Dengarkan Artikel
Bagian 19
Bussairi D. Nyak Diwa
Sudah rutin setiap hari, siang pukul 13.30 aku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Ternyata SMA Muhammadiyah itu tidak jauh dari komplek perumahan tempat aku tinggal. Hanya saja jalannya tidak melalui jalan raya, tetapi lewat jalan potong mengikuti pinggiran sungai Krueng Daroy ke arah timur. Hanya menempuh perjalanan sekitar 20 menit sudah sampai ke pekarangan sekolah.
Tepat pukul 14.00 Wib belajar dimulai dan tepat pukul 18.00 bel panjang pun berbunyi menandakan proses belajar-mengajar berakhir. Tidak ada kendala yang berarti selama aku berada di sekolah, sebagaimana remaja lainnya yang masih dalam masa pencaroba aku juga dapat menyesuaikan diri dengan teman-teman yang kebanyakan orang kota. Sebagai anak kampung yang pindah sekolah ke kota, aku memang mengalami sedikit kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan, terutama menyangkut penggunaan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi. Aku sudah terbiasa menggunakan bahasa Aceh dengan dialeg kampung sehingga ketika berbahasa Indonesia dengan teman anak-anak kota terasa agak kaku dan tersendat-sendat. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Sedikit demi sedikit akhirnya aku dapat juga berbahasa Indonesia dengan logad atau dialeg anak kota.
Di sekolah aku memiliki banyak teman, baik laki-laki maupun perempuan terutama teman sekelas. Kebanyakan mereka adalah anak-anak kota atau paling kurang anak pinggiran kota. Tetapi, selain aku ada juga beberapa teman yang berasal dari daerah alias perantauan. Ada Firman dan Suryaman dari Meukek, Meslin dari Dumai, Sutrisno dari Siantar, Herman dari Aceh Tengah, Cut Nurlaili dari Meulaboh, dan lain-lain. Kami sekelas berjumlah 32 orang. Tapi aku tak ingat lagi berapa jumlah laki-laki dan perempuan. Guru-guru yang mengajar di kelas kami rata-rata masih muda dan energik sehingga pembelajaran berlangsung sangat menyenangkan. Saya masih ingat beberapa nama guru-guru muda itu diantaranya Amsal Amri, Mukhlis A. Hamid, Musafir, Sarimin, Cut Wardah, Ida Elida, dan lain-lain. Sementara itu ada juga guru-guru yang sudah lanjut (yang kemudian hari saya ketahui beberapa diantaranya adalah dosen Unsyiah) seperti Bapak Abdullah Faridan, Bapak Munasco, Bapak Zaini Ali, Bapak Syamsuar Marlian, dan lain-lain.
Jam pelajaran yang paling menyenangkan bagi kami anak-anak kelas III IPA-3 adalah jam Pelajaran Olahraga. Selain muda, guru olahraga kami itu juga sangat familiar dan humoris. Biasanya ketika jam pelajaran Orkes (Olahraga Kesehatan, istilah kami waktu itu) kami disuruh jalan kaki sejauh kurang lebih tiga kilometer ke lapangan Blang Padang. Perjalanan dari sekolah ke Blang Padang harus kami tempuh selama tidak lebih dari 30 menit. Jadi otomatis kami harus berlari-lari kecil menuju Blang Padang melewati Jalan Seulawah, memotong Jalan Teuku Umar, terus ke Blower dan terakhir memotong Jalan Nyak Adam Kamil memasuki Blang Padang. Karena kami semua memakai baju olahraga, jadi tak asing lagi bagi pengguna jalan yang melintasi sepanjang jalan yang kami lalui.
Sampai di Blang Padang, kami disuruh jogging dan tak jarang mendapat tugas berlari-lari kecil mengelilingi Blang Padang sebanyak tujuh kali putaran. Kadang-kadang kami juga bermain bola kaki dengan serunya. Karena jam pelajaran olahraga mendapat porsi waktu pada jam terakhir pelajaran, maka jika tugas olahraga sudah selesai dilaksanakan, kami boleh langsung pulang ke rumah masing-masing.
📚 Artikel Terkait
Tapi sebagian dari kami tidak langsung pulang, melainkan bersantai-santai terlebih dahulu. Ada yang berjalan-jalan ke pasar Aceh, ada yang ke Mesjid Raya, atau ada yang ke Taman Sari sambil menikmati suasana di sore hari. Aku sendiri, biasanya langsung pulang dengan menumpang labi-labi di depan Mesjid Raya atau di Simpang Jam. Soalnya aku khawatir terlambat sampai di rumah. Maklum aku menumpang di rumah saudara.
(bersambung)
Drs. Bussairi D. Nyak Diwa atau dikenal dengan nama penaBussairi Ende, lahir di Bakongan pada 10 Juli 1965. Menyelesaikan sekolah tingkat SD dan SMP di kampung halaman Kecamatan Bakongan, Aceh Selatan. Kemudian tahun 1983 hijrah ke Banda Aceh melanjutkan ke SMA hingga menyelesaikan S-1 di PBSI FKIP Unsyiah, 1991.
Menulis puisi dan Cerpen sejak duduk di bangku SMA dan terus berkembang saat berstatus mahasiswa di Kampus Unsyiah. Bersama kawan-kawan mahasiswa pernah mendirikan Surat Kabar Mahasiswa Unsyiah Monumen pada tahun 1989 dan Majalah Kalam FKIP Unsyiah tahun 1990, lalu menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Mahasiswa dan alumni FKIP Unsyiah itu. Pernah memimpin Teater Gemasastrin dan menjadi Ketua Umum Gemasastrin (Gelanggang Mahasiswa Sastra Indonesia) FKIP Unsyiah Periode 1988 – 1992. Hingga saat ini baru menghasilkan dua Kumpulan Puisi Tunggal, empat Kumpulan Puisi Bersama, dan satu Kumpulan Cerpen Tunggal.
Pernah memenangi beberapa Lomba Menulis, diantaranya Finalis Lomba Menulis Cerita Pendek (LMCP) Depdiknas tahun 2009, Juara III Lomba Menulis Buku Pengayaan Pusbuk Depdiknas, tahun 2010, mendapat penghargaan dalam Lomba Mengulas Karya Sastra (LMKS) Depdiknas, tahun 2011, dan lain-lain.
Selama menjadi guru pernah meraih beberapa penghargaan dan prestasi, diantaranya Penghargaan Sebagai Guru Pelopor IPTEK dari LIPI tahun 2007, Penghargaan Guru Berprestasi Tingkat Nasional dari Bupati Aceh Selatan tahun 2011, Juara II Guru Berprestasi Tingkat Kabupaten Aceh Selatan tahun 2010, Juara Harapan II Guru Mata Pelajaran Berprestasi Tingkat Provinsi Aceh tahun 2016. Saat ini menjadi Koordinator Daerah IV Ikatan Guru Indonesia (IGI) Wilayah Provinsi Aceh dan menjadi Kepala Sekolah di salah satu SMP di Kabupaten Aceh Selatan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini




