POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Manggamat Di Ambang Kehancuran Akibat Tambang

RedaksiOleh Redaksi
July 17, 2023
Manggamat Di Ambang Kehancuran Akibat Tambang
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Darmawan 

Tapaktuan – Harmaili (44), penduduk asli Manggamat, Kecamatan Kluet Utara, Kabupaten Aceh Selatan, menceritakan bahwa pada tahun 1990-an, Krueng Kluet atau dalam Bahasa Kluet disebut Lawe Manggamat dari pengujung Gampong Simpang Tiga Manggamat hingga ke muara sungai antara Gampong Jambur Papan – Malaka, sungai tersebut sangat indah, jernih, dan sejuk.

Kedalaman sungai yang nampak biru dengan ikan-ikan kerling, juloh, dan lain-lain luar biasa banyaknya. Tetapi, lanjut Harmaili, tepat pada era tahun 1990-an, mulailah yang namanya musim kayu/sinso (chainsaw), luar biasa maraknya menebangi kayu di mana-mana. Entah itu yang dinamakan ilegal logging, kita pun tidak tahu.

Namun apa yang terjadi hingga belasan tahun kemudian, sebut Harmaili, sehingga sedikit demi sedikit dan lambat laun sungai Manggamat mulai mengalami pendangkalan. Ikan-ikan kerling juga mulai berkurang.

“Teringat pelajaran waktu di sekolah, jangan menebang kayu sembarangan, akan terjadi banjir dan lain sebagainya kita pun waktu itu tak peduli kali,” cerita Harmaili.

Harmaili menambahkan bahwa kesimpulan yang diceritakan tersebut, perusahaan tambang yang beroperasi tepatnya di hulu sungai Manggamat tanpa memikirkan dampak dari pengerokan tanah buangan tambang tersebut.

“Hasilnya Lawe Manggamat persis seperti kubangan lumpur dan keruh (meletok). Bahkan di kala hujan deras,  di benak kami was-was rasa ketakutan akan terjadi banjir bandang, karena gampong tempat kami tinggal berdekatan dengan lokasi tambang tersebut,” Harmaili mengakhiri ceritanya.

Harmaili selaku pribadi sangat tidak setuju jika tambang itu dibiarkan begitu saja berproduksi tanpa pengawasan dari instansi terkait terhadap kerusakan lingkungan.

Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Pemuda Pelajar Pasie Raja (IMP3), Aulia Rahman, menolak keras tarhadap hadirnya aktivitas tambang yang merusak lingkunagn di Manggamat.

Menurut Aluia, selain meresahkan dan merugikan warga, eksploitasi perusahaan tambang tersebut juga merusak ekosistem lingkungan daerah setempat.

“Untuk itu, kami mengajak seluruh elemen masyarakat, ormas untuk sama-sama bergandengan tangan, menolak dan menghentikan operasi tambang di Aceh Selatan,” ajak Aulia.

Seperti yang kita ketahui, hadirnya eksploitasi penambangan bukan menjadi manfaat untuk kemakmuran ekonomi masyarakat Aceh Selatan, akan tetapi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat.

Penambangan tersebut seringkali tidak dioperasikan dengan standar yang ketat atau tidak mematuhi peraturan lingkungan. Aktivitas penambangan ini dapat menyebabkan penggundulan hutan, dan degradasi lahan yang merusak ekosistem alam.

📚 Artikel Terkait

Salam Ultah

You Only Die Once

Diskominfotik Kota Banda Aceh Ikuti FGD Migrasi TV Digital Indonesia

Waspada Kemunduran Iman

Selain itu, penggunaan bahan kimia berbahaya tanpa pengelolaan yang tepat dapat mencemari air tanah, sungai, dan ekosistem perairan. Tambang ilegal sering menggunakan metode tradisional yang tidak ramah lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan.

Penggunaan bahan kimia beracun seperti merkuri atau sianida tanpa pengelolaan yang tepat dapat mencemari air dan tanah. Penyebab terkontaminasi dengan zat-zat beracun ini dapat menyebabkan masalah kesehatan serius bagi para penambang ilegal dan masyarakat yang tinggal di sekitar tambang.

Forum Peduli Kluet Raya (FPKR), memantau langsung keluhan masyarakat terkait perubahan aliran Laee Manggamat yang berubah warna, pada Sabtu (15/7) di Manggamat.

Ketua Bidang Lingkungan FPKR, Dhamer Syam, menyebutkan bahwa benar aliran sungai Manggamat berubah warna. Artinya, aliran sungai yang semula menjadi bersih dan jernih, kini berubah warna menjadi keruh.

Terdapat satu hal yang menarik, di mana salah satu aliran sungai tersebut terdapat persimpangan aliran yang jernih atau masyarakat setempat lebih mengenal dengan sungai Paya Abo, Gampong Simpang Tiga dan Sungai Alue Baro Gampong Simpang Dua.

“Sedangkan aliran sungai yang keruh atau sungai Air Putih merupakan terusan dari Gampong Simpang Tiga atau turunan dari anak sungai yang hulunya diduga tempat beroperasinya PT BMU. Hasil penelusuran kami, aliran sungai Menggamat memang berubah warna menjadi keruh, sehingga ini akan ditindak lanjuti secara mendalam agar tidak menimbulkan spekulasi negatif,” kata Dhamer.

Dikatakan Dhamer bahwa kita mendengar beragam komentar dari masyarakat, terkait aliran sungai tersebut diduga diakibatkan oleh aktivitas tambang yang sedang beroperasi di area Simpang Tiga Kecamatan Kluet Tengah.

“Sebagai pengurus FPKR, kami tidak mau berspekulasi dulu. Namun, kami akan menindaklanjuti secara mendalam dengan segala bukti dan data yang ada, sehingga nantinya kita dapat melakukan advokasi demi kepentingan masyarakat umum,” tegas Dhamer.

Ketua FPKR, Zulfata menjelaskan bahwa hasil pantauan pengurus FPKR di lokasi membuktikan aliran sungai Menggamat memang berubah warna menjadi keruh, sehingga sangat sukar memanfaatkan air tersebut sebagai kebutuhan sehari-hari.

“Petani yang kami temui juga mengeluh, karena air masuk kepersawahan sudah dalam kondisi keruh,” ucap Zulfata.

Zulfata menegaskan bahwa FPKR akan menindaklanjuti dan membahas dalam forum ini, sehingga akan memperjelas kronologi awal terkait kenapa aliran sungai Menggamat ini bisa keruh.

“Kami akan membahas masalah ini dalam forum Kluet Raya, sehingga apa yang menjadi perbincangan masyarakat terjawab dengan data dan bukti-bukti konkrit,” pungkas Zulfata.

Menanggapi keluhan masyarakat terhadap pencemaran Lawee Manggamat, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Aceh Selatan, merespon keluhan masyarakat Kluet Tengah.

Kepala DLH, Teuku Masrizar S.Hut, MSi, mengaku bahwa pihaknya telah mengambil sampel air sungai di kawasan Gampong Simpang Lhee, Kecamatan Kluet Tengah, Minggu (16/7).

Masrizar menuturkan bahwa tim DLH Aceh Selatan melakukan pengambilan sampel air pada aliran sungai yang nantinya akan dikirim ke laboratorium di Banda Aceh.

“Sampel nanti akan diuji di laboratorium di Banda Aceh. Setelah hasil laboratorium keluar, kami akan melaporkan hasilnya ke pimpinan,” janji Masrizar. (*)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Zulia

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00