Oleh Nita Juniarti
Aku mencintamu
dengan kecemasan sekat dada yang kosong,
Sanggupkah kau tahu, seperti Aku yang merindui dengan tikaman sepi?
Cuma, pada galau menyiksa
Menderu badai memporakkan harapan
meletakkan bunga layu pada jaring angin
sunyi yang merindu menyimpan bayangan menari-nari
buku menguning terpatri “habis gelap terbitlah terang”
Mengingat perbincangan dalam gerimis
musik dangdut penyerta menggoyang kaki dan kepala.
dalam gerimis menjelma pikiran-pikiran meruncing menikami ubun kepala
Obrolan mengalir melewati parit-parit.
merembes ke tanah
Galau itu beriak dalam matamu
entah apa yang membuatmu luka?
Wahai perempuan pembebas wanita
Tuban, 13 November 2023
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 342x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 312x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis.
Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.















