POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

ORANG DALAM

RedaksiOleh Redaksi
July 25, 2024
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Zulkifli Abdy

ADA fenomena di dalam dialektika sosial kita akhir-akhir ini, yang kerap menjadi “buah bibir” dalam kehidupan sehari-hari. Gejala itu kita sebut saja sebagai fenomena “Orang Dalam”, yang muncul dalam berbagai bentuk. Ada yang objektif, dan ada pula yang konotatif, tergantung sudut pandang orang melihatnya.

Uniknya Orang Dalam yang dimaksud justru berada di luar lembaga atau sistem.
Baiklah, selanjutnya “Orang Dalam “ ini kita sebut saja sebagai Ordal.

Menjadi Ordal, dalam pandangan yang objektif tentu boleh jadi membanggakan, tetapi Ordal dalam perspektif yang konotatif tak jarang membuat seseorang menjadi canggung atau bahkan risih. Betapa tidak, Ordal yang objektif itu biasanya karena yang bersangkutan memang benar-benar dekat secara kekerabatan dengan seorang tokoh, politisi, pejabat, atau tuan rumah dalam suatu perhelatan.

Sebaliknya Ordal dalam pandangan konotatif, biasanya ditabalkan pada seseorang hanya sebagai sindiran belaka, setidaknya untuk membuat yang bersangkutan merasa ada kebanggaan “kecil” di dalam hatinya, karena keberadaannya dianggap lebih “penting” daripada orang lain.

Tetapi mungkin itu tidak terlalu penting, yang ingin penulis bahas justru esensi dari “Orang Dalam” atau Ordal itu sendiri.
Uniknya lagi orang kerap dipersepsikan sebagai Ordal tersebut, secara kelembagaan atau sistemik sesungguhnya adalah orang luar juga.

Karena yang bersangkutan tidak sedang berada, katakanlah dalam suatu jabatan dan tidak pula ada dalam sistem. Dia disebut sebagai Ordal, hanya semata-mata karena kedekatannya secara personal dengan tokoh penting, sebutlah politisi, pejabat, atau orang yang benar-benar ada di dalam sistem lembaga tertentu.

Sebenarnya ada enak atau bangganya juga disebut sebagai Ordal, namun ada pula tidak enaknya, dan yang hendak penulis bahas justru aspek tidak enaknya itu, karena kalau enaknya mungkin tidak perlu kita bahas lagi.

Bagian tidak enaknya sebagai Ordal, katakanlah pada suatu hajatan yang kebetulan diselenggarakan oleh orang penting atau lembaga tertentu yang punya kedekatan secara empiris dengan Ordal tersebut. Misalnya ketika hampir bersamaan serombangan tamu tiba-tiba datang, dan kursi yang tersedia tidak mencukupi.

Dalam kondisi seperti itu, biasanya Ordal dianggap paling bertanggungjawab untuk segera mengatasi keadaan “genting” itu, agar tamu tidak kecewa.

Demikian pula ketika makanan yang tersedia di meja prasmanan tidak mencukupi atau menunya tidak lengkap, tanpa sungkan orang akan melirik seraya mengarahkan pandangannya pada Ordal.

Begitu menariknya fenomena “Orang Dalam “ akhir-akhir ini, sampai-sampai ada anggapan bahwa memiliki akses terhadap Ordal sangat penting. Apalagi bagi orang yang relatif tidak memiliki cukup “jaringan” dalam pergaulan sehari-harinya, walaupun yang bersangkutan orang kaya baru (OKB) sekalipun, yang bersangkutan tentu sangat memerlukan Ordal untuk dapat benar-benar masuk ke dalam.

Sehingga tidak berlebihan, cara yang paling sederhana untuk mengakses bagian dalam atau inner cyrcle adalah dengan mendekati Ordal.

📚 Artikel Terkait

Mungkinkah Aceh Menerapkan Sistem Nomokrasi?

Nyanyian Elang Menjelang Siang

Lelaki Pemendam Cinta

Syarifuddin Aliza

Tidak berlebihan pula bagi orang tertentu, sosok yang disebut sebagai Ordal itu diawal pendekatannya dianggap lebih penting daripada “Orang Dalam “ yang sesungguhnya. Karena itulah satu-satunya pintu baginya untuk dapat masuk ke dalam.

Kendati menjadi orang yang sangat penting di awal, tetapi tidak jarang Ordal dikecewakan oleh orang yang pernah dijembataninya. Hal mana terjadi setelah yang bersangkutan telah berada di dalam, bahkan akhirnya Ordal dilupakan oleh orang yang pernah menjadi “pasiennya”.

