Dengarkan Artikel
Oleh: Riza Shintia
Mahasiswa prodi: Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh
Pada malam yang dingin,setelah hujan reda mengguyur pemukiman kota Banda Aceh, saya mengunjungi kawasan kuliner kota Banda Aceh untuk membeli makanan. Dalam perjalanan, sekilas saya melihat seorang lelaki dan wanita membawa dua anak berjalan bersama di pinggiran jembatan Lamyong, kota Banda Aceh.
Sempat terlintas di pikiran, kemana arah yang mereka tuju dengan berjalan kaki menenteng tas dan kotak kecil yang dipegang anaknya,tanpa kendaraan sepeda motor, apalagi mobil di malam yang dingin terasa menusuk tulang ini.
Alih-alih tidak ingin berpikir lebih dalam lagi, seketika saya sampai pada tujuan warung jajanan. Saya melakukan pesanan, lalu mengambil antrian, kemudian saya duduk menunggu di kursi hingga pesananan siap.
Tiba-tiba datang seorang pengemis wanita membawa anak perempuan dengan menenteng kotak, untuk mengemis, mengharapkan selembar rupiah. Ia menghampiri saya dengan gerakan yang tergesa-gesa.
Sontak saya kaget karena pengemis tersebut merupakan orang yang saya lihat di jembatan tadi, yang sebelumnya saya berpikir itu bukan pengemis. Saya mengira mereka adalah keluarga biasa yang sedang berjalan menuju tempat tujuannya. Ternyata tujuan mereka adalah meminta belas kasihan.
Melihat fenomena itu, saya tertarik untuk mencari tahu tentang mereka. Saya mengikuti mereka dan melihat secara langsung apa sebenarnya motif mereka melakukan pekerjaan hina ini. Mereka memiliki anggota tubuh yang lengkap dan terlihat masih kuat dalam beraktivitas, sangat disayangkan mereka menggunakannya untuk mengemis simpati.
Lalu, tidak lama kemudian saya melihat lelaki tadi juga membawa anak laki-laki dan melakukan aksi meminta-minta, namun di tempat berbeda di seberang jalan. Saya terus mengamati gerak-gerik mereka. Kerap kali anak mereka menunjukkan ekspresi murung dengan pakaian lusuh dan wanita tersebut menggunakan masker untuk menutupi identitasnya.
Saat mereka mendatangi warung kopi ada pengunjung yang berdialog dengan mereka dan dengan rasa iba pengunjung tersebut pun sesekali mengelus kepala anak kecil itu. Dalam hati kecil saya terbesit pertanyaan besar, apakah ini benar-benar keterpaksaan, atau sekadar strategi mengais simpati demi keuntungan?
📚 Artikel Terkait
Realitas pengemis saat ini, kerap kali menjadi perhatian bagi masyarakat dalam berkehidupan. Ada keraguan terhadap aksi para pengemis dengan sikap bergantung pada sedekah orang dan perilaku meminta-minta seolah menjadi tradisi bagi mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup. Masifnya aktivitas mengemis menimbulkan berbagai persoalan yang menganggu stabilitas sosial masyarakat di kota Banda Aceh.
Padahal, pemerintah telah menetapkan peraturan tentang pengemis, mulai dari peraturan nasional hingga peraturan lokal, seperti Peraturan Walikota Banda Aceh nomor 7 tahun 2018 untuk Kota Banda Aceh. Bukan hanya itu, Pemerintah kota sudah sering melakukan razia pengemis dan membawa mereka ke rumah singgah untuk dilakukan pelatihan fisik dan aqidah. Kita juga selalu melihat pamflet himbauan larangan meminta sedekah yang terpajang di berbagai sudut jalan, namun faktanya masih banyak pengemis yang melakoni aksinya tanpa rasa takut ditangkap lagi.
Mengapa demikian? Apakah upaya tersebut tidak memberi efek jera pada pengemis, sehingga masih banyak dari mereka yang melakukan aksi mengemis di kota Banda Aceh? Bisa jadi demikian. Kiranya, Pemkot Banda Aceh perlu lebih serius lagi berupaya mengubah situasi ini. Perlu ada pendekatan yang menyeluruh dan komprehensif. Misalnya, meninjau kembali apakah aturan dan program bantuan sosial yang sudah dilakukan telah menjangkau pengemis, hingga menelusuri kehidupan keluarganya seperti ini secara efektif.
Selain itu, perlu melakukan edukasi tentang pentingnya kemandirian dan nilai kerja keras harus ditekankan, baik melalui komunitas maupun pendidikan formal. Serta hukuman yang lebih ketat bagi pengemis yang melanggar. Di sisi lain, masyarakat juga perlu lebih bijak dalam memberikan bantuan bukan hanya berupa uang, tetapi solusi yang lebih berkelanjutan, seperti dukungan untuk pendidikan atau pelatihan kerja. Dengan memberi uang secara cuma-cuma akan menyebabkan mereka terbiasa hingga merasa untung hanya dengan modal mengadahkan tangan.
