Dengarkan Artikel
Oleh Aksa Zabarnushy Azhar
Kelas III SMA Darul Quran, Aceh
“Siapa sih yang tidak ingin dibelikan HP? Pastinya semua anak ingin. Nah, saya termasuk di dalamnya. Sejak kelas 6 SD, saya sudah mulai meminta orang tua saya untuk membelikan HP, tapi mereka bilang saya masih terlalu kecil dan belum boleh memiliki HP. Di sini saya kesal, masa iya tidak dibelikan malah senang.
Lanjut ke jenjang SMP, sejak kelas 1 SMP saya sudah mulai merengek minta dibelikan HP. Namun, orang tua saya tetap kekeh tidak membelikan dengan alasan yang sama, yaitu saya masih terlalu kecil. Di sini saya mulai berpikir, ‘Masa iya masih kecil? Kan sudah masuk SMP.’ Saya mulai iri dengan teman-teman lain yang sudah dibelikan HP, sementara saya masih berjuang meminta dibelikan.
Akhirnya, saya berpikir, ‘Tidak enak ini tidak ada kepastian, apa saya buat kesepakatan saja dengan orang tua?’ Dengan memantapkan hati, saya berkata kepada orang tua, ‘Boleh tidak kalau saya dibelikan HP saat mau masuk kuliah?’
Yang tidak saya sangka, mereka langsung mengiyakan. Catat, langsung diiyakan. Di sini saya sangat senang. Rasanya lega sudah pasti kapan dibelikannya.
Tiba-tiba saya terpikir , ‘Lah, terus 5 tahun ke depan gimana nih? Masa saya be gong-bengong saja.’ Sempat terpikir untuk menyesal, tapi rupanya ayah saya tahu kalau saya memerlukan HP untuk sekadar komunikasi. Jadi solusinya apa?
📚 Artikel Terkait
Yup, saya diberi HP bekas. Kata ayah, ‘Lumayan lah untuk 5 tahun ke depan kamu jadi punya HP kan?’ (sambil tersenyum). Saya juga hanya bisa tersenyum. Akhirnya saya pakai HP itu. Kurang lebih lah. Yang penting masih bisa dipakai. Lanjutlah hidup saya menggunakan HP itu. Untuk HP ini masih bisa narik Mobile Legends, jadinya tidak terlalu menyedihkan. Masih bisa mengikuti zaman. HP ini sangat berjasa. Menjadi alat komunikasi, teman tidur, ‘buku’, dan lain-lain.
Sampai akhirnya saya menjejak di kelas 3 SMA. Di sini saya teringat dengan kesepakatan dulu yang membuat saya berpikir, ‘Dah akhir ni, kira-kira sudah boleh minta tidak ya?’ Namanya sudah menunggu lama, pastinya sudah tidak sabar. Langsung saya gas minta pada orang tua.
Awalnya, ayah saya tampak keberatan. Saya merasa tidak enak, ‘Emang masih belum boleh ya? Kan sudah kelas 3 SMA.’ Rupanya diberikan. Lalu saya request merek, eh tidak tahunya malah panjang urusannya (tidak usah diceritakan ya, panjang sekali).
Setelah berbicara ini dan itu, debat ini dan itu, akhirnya ayah berkata, ‘Ok, ayah belikan, tapi ayah mau pastikan dulu apakah abang udah siap pegang HP.’ Saya bilang, ‘Sudah siap kali ini, 6 tahun penantian, masak belum siap.’ Lalu ayah bilang lagi, ‘Lah, yang menentukan siap tidak siap itu Ayah, bukan kamu. HP ini harus dipakai untuk mencari informasi tentang perkuliahan abang, jangan asik dengan game saja.’ Sambil berlalu saya berpikir, ‘Kurang siap apa lagi coba?’
Rupanya ayah saya ingin lihat kalau saya sudah bisa mengontrol diri. Apakah kalau megang HP, lalai atau tidak. Saya tunjukkanlah kalau saya sudah siap. Saya main secukupnya, belajar sebanyaknya, ngaji yang lama.
Tidak tahunya suatu sore selepas shalat ashar ayah berkata, ‘Kamu harus janji kalau ayah belikan HP nanti kamu harus tetap begini ya. Jangan malah berhenti setelah ayah belikan.’ Saya hanya mengangguk-angguk. Lalu ayah berkata lagi, ‘Coba berdoa dulu, mana tahu langsung ada HP-nya.’ Saya kira di sini ayah saya bercanda, ya sudah saya ikuti. Saya berdoa dengan khusyuknya sambil memejamkan mata.
Eh, tiba-tiba ada paket sampai ke rumah. Ayah saya keluar untuk mengambil paket itu. Saya? Saya masih lanjut berdoa karena saya kira ayah saya masih memperhatikan saya (gak boleh ditiru ni teman-teman, berdoa itu harus ikhlas ya, bukan karena diperhatiin orang tua).
Lalu ayah masuk lagi sambil bawa paket tadi. Lalu bilang, ‘Yuk, bang, kita unboxing.’ Ya, saya tidak curiga lah. Kan memang biasanya gitu kalau ada paket kita bukanya sambil unboxing gitu kan? Sambil direkam kan? Tanpa pikir panjang saya ambil paketnya. Saya bantu ambilkan HP ayah dan berikan ke beliau untuk direkam dan saya mulai membuka paketnya.
Pas sudah dibuka kardusnya baru nampak isinya. Apa? Ya, kamu betul. Isinya HP! Sekali lagi, isinya HP! Nah, di sini saya mencoba untuk cool saja, padahal hati sudah senang banget. Lalu saya pegang HP baru itu sambil berpikir, ‘Akhirnya penantian saya 7 tahun terakhir terbayarkan.’ Saya atur sini, saya atur sana. Akhirnya HP itu ready untuk dipakai. Hahhh (maksudnya lega gitu). Begitulah kira-kira bentuk ekspresi saya. Tak lupa saya ucapkan terima kasih. Lalu saya mainkan HP itu. Rasanya seperti dream comes true. Tahu tidak rasanya? Enggak? Makanya dirasakan biar tahu. Sekian.”
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






