Dengarkan Artikel
Oleh Tabrani Yunis
Ada pepatah lama yang berbunyi begini, “ Sekali merangkuh dayung, dua, tiga pulau terlampau”. Juga ada satu lagi yang berbunyi begini, “ Sambil menyelam, minum air”. Kedua pepatah itu, mungkin relevan dengan apa yang penulis bersama keluarga lakukan selama beberapa hari berada di Pasaman Barat, Sumatera Barat awal Juli 2024. Sebuah perjalanan silaturahmi mengunjung keluarga dan sekalian momen wisata memanfaatkan masa liburan sekolah anak-anak, yang kata mereka just for fun. Namun, bagi penulis, not only for fun, but for knowledge and experience. Ya, untuk menambah pengetahuan mengenai wilayah dan objek wisata yang menarik. Karena perjalanan dari Banda Aceh hingga Pasaman Barat melewati banyak tempat dengan suasana yang berbeda-beda.
Lalu, apa kaitan dengan kedua pepatah di atas yang mungkin pula kedua pepatah itu memiliki makna berbeda. Namun, apa yang penulis ingin sampaikan bahwa sekali bisa ke Pasaman, harus bisa dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan dan tujuan. Ya, silaturahmi yang membawa banyak manfaat bagi penulis dan sekaligus membahagiakan anak-anak. Jadi juga dikatakan multipurpose.
Setelah istirahat dari perjalanan panjang lewat darat darı Banda Aceh ke Pasaman yang melewati jalur Barat, Banda Aceh- Subulussalam, masuk jalur tengah ke Sidikalang, Mandailing Natal ke Pasaman Barat yang melelahkan, maka pada hari kedua di Pasaman, usai bercengkrama dan bercerita melepas rindu, kegiatan just for fun pun mulai dilakukan. Hari kedua di Pasaman, tepatnya hari Selasa.2 Juli 2024, pukul 11.00 WIB kami bersama keluarga bergegas naik ke mobil. Tujuan hari itu, berwisata ke sebuah objek wisata yang sangat terkenal di Pasaman Barat, Sumatera Barat.
Dalam perjalanan yang tidak begitu lama ke lokasi objek wisata itu, kepada kami diinformasikan sedikit mengenai objek wisata yang sedang kami tuju. Objek wisata itu bernama Ikan Larangan Lubuk Landur, sebuah objek wisata yang juga disebut sebagai objek wisata religi. Sebutan yang pasti berkaitan dengan ritual agama, Itulah yang terbayang di alam pikiran penulis.
Dalam hitungan beberapa menit, melewati jalan yang tidak begitu besar, kami tiba di lokasi. Ketika tiba, lokasi itu tidak begitu menggambarkan sebagai lokasi wisata yang terkola dengan baik. Kesan itu muncul, karena tidak ada tanda-tanda yang menarik perhatian pengunjung. Untuk tempat parkir kedaraan saja sangat sempit, hanya bisa parkir 6 mobil. Buktinya, kami harus parkir berlapis, yang kalau mau keluar, harus memang Gil pemilik mobil yang memarkir di depan mobil kita. Sehingga, dalam hati bertanya mengapa lokasi wisata religi yang sangat menarik ini tidak dikelola dengan lebih baik? Ya, itu hanya pertanyaan dalam hati saja yang mungkin perlu dikaji juga.
Nah, usai memarkir mobil, kami masuk ke lokasi. Ada dua jalan masuk rupanya. Namun jalan masuk ke lokasi ikan larangan itu juga sempit. Kita pun sebenarnya tidak perlu memasukan mobil ke area itu. Bagus sekali kalau ada lahan parkir di pinggir jalan, dan pengunjung cukup melangkah hanya dalam hitungan meter saja dengan mata tertuju ke sebuah masjid atau mungkin surau yang terbuat dari kayu dan kelihatan sudah dimakan usia. Surau yang menjadi pusat kegiatan beribadah bagi penduduk di kampuang itu dan para pengunjung yang datang berkunjung hingga waktu salat.
