POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Melihat Sisi Lain Kaum Remaja

RedaksiOleh Redaksi
September 23, 2023
Mewaspadai Cyberbullying Pada Anak
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Nelliani M.Nur

Guru SMA Negeri 3 Seulimum, Aceh Besar

Masa remaja merupakan periode unik dari tahapan perkembangan seorang anak. Fase ini adalah masa-masa pencarian jati diri dengan emosi dan perilaku yang sulit dimengerti. Terkadang sikap anak-anak berusia tanggung ini membingungkan,  bahkan menjengkelkan. Tak ayal orang tua dan guru merasa patah arang menghadapi tingkah mereka. Namun, di balik sikap yang demikian tersimpan sisi lain yang jarang orang memahaminya.

Sebagai pengajar di Sekolah Menengah Atas, penulis sering kali menghadapi tingkah siswa yang tidak habis pikir, bisa jadi dialami juga oleh guru lain. Ada orang tua sudah putus asa dengan sikap anaknya, mengadu pada wali kelas. Menyerahkan apa pun keputusan pada sekolah. Di pihak guru pun sama, tidak mudah mengambil sikap. Untuk berbagi pengalaman, penulis kisahkan di tulisan ringkas ini.

Sekolah kami memiliki dua peserta didik yang terbilang “unik”. Keduanya berbeda tingkatan kelas. Seorang siswi sebut saja namanya Hayatun, saat ini berada di tingkat akhir, dan satu lagi siswa junior sebut saja Doni, yang merupakan siswa kelas sepuluh tahun ajaran sekarang. Dua-duanya punya kasus sama, sama-sama membingungkan guru dan orang tua. Baiklah, penulis mulai dari yang paling senior.

Hayatun anak yang rajin juga cerdas. Menurut wali kelas, selama di kelas sepuluh tidak ada catatan negatif apa pun. Kecerdasannya paling menonjol di sains dan matematika. Sikap pendiam dan tertutup membuat Hayatun tidak punya banyak teman. Meskipun begitu, tidak ada teman sekelas yang membully karena mereka memahami sifatnya.

Sejak kelas sebelas, anak ini berubah. Jarang sekolah, sering terlambat, jarang kumpul tugas serta nilainya turun drastis. Banyak guru mengeluh karena kehadiran yang kurang berdampak pada tidak terpenuhinya syarat ketuntasan. Tak terhitung berapa kali teguran, peringatan, panggilan orang tua sampai home visit. Kelakuannya tidak berubah, remaja manis ini masih sering bolos dengan alasan yang sulit dimengerti.

Apa pasal dia berubah. Hayatun minta ibunya membelikan sepeda motor. Dia tidak nyaman pergi sekolah dengan berjalan kaki karena sering diejek dan ditertawakan. Meskipun orang tua dan guru sudah menasehati sekolah lebih penting dari sepeda motor, siswi berkulit sawo matang ini bergeming. Dia berjanji akan rajin sekolah jika sudah punya sepeda motor.

Karena sering tidak hadir, sekolah terpaksa mengambil kebijakan menunda kenaikan kelas. Anehnya, dia terima dan rela menunggu setahun sampai memiliki kenderaan.

Seperti janjinya, Hayatun dengan percaya diri kembali sekolah. Meski harus belajar setahun lagi di tingkat yang sama dengan adik kelas, bukan masalah. Hal itu tidak membuatnya canggung dan malu. Malah dia berprestasi dengan meraih juara kelas.

Sebagaimana Hayatun, begitu pula Doni. Pertama kali bertemu, penulis mengagumi anak ini. Dibandingkan lainnya, Doni punya otak lumayan encer. Penulis sering mengujinya dan dia mampu memberikan solusi cerdas. Anak ini memiliki kecerdasan matematis logic.

📚 Artikel Terkait

Berlayar Melanjutkan Jejak, Meski Nahkoda Telah Berpindah Dermaga

Apa Kabar Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh Menuju 100 Hari Kerja?

HABA Si PATok

Demokrasi Sebagai Topeng

Penulis terkejut mendengar remaja cerdas ini harus tinggal kelas. Penyebabnya sama, ketidakhadiran yang tidak bisa ditoleransi. Ibunya pasrah, wali kelas kehabisan akal. Doni tetap ingin mengulang pelajaran di tahun berikutnya. Alasannya, menunggu teman yang masih di tingkat akhir sekolah menengah pertama.