Jika saja tidak ada masyarakat yang memberi uang kepada pengemis tersebut, minat mereka dalam mengemis juga akan semakin berkurang dikarenakan usaha mereka mengais simpati tidak ada hasilnya, lebih baik alokasikan dana sedekah kepada lembaga amal terpercaya seperti Badan Amil Zakat (BAZNAS), Dompet dhuafa dan masih banyak lembaga amal lainnya yang bisa dihubungi untuk berdonasi.
Dengan cara itu, akan dapat memberikan pemahaman dan kesadaran bagi semua orang bijak memberikan bantuan atau sedekah kepada pengemis dan tidak seharusnya bertumpu pada mengais simpati, melainkan pada upaya bersama untuk menciptakan kehidupan yang lebih damai. Semoga ke depannya tidak ada lagi pengemis yang berkeliaran di Kota Banda Aceh, terutama anak-anak yang seharusnya fokus pada dunia pendidikan.
Namun, regulasi pemerintah terkait praktik pengemis masih menjadi perhatian khusus, melihat masih banyak pengemis yang berkeliaran dengan berbagai macam motifnya. Selayaknya hal ini dicari solusi yang bijak untuk mengeluarkan mereka dari aktivitas mengemis dan profesi pengemis itu.
Oleh sebab itu, pemerintah perlu menggali lebih jauh akar masalah dari maraknya jumlah pengemis di kota Banda Aceh dan di Aceh umumnya. Bila kita selidiki dan mewawancarai mereka, sesungguhnya kita bisa menemukan faktor penyebabnya, baik internal, maupun eksternal.
Secara internal adalah sikap mental suka meminta-minta atau mengemis. Tidak mau bekerja keras dan cendrung memilih profesi mengemis, karena banyak yang mau bersedekah. Bukan hanya itu, tetapi juga karena hilang rasa malu. Faktor lain, yang selalu muncul di permukaan adalah karena alasan kemiskinan keluarga, rendahnya pendidikan dan kurangnya keterampilan, serta sikap mental.
Ya, selama ini banyak statement terhadap permasalahan pengemis, praduga muncul ketika berbicara soal pengemis. Menurut penelitian Dr. Jasafat, MA dan M. Ridha, SHI tahun 2012 menyatakan bahwa para pengemis sehari-hari lebih suka bergaul dengan sesama pengemis, mereka sering bertegur sapa dan memanggil dengan nama yang jelas. Hal ini membuktikan bahwa lingkungan sangat berpengaruh terhadap minat mengemis. Kemudian lemahnya penanganan gelandangan dan pengemis, sehingga masih banyak pengemis yang berkeliaran melakukan aksinya di kota Banda Aceh.
Membiarkan pengemis secara keluarga bahu-membahu mengemis dapat menjadi potret solidaritas dalam bentuk yang tidak biasa dan makin memperburuk keadaan. Nilai-nilai kekeluargaan seperti kerja sama, saling mendukung, dan berbagi peran terlihat jelas, tapi merusak masa depan anak-anak. Anak-anak dieksploitasi, menjadi daya tarik utama untuk menyentuh hati para dermawan, sementara orang tua menjadi pengarah dari “usaha” ini.
Dalam konteks sosial, situasi ini adalah kondisi yang ironis: Di satu sisi, keluarga adalah tempat utama untuk mendidik dan melindungi anak-anak. Namun, ketika keluarga memilih mengemis bersama, muncul kekhawatiran tentang masa depan anak-anak ini. Ketergantungan pada mengemis dapat berdampak buruk pada dinamika keluarga dan masa depan anak-anak, karena dapat menanamkan nilai-nilai ketergantungan dan bukan kemandirian, yang berpotensi melanggengkan siklus kemiskinan.
Menghadirkan anak-anak dalam skenario mengemis menimbulkan kekhawatiran etis tentang kesejahteraan dan perkembangan mereka, karena mereka terpapar pada eksploitasi dan kurangnya pendidikan yang layak. Bukan hanya itu, kehadiran pengemis usia anak-anak, akan melanggengkan siklus kemiskinan, sehingga aksi mengemis ini seolah sudah menjadi budaya yang terpajang di kota Banda Aceh. Setiap mengunjungi tempat yang ramai seperti cafe atau warung makanan selalu saja terlihat wajah murung mereka dalam menjual rasa iba.
Tidak hanya rasa Ina, rasa tidak nyaman terlihat dari raut wajah pengunjung warung atau cafe. Sehingga menjadi problematik bagi masyarakat yang setiap hari berhadapan dengan praktik mengemis yang merusak tatanan sosial dan wajah kota Banda Aceh.
Tentu ada banyak pertanyaan yang harus kita jawab terkait pengemis dan penglibatan anak-anak dalam kegiatan mengemis, yang aktor pendidik adalah orangtua mereka sendiri. Pertanyaan-pertanyaan itu misalnya, bagaimana dengan hak anak untuk bertumbuh dan berlembang, bagaimana hak anak atas pendidikan dan sebagainya. Mari kita ikut urung rembuk, mencari jalan atau solusi mengenai pengemis di negeri syariat ini.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





