Dengarkan Artikel
Oleh: Popy Mutiara
Mahasiswa Jurusan Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh
Pada suatu siang di akhir September 2024, kawasan Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh, banyak masyarakat yang berada di sana. Ada yang sibuk berfoto ria di halaman masjid yang indah itu. Ada pula yang menjalankan. Ibadah salat dhuhur. Lalu, di antara hiruk-pikuk pedagang dan pejalan kaki, dua perempuan paruh baya terlihat duduk di area sekitar pasar. Keberadaan mereka menarik perhatian banyak orang. Mereka dengan suara sholawat yang mengalun dari pengeras suara kecil. Kedua perempuan itu adalah Sri dan Maryam, kakak beradik yang datang ke tempat ini setiap hari untuk mencari rezeki.
Sri, perempuan berusia sekitar 65 tahun, tampil dengan wajah segar dan pakaian rapi. Di sisinya, Maryam yang berusia sekitar 70 tahun, dengan keterbatasan fisik berupa kebutaan, tetap setia menemani. Kisah mereka adalah cerminan perjuangan kaum marginal yang jarang tersorot, hidup di tengah masyarakat yang dinamis, namun tak selalu ramah terhadap kelompok rentan.
Sri dan Maryam bukanlah penduduk asli Banda Aceh. Sekitar lima tahun lalu, mereka meninggalkan kampung halaman di Takengon, Aceh Tengah, dengan harapan bisa meraih kehidupan yang lebih baik di ibu kota provinsi. Sri pernah bekerja sebagai juru parkir di sana, namun keterbatasan ekonomi dan sulitnya mencari pekerjaan mendorong mereka untuk merantau.
Namun, realita di Banda Aceh tak seindah yang mereka bayangkan. Di usia yang tak lagi muda, tanpa keterampilan khusus, mencari pekerjaan tetap bukan perkara mudah. Ketika hidup semakin mendesak, Sri dan Maryam terpaksa menjalani kehidupan sebagai pengemis, mengandalkan kemurahan hati orang-orang yang lewat.
Di dekat Masjid Raya Baiturrahman yang terkenal sebagai ikon kota, Sri dan Maryam menemukan cara unik untuk menarik perhatian. Mereka menggunakan pengeras suara untuk memutar lagu-lagu sholawat dan ceramah agama, berharap sentuhan religi ini akan menggerakkan hati orang-orang yang lewat untuk memberikan bantuan. Salawat yang mengalun di tengah suasana religius masjid ini tampaknya memang berhasil, menarik mereka yang simpati untuk memberikan sekadar uang atau makanan.
📚 Artikel Terkait
Namun, langkah ini tidak selalu mendapat tanggapan positif. Sebagian orang merasa terganggu oleh suara pengeras suara, terutama yang sedang beribadah. Situasi ini memperlihatkan tantangan tambahan yang mereka hadapi, bahkan dalam hal cara mereka bertahan hidup.
Menjalani hari-hari sebagai pengemis membuat hidup Sri dan Maryam rentan. Mereka tidak hanya bergantung pada pemberian orang, tetapi juga menghadapi risiko keamanan. Pengemis seperti mereka rentan terhadap eksploitasi atau pemerasan dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Tanpa perlindungan atau penghasilan tetap, mereka harus terus mengandalkan kemurahan hati masyarakat sekitar.
Cerita Sri dan Maryam adalah potret nyata dari kaum yang termarjinalkan, yang hidup di bawah bayang-bayang ketidakpastian. Di usia senja, mereka tak hanya menghadapi kesulitan ekonomi, tetapi juga keterbatasan akses terhadap layanan dasar seperti kesehatan dan bantuan sosial.
Kisah hidup Sri dan Maryam mencerminkan pentingnya peran masyarakat dan pemerintah untuk lebih peka terhadap kelompok rentan. Bantuan yang sifatnya lebih jangka panjang, seperti program pemberdayaan dan keterampilan kerja, akan lebih berdampak dibandingkan bantuan langsung yang sementara. Untuk masyarakat, kisah ini menjadi pengingat bahwa kepedulian sosial tak hanya sekadar memberi, tetapi juga mendorong mereka untuk dapat hidup lebih mandiri.
Di sisi lain, pemerintah memiliki peran strategis untuk merumuskan kebijakan yang mendukung kelompok-kelompok rentan seperti Sri dan Maryam. Program jaminan sosial dan pelatihan keterampilan yang terarah dapat membantu mereka keluar dari lingkaran kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan hidup.
Dalam hiruk-pikuk kota, sering kali kita melewatkan pandangan pada mereka yang tak terlihat, yang terus berjuang meskipun hidup di bawah garis kemiskinan. Kisah Sri dan Maryam adalah pengingat untuk membuka mata dan hati terhadap mereka yang kurang beruntung. Di balik perjuangan mereka yang tampak sederhana, tersimpan kekuatan dan keteguhan hati yang luar biasa.
Kisah mereka menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus peduli dan bekerja sama dalam menciptakan lingkungan sosial yang lebih inklusif. Hanya dengan langkah-langkah kecil namun nyata, kita dapat membantu mengubah potret kehidupan orang-orang seperti Sri dan Maryam dari sekadar bertahan menjadi hidup dengan martabat.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






