Dengarkan Artikel
Oleh: Reo Candrika
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Bukittinggi, Sumatera Barat
Ada anggapan kalau belajar filsafat bisa bikin orang “gila,” sesat, atau bahkan atheis. Namun, kebanyakan pendapat ini hanya berdasarkan asumsi, tanpa alasan yang jelas. Padahal, kalau dipelajari dengan cara yang benar, filsafat justru menjadi alat untuk melatih pola pikir kritis dan bijaksana. Di UIN Bukittinggi, ada Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam di bawah Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah, yang menawarkan wadah pembelajaran filsafat secara mendalam dan terarah.
Belajar filsafat itu seperti membangun rumah. Â Sebelum menyusun dinding dan atap, kita perlu membuat fondasi yang kokoh. Sama halnya, memahami filsafat, memerlukan pemahaman dasar seperti pengertian, sejarah, metode, hingga cabang-cabang filsafat. Belajar dari tokoh-tokoh besar seperti Plato, Aristoteles, Al-Farabi, hingga Al-Ghazali juga memperkaya pemahaman kita. Diskusi bersama teman atau guru pun menjadi kunci untuk memperkuat konsep yang dipelajari.
Filsafat Sebagai Metode, Bukan Dogma.
Filsafat bukanlah sebuah ajaran yang dimaksudkan untuk menggantikan agama. Kata “philosophia” sendiri berarti cinta kebijaksanaan, yang menjelaskan filsafat sebagai metode berpikir kritis untuk memahami sesuatu secara mendalam. Bukan untuk meragukan agama, filsafat justru membantu kita memilah informasi secara logis. Ia mengajukan pertanyaan fundamental seperti, “Apa arti hidup?” dan “Kenapa kita ada di dunia?” Dengan landasan nilai agama, filsafat dapat memperkuat iman kita, bukan malah menggoyahkannya.
📚 Artikel Terkait
Akal Memiliki Peran dan Batasan
Filsafat mendorong kita memanfaatkan akal seoptimal mungkin, namun tetap menyadari keterbatasannya. Ada aspek kehidupan, seperti pengalaman spiritual dan wahyu, yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh logika. Karena itu, kita memerlukan pedoman seperti Al-Qur’an dan Sunnah dalam berfilsafat. Tanpa pedoman, belajar filsafat bisa diibaratkan seperti mencari harta karun tanpa peta—bingung dan mudah tersesat.
Peran Guru yang Kompeten
Belajar filsafat tidak bisa dilakukan secara mandiri. Guru yang kompeten akan membantu menjelaskan filsafat dalam konteks yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, menghindarkan kita dari pemikiran yang menyimpang. Mereka juga mengajarkan keseimbangan antara penggunaan akal dan wahyu, sehingga kita tetap berada pada jalur yang benar. Karena itu, belajar filsafat membutuhkan bimbingan, bukan hanya sekadar membaca buku atau berselancar di internet.
Ragu: Bagian dari Proses Belajar
Keraguan adalah bagian alami dari belajar filsafat. Al-Ghazali sendiri pernah mengalami krisis spiritual sebelum akhirnya menemukan keyakinan yang lebih kokoh. Proses keraguan ini justru membawa kita lebih dekat kepada kebenaran, asalkan diiringi dengan usaha untuk mencari jawaban yang benar.
*Kesimpulannya* Filsafat bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti. Dengan bimbingan yang tepat, filsafat dapat membantu kita menjadi individu yang lebih bijaksana dan terbuka. Jadi, mari belajar filsafat, tetapi tetaplah berpegang pada pedoman hidup dan bimbingan dari guru yang terpercaya!
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





