POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Perokok Pemula Semakin Menggila?

Tabrani YunisOleh Tabrani Yunis
July 13, 2024
Perokok Pemula Semakin Menggila?
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Tabrani Yunis

Sudah berhari-hari tulisan ini tidak selesai-selesai. Kok saya merasa mentok alias kehilangan mood ya. Ibarat para perokok yang tidak punya rokok. Padahal ada keinginan untuk menyelesaikan dua tulisan mengenai pendidikan yang sudah beberapa hari tersimpan di Notes HP. Namun, setelah selesai menyantap satu porsi nasi dan secangkir air seduhan teh telong, tulisan itu masih belum tersentuh. Biasanya, kalau draft tulisan sudah ada, ya tinggal melanjutkan. Sayangnya, pagi ini tidak begitu lancar. Maka, penyelesaian tulisan itu kembali tertunda, karena ada kewajiban sebagai orangtua yang harus segera dilaksanakan, yakni mengantar anak ke sekolah.

Dengan sedikit mengingat ke belakang. Hari itu , anak  saya yang kedua, Aqila Azalea Tabrani Yunis yang baru tamat SD dan belajar di SMP, tidak diantar ke sekolah, tetapi ke halaman masjid Babussalam, di Lam Ujong, Aceh Besar. Aqila ikut kegiatan sekolah berwisata ke PLTD Apung dan ke Taman Malaka. Mereka berwisata dan berenang.  Kegiatan yang sangat disukai Aqila. Penulis pun langsung menuju POTRET Gallery untuk mengawasi staf yang membuka toko. Sambil menunggu mereka mengeluarkan barang, penulis duduk di atas ambal terbuat dari seagrass dan eceng gondok. Mulai melanjutkan tulisan itu, namun tak berapa lama, datang kantuk menyapa. Namun, rasa kantuk itu dilawan dengan bangun dan bergerak. Kelihatannya sulit, akhirnya mengambil sepeda dan dikayuh sejenak melewati beberapa warung kopi di jalan Prof. Ali Hasyimi, Pango Raya. Hasrat hati ingin duduk di Solong Jepang, hati berbalik dan tertuju ke cafe Cut Ayah, untuk meneguk segelas jahe hangat dan rebusan ketela. Ternyata, tulisan itu masih terbengkalai dan penulis membaca beberapa tulisan di Kompas.id.

Ketika membaca, muncul ide lain untuk ditulis. Ingatan melayang-layang ke sebuah kawasan yang sering penulis lewati saat pagi dan sore hari, kala mengantar dan menjemput anak dari sekolah. Penulis selalu menyaksikan  pemandangan yang mengganggu pikiran dan hati, kala melihat ramai sekali siswa yang membeli dan merokok di kios-kios di pinggir jalan itu. Mereka memarkirkan sepeda motor di sisi jalan yang sering mengganggu lalu lintas. Ada yang sambil dudukmerokok di tempat itu, ada pula yanh sambil berdiri dengan asap rokok yang mengepul dari hidung dan mulut, ada pula yang sedang membeli rokok serta yang datang memarkirkan kendaraan.

Ini hanya pemandangan di satu sudut kota kecil yang bernama Banda Aceh. Pemandangan seperti ini semakin banyak dan tak terhitung lagi, hingga sulit didata oleh BPS sekali pun. Mereka adalah para perokok pemula yang terus bertambah dan menggunung. Sehingga kondisi ini benar-benar menimbulkan rasa prihatin yang mendalam. Betapa tidak, mereka yang saat pagi harus cepat masuk ke sekolah, malah menghabiskan waktu merokok di tempat itu. Begitu pula saat waktu pulang sekolah, banyak yang nongkrong dan mengisap rokok.  Sungguh sangat memprihatinkan.

Sayangnya, mereka yang masih berstatus siswa SMP atau SMA itu, bisa dengan bebas membeli dan mengisap rokok di tempat itu. Tidak ada satu orang pun yang bisa menjalankan fungsi social control. Tidak ada yang mau dan berani menegur, apalagi mengusir agar mereka segera ke sekolah atau supaya tidak merokok. Ya, tidak ada seorang pun yang ambil peduli. Seakan para siswa ini memang sudah saatnya merokok, seperti layaknya orang tua atau orang-orang dewasa. Mungkin begitulah kondisi tali asabat social control masyarakat kita sebagai lembaga pendidikan ketiga yang semakin renggang dan hilang. Tak ada lagi rasa segan, apalagi adab antara sesama.

📚 Artikel Terkait

LULUSAN BK BISA KERJA DIMANA SAJA?