Di situlah suka-dukanya kalau kita sudah terlanjur dipandang khalayak sebagai Ordal dengan segala konsekuensinya. Karena tahu ada konsekuensi yang mungkin akan dialaminya, Ordal pun telah terbiasa dan mulai pandai menyiasati, dengan mengambil kesempatan memanfaatkan fasilitas apa saja yang mungkin dari “pasiennya”, sebelum yang bersangkutan dimasukkan ke dalam lembaga atau sistem yang diinginkan.

Informasi yang berasal dari Ordal selalu menarik di ruang publik, kendati belum tentu juga valid, karena tidak semua dinamika di dalam dapat diketahui dengan mudah oleh Ordal, terutama untuk hal-hal yang bersifat strategis. Namun setidaknya informasi dari Ordal dapat dijadikan indikator tentang dinamika di dalam, atau setidaknya akan menjadi issu yang patut ditunggu dan diuji kebenarannya.

Kendati Ordal bukanlah suatu profesi, tetapi orang tertentu sangat menikmati keberadaannya di posisi tersebut. Bahkan boleh jadi menjadi suatu kebanggaan, karena menjadi sosok yang dibutuhkan, bahkan dicari dan didekati banyak orang.

Suatu hari penulis pernah mengalami, ketika foto-foto yang penulis jepret sendiri pada suatu perhelatan, dan mengirimkannya kepada seorang sahabat yang kebetulan ada dalam foto tersebut. Setelah menerima foto itu, sahabat tersebut membalasnya dengan mengomentari; “Wah foto yang sangat keren, saya terima langsung dari Ordal”, seraya tak lupa mengakhirinya dengan emogi yang menggambarkan ibu jari.

Ketika membaca balasan itu, penulis pun tersenyum, dan manusiawi saja kalau penulis sedikit merasa tersanjung, tetapi yang lebih merasuki perasaan penulis ketika itu justru merasa tersindir. Secuil kisah ini pula yang akhirnya menginspirasi penulis untuk membuat tulisan ini.

Begitulah ketika sebutan Ordal dilekatkan pada seseorang, bisa menimbulkan rasa tersanjung, namun dapat pula berdampak orang merasa canggung dan salah tingkah.

Suatu jabatan, baik itu jabatan di lembaga eksekutif, maupun di lembaga legislatif, tentu ada batas waktu atau periodesasi. Demikian pula bagi Ordal, keberadaannya sangat tergantung pada tokoh atau pejabat yang di luar sana biasa dia wakili.
Bukankah ada tamsil yang berbunyi;
“Sekali musim berubah, setiap itu pula tepian berpindah”.

Demikian pula di dalam dunia politik misalnya, ketika kontestasi politik usai dan pemenangnya telah pula ditentukan, biasanya kelompok pemenang dan pendukung dengan sendirinya akan menjadi Ordal di dalam sistem yang baru terbentuk. Sementara kelompok yang kalah mesti rela dan ikhlas menjadi kelompok yang berada di luar sistem, inilah yang kerapkali membuat para pecundang menjadi limbung.

Bagi yang idealis dan konsisten, mereka lebih merasa terhormat menjadi oposisi, walaupun dalam sistem demokrasi yang kita anut tidak mengenal istilah oposisi.
Bagi yang cenderung pragmatis atau memiliki kepentingan jangka pendek, tentu akan berupaya dengan berbagai cara, bahkan bila perlu dengan melakukan pendekatan atau “tawar-menawar” politik, supaya dapat masuk untuk menjadi bagian dari koalisi pemenang, dan sekaligus menjadi Orang Dalam tentunya.

Dalam kondisi seperti inilah sesungguhnya idealisme dari seorang politisi atau kelompok kepentingan sedang menghadapi ujian, setidaknya ujian dalam mendengar dan menyahuti bisikan nuraninya.

Walaupun terkadang tanpa disadari, bahwa Ordal juga akan mengalami keadaan pasang-surut, bahkan terdampak arus, ketika pada akhirnya siklus perubahan terjadi. Dengan kata lain, masa “keemasannya” sebagai Ordal akan tergilas pula bersamaan dengan berakhirnya periodesasi sang pejabat atau tokoh yang dijadikannya sebagai tempat bergayut, setidaknya selama kurun waktu lima tahun.

Sepanjang kiprahnya, setidaknya ada dua theme lagu yang akan dinyanyikan para Ordal menyertai fase awal dan fase berakhir dirinya sebagai “Orang Dalam”, yaitu nyanyian romantis dan nyanyian miris. Kedua theme lagu tersebut akan mengalun sendu mengiringi perjalanan menuju tapal batas waktu.
Kata orang bijak; “Tiada yang abadi, kecuali perubahan itu sendiri”.
Dan kita senantiasa berada di dalam pusaran perubahan yang akan terus terjadi.

Wallahu a’lamu bisshawab.

(Zulkifli Abdy, Banda Aceh, 25 Juli 2024).

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Wisata Silaturahmi

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00