Bagi orang umumnya, alasan itu terdengar aneh, namun bagi pelajar yang hobi main game ini sangat masuk akal. Doni setia pada teman sepermainan. Menurutnya, jika mereka bisa seleting di sekolah yang sama, tentu bisa berangkat dan pulang bersama. Belajar pun terasa menyenangkan dan seru.

Akhirnya, di tahun ajaran ini Doni dan sohibnya seangkatan. Ia kian rajin sekolah, tidak ada hal yang membuatnya kena tegur. Dia lebih bersemangat belajar, terutama pelajaran eksakta yang menjadi bakatnya.

Kasus tersebut atau yang serupa merupakan representasi perilaku yang muncul pada masa remaja. Remaja menunjukkan sikap melawan atau memberontak pada kebiasaan yang berlaku. Anak-anak ini berani membuat keputusan yang menurutnya baik, meskipun terkadang memusingkan orang tua. Mereka teguh pada pilihannya tanpa memikirkan resiko yang akan terjadi.

Remaja

Para ahli menyatakan periode remaja berkisar antara 12 sampai 18 tahun. Di rentang usia ini terjadi banyak sekali perubahan secara fisik, emosional maupun sosial. Pada fase ini remaja sedang berada pada proses pencarian identitas diri. Mereka senang mencoba hal baru, punya rasa ingin tahu yang tinggi, penuh gejolak emosi serta menunjukkan perilaku yang berubah-ubah.

Sebagian orang tua merasa kerepotan menghadapi remaja. Buah hati yang  saat kecil merupakan anak manis dan penurut, sejak beralih ke usia remaja menjadi sulit diatur dan suka menentang. Alih-alih mendengarkan, mereka sering membuat keputusan sendiri yang berlawanan dengan kehendak orang tua atau kelaziman yang ada.

Perubahan tersebut membuat orang tua bingung dan hilang kesabaran. Tidak sedikit orang tua mencap si anak sebagai anak nakal dan karenanya dia berhak dihukum. Ada juga orang tua yang pasrah saja pada kemauan anak dari pada harus beradu dengan mereka.

Sayangnya, perbedaan itu tak jarang memicu konflik. Orang tua beranggapan mereka lebih paham segala sesuatu sehingga cenderung memaksa anak untuk patuh. Di sisi lain remaja merasa punya hak menentukan pilihan. Jika kondisi tersebut tidak ditanggapi dengan bijak dan sabar, dikhawatirkan akan menjadi bumerang yang membuat anak semakin menjauh dan memisahkan diri.

Perilaku memberontak pada remaja bukan tanpa alasan. Mereka ingin menunjukkan pemisahan dari orang tua atau figur otoritas lainnya. Anak ingin menegaskan dirinya bahwa ia bisa mengambil keputusan sendiri. Dia merasa lebih paham apa yang dia butuhkan untuk diri dan masa depan.

Namun, tak banyak orang sadari di balik sikap keras kepalanya, remaja adalah pribadi bertanggung jawab. Mereka berani berbuat, berani juga menanggung konsekuensi dari setiap pilihan yang diambil.

Dari kisah Hayatun dan Doni, mengulang pelajaran setahun lagi adalah konsekuensinya. Dan mereka siap menerima itu, menjalaninya dengan lebih baik lagi. Di sini kita belajar, terkadang sikap memberontak pada remaja tidak selamanya negatif. Anak memberontak karena ia hanya ingin didengar dan dipahami. Ada persoalan yang mungkin terlalu penting baginya dan orang tua tidak mampu merasakan itu. Selama ini orang tua melihat dari kaca matanya saja, tidak pernah mencoba memandang dari posisi mereka.

Untuk itu orang tua hanya perlu meluangkan waktu untuk lebih banyak mendengar dan merasakan. Selanjutnya memberi kepercayaan atas pilihannya. Jika itu ada, remaja akan merasa dihargai dan berusaha tidak mengecewakan orang yang telah percaya padanya.

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 57x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Rafly Kande Sosialisasikan Peran Pertamina Geothermal Berkelanjutan di Aceh Jaya

Rafly Kande Sosialisasikan Peran Pertamina Geothermal Berkelanjutan di Aceh Jaya

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00