Dengarkan Artikel
Oleh: Susi Afriani
Mahasiswa Pascasarjana UIN Ar- Raniry, Banda Aceh
Keberadaan pengemis di Banda Aceh menjadi salah satu isu sosial. Pengemis terlihat di berbagai lokasi strategis seperti pusat perbelanjaan, tempat kuliner, rumah ibadah, POM bensin, dan jalan utama yang sering dijadikan target lokasi. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan sosial yang belum sepenuhnya teratasi. Masalah ini, menimbulkan banyak perdebatan, terutama terkait dengan penyebab kemiskinan, upaya pengentasan masalah sosial, dan peran pemerintah. Masyarakat juga memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang pengemis, ada yang merasa mereka perlu dibantu, sementara yang lain merasa terganggu atau khawatir dengan kehadiran mereka.
Pengemis di Banda Aceh berasal dari berbagai latar belakang, baik yang datang dari luar daerah, maupun yang tinggal di kota ini. Mereka mengemis karena berbagai alasan, seperti kemiskinan, kesulitan ekonomi, atau masalah fisik yang membatasi kemampuan mereka untuk bekerja. Namun, tidak jarang pula ditemukan pengemis yang memiliki kondisi fisik yang sehat dan sempurna, tetapi memilih mengemis, karena kecanduan atau kebiasaan.
Realitas yang meresahkan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya partisipasi masyarakat yang merasa iba dan akhirnya memberikan sumbangan kepada mereka dan berlangsung terus menerus, menyebabkan kecanduan bagi para pengemis untuk terus melakukan aksi meminta-minta. Akibatnya, mengemis dianggap sebagai profesi. karena hasilnya cukup menguntungkan tanpa perlu kerja keras.
📚 Artikel Terkait
Berdasarkan hasil observasi, ditemukan bahwa beberapa pengemis disabilitas, maupun lanjut usia ternyata dimanfaatkan keterbatasannya untuk mengemis oleh kerabat terdekat seperti yang ditemukan di salah satu POM bensin daerah Gampong Mulia yang mana pengemis tersebut diantarkan ke lokasi mengemis oleh kerabatnya pada pagi hari dan dijemput pada sore hari.
Kasus serupa juga ditemukan di salah satu tempat kuliner Bakso Barata. Seorang pengemis lansia diantarkan oleh kerabatnya dan dituntun untuk melakukan aksi meminta-minta. Selain itu ditemukan juga bahwa ada fenomena menarik tentang para pengemis ini, yang mana mereka melakukan aksi minta-minta, namun masih diiringi dengan rasa malu. Sehingga, memakai masker adalah salah satu cara untuk menutup wajah agar rasa malunya tertutupi. Kasus ini terjadi di salah satu coffee shop di jalan lingkar kampus, lebih tepatnya Coffee Shop Kopi Dara.
Pemandangan ini telah menjadi hal lumrah yang terjadi di sekitar kita. Padahal sudah banyak upaya pemberantasan yang dilakukan oleh pemerintah seperti penertiban, patroli dan razia. Data yang diperoleh dari Dinas Sosial Banda Aceh, Satpol PP dan WH menyerahkan gelandangan dan pengemis atau biasa disingkat gepeng, untuk dilakukan pelatihan.
Selanjutnya melalui hasil penilaian, para gepeng yang dikembalikan ke keluarga ada yang dirujuk ke Dinsos Aceh untuk mendapatkan pelatihan lebih lanjut di Rumoh Sejahtera Beujroh Meukarya (UPTD RSBM), di Ladong, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar. Namun upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah hingga saat ini belum menemukan hasil yang memuaskan karena masih banyak pengemis yang enggan meninggalkan profesi tersebut.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






