Banda Aceh, di balik senyum murung yang terukir di wajah Ibu Nurlaila, tersimpan kisah pilu yang menggugah hati. Seorang janda tangguh dari Lhoksukon. Ia berkeliling mengemis di kawasan Blang Bintang. Ia menanggung beban berat sebagai tulang punggung keluarga. Lima anak menjadi tanggung jawabnya dan setiap langkahnya diiringi harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Nurlaila bukanlah pengemis biasa. Di balik kesederhanaan, tersembunyi kisah pahit yang tak terlupakan. Anak ketiganya, terlahir dengan kondisi yang memprihatinkan, dikenal dengan sebutan “Seribu Wajah” dan menderita bocor jantung sejak lahir. Bayangkan, seorang ibu yang harus berjuang keras untuk menghidupi anak-anaknya, salah satunya dengan kondisi kesehatan yang sangat memprihatinkan.
Setiap hari, Nurlaila berjalan kaki, menenteng karung beras yang menjadi simbol harapan bagi keluarganya. Karung itu bukan sekadar kebutuhan harian, melainkan representasi dari perjuangannya untuk meraih kehidupan yang lebih layak. Di balik raut wajahnya yang lelah, terukir tekad yang kuat untuk tetap tegar di tengah badai kehidupan yang tak kunjung reda.
📚 Artikel Terkait
Kisah Nurlaila bukanlah cerita tunggal. Di Banda Aceh dan sekitarnya, terdapat banyak pengemis yang menjalani kehidupan yang penuh derita. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa, yang terpaksa menyerahkan diri pada jalanan untuk bertahan hidup. Mereka adalah cerminan dari realitas yang tak selalu terlihat di kehidupan kita sehari-hari.
Kehadiran mereka mungkin tak selalu diakui, namun kisah hidup mereka membutuhkan sorotan dan dukungan dari kita semua. Di balik permohonan mereka yang terdengar di keheningan jalanan, tersembunyi harapan akan keadilan dan kehidupan yang lebih manusiawi.
Namun, di balik keprihatinan, terdapat pertanyaan yang menggerogoti hati. Apakah pemberian kita, yang sekilas terlihat sebagai bentuk belas kasih, justru mendorong mereka untuk terus bergantung pada belas kasihan orang lain? Apakah kita telah menciptakan siklus “pengemis berantai” yang tak berujung?
Pemerintah, seharusnya, lebih proaktif dalam memberikan solusi yang lebih berkelanjutan. Bantuan sosial yang tepat sasaran, program pendidikan yang terstruktur, dan kesempatan kerja yang layak, semuanya menjadi kunci untuk memutus rantai kemiskinan dan mengangkat derajat para pengemis di Aceh.
Data dari BPS menunjukkan bahwa pada tahun 2024, jumlah penduduk miskin di Provinsi Aceh mencapai 14,23 persen jiwa. Fakta ini menunjukkan bahwa pemerintah perlu mengupayakan langkah-langkah yang lebih konkrit untuk mengurangi angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Aceh, termasuk para pengemis.
Di balik senyum murung Ibu Nurlaila, terdapat harapan yang terpendam. Harapan akan kehidupan yang lebih baik, harapan akan keadilan, dan harapan akan masa depan yang cerah bagi anak-anaknya. Mari kita bersama-sama menciptakan dunia yang lebih berpihak pada keadilan dan kesejahteraan bagi semua, termasuk para pengemis yang mencari sesuap nasi di jalanan.
Kisah Nurlaila dan para pengemis lainnya bukanlah sekadar angka statistik kemiskinan. Mereka adalah manusia dengan mimpi dan harapan. Dengan empati dan tindakan nyata, kita dapat mengubah cerita pilu ini menjadi kisah inspiratif tentang kebangkitan dan perubahan. Mari kita ulurkan tangan, bukan hanya untuk memberi bantuan sesaat, tetapi untuk membangun masa depan yang lebih baik, sebuah masa depan di mana setiap anak dapat tumbuh dengan layak, dan setiap ibu dapat hidup dengan tenang tanpa harus mengemis di jalanan. Mungkin, di balik senyum murung mereka, tersimpan benih-benih harapan yang menunggu untuk tumbuh dan berkembang.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






