• Latest
Retorika Hidup Beragama

Retorika Hidup Beragama

Desember 22, 2022
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Retorika Hidup Beragama

Redaksi by Redaksi
Desember 22, 2022
in Agama, Artikel, Sorotan
Reading Time: 3 mins read
0
Retorika Hidup Beragama
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh : Tri Harsono 

Setelah renaissance, akhir dari jaman gelap Eropa, manusia menjadi pusat. Sebelumnya nalar manusia berbasis pada agama (baca Tuhan). Segala sesuatu harus dipikirkan demi kemaslahatan manusia. Untuk manusia. Humanis. Dalam dunia ilmu akhirnya pun ada ilmu humaniora, psikologi masuk di dalamnya.

Agama sebenarnya hadir demi kemaslahatan manusia (hudan lilmutaqin). Tak relevan untuk mengaitkan kemaslahatan dengan wujud Tuhan. Agama merupakan sistem kanoptik yang tak tergantikan oleh kecanggihan teknologi mutakhir. Sistem pengawasan dari lubuk hati manusia terdalam.

Sebenarnya kritik diarahkan kepada pemeluk agama mana pun. Dan bukan agamanya. Sampai Nietzsche yang ingin membunuh Tuhan, sebenarnya ingin membunuh tafsir manusia yang salah mengenai agamanya. Tafsir yang membuat agama jadi candu. Meninabobokkan. Malah pada akhirnya Tuhan tak perlu dibunuh. Tuhan akan mati dengan sendirinya dengan sains dan teknologi.

Lebih jauh sudah sejak jaman Yunani kuno sudah bergema seruan ke arah kemandirian beranilah berpikir sendiri. Di sisi lain, termasuk pemicu lahirnya demokrasi, telah ada kesadaran tentang pengakuan bahwa manusia itu terbatas. Tapi yang terbatas itu batasnya juga seakan tak bertepi.

Membaca tulisan Pak Haedar, sebenarnya dapat dipandang melalui kacamata bola yang sekarang telah membuat banyak orang kemaruk bola. Intinya ada tiga dalam bola Paradoks, kompetisi, dominasi.

Ada antagonisme dalam bola, bisa bersifat total, meskipun sebenarnya dalam pertandingan persahabatan. Bersahabat dalam permusuhan (lebih tepatnya perlawanan). Tapi juga memusuhi, melawan yang lain yang sebenarnya sahabat. Dari situ siapa yang menang akan mendominasi. Sesuatu yang otomatis.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026

* Qatar, sejauh ini di luar bola, dalam bingkai bola telah tampil sebagai pemenang. Dengan dakwahnya. Tak soal efektif, seberapa efektif.

Bagi para pecundang dalam kompetisi bola akan melahirkan kegelisahan moral. Terutama dari tim yang banyak diunggulkan. Secara hitungan di atas kertas, di atas ramalan, yang Joyoboyo, atau bukan, Messi dkk. mestinya mampu menunjukkan dominasinya. Tapi takdir bicara lain. Sudah pernah terjadi kasus bunuh diri akibat tak mampu menanggungkan beban semacam itu.

Padahal, sebenarnya, melihat mana yang menang mana yang kalah tergantung kacamata yang dikenakan.

Orang bisa saja luput sisi subjektivitas Messi yang secara kasat mata, empiris, ilmu bukti, dia kalah. Padahal, sejatinya Messi larut dalam sikap rendah hati hingga lebih suka memberi kesempatan yang lain untuk menang dominasi.

Isu radikalisme yang terus menerus digemakan, akhirnya juga, sebenarnya dapat dilihat dengan perspektif bahwa ada sementara pihak yang hilang kepercayaan, keyakinannya terhadap jati dirinya yang moderat. Kalau sudah yakin benar bahwa dirinya moderat, kenapa pula perlu menegaskan bahwa yang lain – dulu, imbas dari perang salib ada sebutan saracen, berasal dari kata syarq, timur, yang berarti Islam – radikal.

Sementara, di dunia Islam yang sebenarnya tercabik-cabik oleh isu lokal atau global, dapat disatukan dengan ulah Barat yang secara esensial negatif. Barat sepenuhnya negatif. Potato. Sak karepe dewe. Nggawe rumusan dewe, menunjukkan bebas seperti, “yang ini radikal, yang itu radikul dan yang radikil.” Mana yang maftuh, majrur dan marfu’ , semua ditentukan sendiri tanpa landa

Hidup ini memang absurd. Tapi nikmati saja. Ngopi saja.

 

—– Albert Camus.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 337x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 298x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 248x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 238x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post
SETJUIL KENANGAN BERSAMA IBOE DAN GOEROE

SETJUIL KENANGAN BERSAMA IBOE DAN GOEROE

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com