📚 Artikel Terkait
Rasa penasaran kami yang berkunjung memuncak ketika melihat sebuah sungai yang tidak terlalu besar. Sungai yang berbatu-batu besar yang airnya mengalir jernih dari hulu. Airnya dangkal dan tidak membahayakan bagi anak-anak yang mandi bersama gerombolan ikan-ikan yang panjangnya sekitar 30 – 40 cm itu. Karena kita bisa menyaksikan anak-anak yang mandi dalam kerumunan ikan itu dengan tidak ada satu ikan pun yang menyerang. Anak-anak, orang devasa yang mandi dengan sangat bersahabat dengan ikan-ikan yang disebut dengan ikan larangan Lubuk Landur. Kalau orang Minang mengucapkan dengan kata “Lubuak Landua”. Yang juga merupakan nama tempat.
Apa yang menarik dinikmati di lokasi ini? Untuk menjawab pertanyaan itu, tentu tidak mutlak satu jawaban. Masing-masing orang akan punya sensasi sendiri-sendiri. Namun, ketika mendengar kata ikan larangan, muncul lah rasa ingin tahu atau curiosity para pengunjung. Apa itu ikan larangan? Seperti apa ikan larangan itu? Sebesar apakah ikan-ikan itu? Bisakah dipancing, lalu bisakah dibakar atau dipanggang sambil buat kemah di lokasi yang sejuk itu?
Masih banyak lagi pertanyaan yang keluar darı rasa ingin tahu tersebut. Apalagi ketika kita mendengar cerita bahwa ikan-ikan di tempat itu sudah hidup ratusan tahun, tidak boleh dipanen, karena bisa celaka dan sebagainya. Bukan hanya itu, Anehnya seperti diceritakan banyak orang, ikan-ikan tersebut tidak berpindah dan sangat jinak. Padahal ketika musim hujan, banjir melanda, ikan-ikan tersebut tetap saja di lokasi yang sama. Sangat penasaran, bukan?
Ya, memang terasa sangat penasaran karena tidak masuk di akal, tapi Itulah faktanya. Oleh sebab itu tidak salah pula keberadaan ikan-ikan larangan itu sangat menyenangkan hati pengunjung, baik anak-anak maupun orang dewasa. Orangtua yang membawa anak-anak pun tanpa terasa banyak mengeluarkan uang untuk melalaikan diri atau Anak mengundang ikan-ikan itu merapat mendapatkan makanan.
Bukan hanya hati orang-orang yang berkunjung merasa senang dan terhibur, masyarakat di sekitar sungai atau lubuk itu pun merasakan nikmat. Apa nikmat bagi masyarakat, Yang jelas kegiatan ekonomi berjalan. Dengan menjalankan berbagai macam makanan untuk diberikan kepada ikan-ikan di dalam sungai tersebut, mereka juga menyediakan makanan-makanan kecil untuk para pengunjung yang datang silih berganti ke tempat itu.
Ada banyak cerita mengenai ikan larangan ini. Cerita -cerita itu bisa kita dengar dari mulut ke mulut, mungkin juga dari cerita di radio, televisi dan juga di media sosial dalam berbagai perspektif dan kedalaman cerita. Namun, datang langsung melihat darı dekat dan bertanya kepada narasumber utama di kawasan itu tentu lebih memuaskan dan menyenangkan. Oleh sebab, itu bila para pembaca berkunjung atau berwisata ke Pasaman Barat, ada baiknya sediakan waktu untuk berkunjung ke objek wisata ikan larangan Lubuk Landur. İni perlu untuk mengobati rasa penasaran seperti yang dipaparkan di atas.
Seperti kata pepatah Aceh, tajak beutrouk, takalon beu deuh. Bek rugoe meuh saket hate. Silakan diterjemahkan sendiri dan Selamat berwisata ke Destinasi wisata ikan larangan Lubuk Landur.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






