Dengarkan Artikel
Oleh. Agung Marsudi
Berdomisili di Riau
_Menghadapi bencana kapitalisme_
TAK jelas siapa yang memulai perbudakan manusia atas manusia, tapi cerita itu adalah kisah purba. Cerita yang menghebohkan peradaban manusia, sepanjang-panjang masa.
Kapitalisme seperti hukum rimba, yang kuat, yang menang. Ada kelompok adidaya. Negara di atas negara.
Teori ekonominya klasik, “modal sekecil-kecilnya, untung sebesar-besarnya” pengikut Adam Smith. Sedang ekonomi yang lain berbasis kepercayaan, nabinya Adam Alaihisalam. Satu jalan, berbeda tujuan. Bukan sebaliknya.
📚 Artikel Terkait
“Isme” yang berarti paham, dipahami sebagai sesuatu yang terlanjur dipertentangkan. Kapitalisme, sosialisme, komunisme, di hadap-hadapkan. Isme, bukan juga agama yang didewakan. Isme yang mengakar, mendarah daging, melahirkan “otoritarianisme” jenis berbeda, yang juga berbahaya.
Negara-negara yang terlihat berpaham komunis, faktanya kapitalismenya tingkat dewa. Atas nama “isme” ingin mengajak manusia menuju sorga. Tapi praktiknya, telah menciptakan perbudakan modern, atas nama kesejahteraan manusia.
Berkembanglah teori, dan praktik geopolitik, geoekonomi, dan geo-geo lainnya. Lahirnya persekutuan antar negara berdalih demi stabilitas keamanan, dan pasokan sumber daya alam global. Mengingatkan bahwa arus kapital, mendorong persaingan tak sehat yang nakal, kanibal dan eksponensial.
Bencana kapitalisme, bencana alam, berada dalam satu tarikan napas. Berebut oksigen, di bumi yang sama-sama dihuni, alasan geostrategi.
Program organisasi bangsa-bangsa, untuk memanusiakan manusia, menggapai sejahtera, meraih bahagia, menuju sorga, hanya utopia.
Planet bumi dan airmata penghuninya, sudah cukup untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Airmata. Sebuah megaproyek kapitalisme kelas dunia.
*3 Desember 2024*
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





