• Latest
NEGARA INDONESIA

NEGARA INDONESIA

November 10, 2022
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

NEGARA INDONESIA

Redaksiby Redaksi
November 10, 2022
Reading Time: 3 mins read
NEGARA INDONESIA
585
SHARES
3.2k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Fajar

Budaya dan seni tidak lagi hadir memberi kesejukan bagi jiwa yang dahaga, sebab budaya dan seni materialisme sudah menjadi berhala yang  punya potensi menggantikan kedudukan Tuhan. 

Bagaimana mungkin aku bersedih. Jika Ia datang menghibur.

Bagaimana mungkin aku khawatir. Sedang Ia telah memastikan

Bagaimana mungkin aku gelisah. Sedang Ia adalah ketenangan.

Bagaimana mungkin aku sengsara. Sedang Ia menemani.

Bagaimana mungkin aku mengeluh. Sedang Ia memberi karunia.

Bagaimana mungkin aku menjerit. Sedang ia mendengarkan

Bagaimana mungkin aku terkapar. Sedang Ia adalah penyembuh

Bagaimana mungkin aku miski. Sedang Ia Maha Kaya

Bagaimana mungkin aku terkalahkan. Jika Ia memenangkan

(Nyanyian asmara Musa dalam syair Hud-hud)

Dahulu kala pada saat kamu masih bayi, yang pada saat itu harta dan jiwamu dirampas oleh koloni. Pada saat itu kami datang dengan segenap jiwa dan raga untuk melepaskan-engkau dari perbudakan kolonial Belanda. 

Bahkan tidak segan-segan kami menyumbang harta benda untuk dirimu agar tumbuh dan kuat. Kini ketika engkau sudah menjadi R I dengan gagah dan perkasa Engkau lengkapkan diri dengan persenjataan. 

Ironisnya engkau menjajah kami yang dulunya kami besarkan engkau dengan segenap jiwa dan raga kami. Karena kami sudah tua dan usang ini, anak-anak kami engkau adu domba untuk saling menumpahkan darah, yang dulu kita pernah mengikrarkan bahwa kita bersaudara dengan denganmu. 

Dosa apakah yang kami perbuat kepada engkau sehingga begitu bencinya engkau terhadap kami yang menuntut dari dulu sampai sekarang untuk memperbaiki dasar-dasar Negara dan partai-partai politik itu yang dengan partai mereka melahirkan anak-anak korup. 

Kami tidak ingin lagi kekerasan karena kita bersaudara, kami hanya ingin keinsafan engkau untuk segera merawat kami yang sudah tua dan usang ini, karena jika kami meminta untuk merobohkan pancasila dengan menggantikan sebagai Negara Islam Indonesia sudah pasti engkau tidak mau.

Baca Juga

76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
5de97004-0731-46d3-b7a2-38575dadc077

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026

Kami yang sudah usang ini sangat memahami engkau yang sudah buta dalam sinar. Lihat-lah sekarang apa yang sedang engkau rasakan, sedikit-demi sedikit pribumi engkau tergeser dan bahkan tertindas, kami berkeyakinan engkau akan dikuasai lagi oleh asing, yang jika dulu dikuasai oleh Belanda, sekarang engkau akan merasakan dikuasai oleh Kolonial Cina. 

ADVERTISEMENT

Andaipun engkau meminta bantuan lagi kepada kami yang sudah tua dan usang ini, kami tidak bisa lagi membantu engkau, bukan kami tidak cinta terhadap engkau, tetapi karena kami sudah tua dan usang serta generasi kami tidak engkau rawat dengan kejujuran, padahal engkau tau, DNA kami adalah DNA yang kental terhadap jihat di jalan Allah. 

Melihat kalian yang dihina, kitab suci kalian dianggap sebagai alat untuk membohongi, hati kami sangat sedih melihat satu manusia yang menghina agama Islam itu tidak bisa engkau atasi. 

Apa nak jadi kami buat wahai saudaraku, kalau nasi jadi bubur masih ingin kami makan walau itu sudah basi. Tapi ini nasi sudah jadi taik, bagaimana hendak kami makan, sebab yang namanya taik dalam kepercayaan kami haram untuk dimakan. Oh saudaraku R I, sekian dulu tangisan kami yang sudah tua dan usang ini.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 335x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 296x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 278x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 253x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 190x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Kerahasiaan RUU Sisdiknas

The Old Man and The Bus

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com