Kesetiaan Lelaki dan Martabat Bangsa

Ketika Pohon Bicara

Menggali Makna Banjir Aceh

Wajar saja kalau semakin banyak pelajar yang mulai dan telah menjadi pencandu rokok di Indonesia. Mereka telah berkontribusi besar terhadap peningkatan jumlah perokok pemula di negeri yang berpenduduk terbanyak ke empat di dunia ini.  Sayangnya, kita sulit mencari data terkini. Namun, perlu mencari data mutakhir  itu.  Kompas.id  telah memberikan gambaran hasil  Riset kesehatan dasar, prevalensi perokok anak usia 10-18 tahun meningkat dari 7.2 persen. Kompas.id edisi 29 Juli 2022 memaparkan bahwa jumlah perokok anak naik signifikan sebanyak 8 juta orang selama 10 tahun terakhir. Darurat perokok anak semakin mencemaskan. Sebagian perokok mulai merokok sejak di usia belia. 76 persen perokok, bahkan mulai merokok pada usia di bawah 18 tahun. Gil’s bukan?

Ya, memang gila dan bahkan menggila. Bayangkan saja, meningkatnya jumlah perokok pemula saat ini menjadikan masalah merokok di kalangan anak-anak, remaja dan pelajar telah menjadi masalah serius yang harusnya mendapat perhatian khusus dari semua stakeholders,orangtua, masyarakat, sekolah dan pemerintah. Sangat diharapkan  perhatian serius dari semua pihak, mengingat dampaknya yang begitu besar bagi masa depan anak, generasi bangsa yang sedang bermimpi menggapai masa Indonesia emas di tahun 2045 mendatang. Berbagai risiko menghadang, terutama risiko kesehatan, ekonomi dan pendidikan yang menyebabkan mereka kehilangan masa depan yang sehat, kuat dan dan cerdas, karena merokok berdampak pada kesehatan tubuh, termasuk syaraf, jantung, dan paru-paru.  Lalu, generasi apa yang akan mampu mewujudkan impian Indonesia emas itu?

Ya, sekali lagi penting dan harus segera dicari cara untuk mengerem. Sebab, kondisi ini seperti semakin dibiarkan terus bertambah. Apa karena generasi muda memang menjadi objek pemasukan dari sektor rokok yang sangat progresif dan menguntungkan secara ekonomi saat ini dan di masa mendatang? Selayaknya kita bergerak cepat dan serius, tidak mĂĽnafik atau hipokrit dalam menangani masalah ini.

Dikatakan demikian, sesungguhnya peningkatan jumlah prevalensi anak dan pelajar merokok, tidak bisa  disalahkan anak sebagai faktor internalnya. Memang secara psikologis, masa remaja adalah masa krusial di mana anak-anak masih sangat suka dan ingin mencoba apa yang mereka lihat di dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Mereka mengenal dan tertarik untukemgisap rokok karena mencontoh dari perilaku orangtua, guru, dan masyarakat umum. Bagaimana orang tua, guru dan masyarakat bisa melarang anak merokok, kalau orangtua, guru dan masyarakat umum terus merokok? Apalagi mitos-mitos merokok ikut menambah keinginan anak atau pelajar memulai dan adiktif terhadap rokok.

Agaknya, tidak ada arti peringatan bahaya merokok yang tertera di setiap bungkus rokok, atau larangan merokok di sekolah, apabila semua pihak tidak serius dan terus memelihara kemunafikan. Di satu sisi, para pelajar dilarang merokok, di sisi lain daya tarik iklan rokok mengalahkan semua upaya, termasuk niat pemerintah untuk mengurangi jumlah perokok anak dan pelajar di tanah air.

Tentu selalu ada jalan atau solusi untuk bisa mengurangi, bila tidak bisa menghentikan budaya merokok di kalangan anak maupun remaja. Kuncinya adalah semua pihak harus konsisten berupaya mengatasi masalah ini. Pertanyaannya adalah maukah kita serius dan konsisten? Bila komit dan konsisten, ada banyak hal dan cara yang dilakukan bersama secara berkelanjutan.  Harus dimulai dari orangtua. Orang tua harus menjadi contoh yang baik dengan tidak merokok di depan anak-anak mereka. Lalu, di lingkungan sekolah, peran sekolah semakin penting. Pokoknya semua pihak harus aktif bergerak bersama secara konsisten menghentikan aktivitas anak dan remaja merokok. Insya Allah bisa.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tabrani Yunis

Tabrani Yunis

Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Melacurkan Bait-Bait Puisi

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00