POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Batu Cave, Bukti Kental Keberagaman Negeri Seberang, Malaysia

Tabrani YunisOleh Tabrani Yunis
March 20, 2022
Batu Cave, Bukti Kental Keberagaman Negeri Seberang, Malaysia
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Tabrani Yunis

Ada sebuah pepatah lama yang seringkali kita dengar di tengah-tengah masyarakat kita, walau sekarang pepatah itu mungkin sudah memudar di telinga kita, sejalan dengan perubahan zaman. Pepatah itu berbunyi, “ Jauh berjalan, banyak dilihat. Lama hidup, banyak dirasa”. Artinya, semakin jauh kita berjalan dan menjalani kehidupan, semakin banyak yang dapat kita lihat atau saksikan. Semakin lama kita hidup, maka semakin banyak hal yang kita rasakan dan kita alami. Pejalanan dan kehidupan yang jauh dan lama itu, akan lebih bermakna apabila bisa memberikan banyak manfaat bagi orang lain. Termasuk perjalanan yang sedang aku dan anak-anak berserta istriku lakukan saat ini.

 Apa yang sedang aku lakukan lewat tulisan ini adalah membuat perjalanan atu tour ke dua Negara bersama dua anakku, Ananda Nayla dan Aqila Azalea Tabrani Yunis serta isteriku Mursyidah Ibrahim, bisa menambah banyak apa yang dilihat, bisa menambah banyak yang bisa dinikmati. Lalu, agar the traveling literacy ini lebih bermakna dan bermanfaat, semua yang dilihat, didengar, dinikmati selama dalam perjalanan yang hanya empat hari ini, aku abadikan dalam tulisan, sebagai pengganti oleh-oleh yang biasanya dalam bentuk barang atau benda. Oleh-oleh yang diberikan kepada teman, sahabat, saudara dan kerabat yang kerap bertanya atau meminta oleh-oleh atau souvenir dari sebuah daerah atau sebuah Negara.

Untuk membeli banyak souvenir atau oleh-oleh di luar negeri, tentu bukan hal yang cukup berat bagi banyak orang, termasuk aku dan keluarga, karena terbatasnya kemampuan finansial dan perbedaan kurs mata uang kita, yakni Rupiah yang nilainya jauh lebih rendah dibandingkan negera-negera lain, seperti di Malaysia dan Singapore. Selain keterbatasan dan perbedaan nilai tukar mata uang, ada persoalan lain yang selalu kita hindari agar jumlah barang yang kita belanjakan tidak membuat bagasi kita overload.  Kalau overload, risikonya adalah akan menambah besar biaya bagasi yang kita bawa. Masalahnya, bagasi kita di pesawat itu mahal. Oleh sebab itu, Aku jadikan tulisan ini sebagai oleh-oleh atau souvenir yang bisa dibagi kepada banyak orang, tanpa harus mengeluarkan dana yang besar. Selain itu, tulisan ini menjadi catatan bagi kedua anakku yang masih kecil. Paling tindak, nanti ketika mereka besar, mereka tidak mengetahui semua objek wisata yang pernah dikunjungi, lewat tulisan ini bisa menjadi pengingat buat mereka. Begitulah caraku membuat pernajalan ke sebuah daerah atau Negara.

Ini adalah perjalanan traveling literacyhari kedua yang diawali dengan mengunjungi The River of life, dekat lapangan Merdeka, Kuala Lumpur dan dilanjutkan dengan mengunjungi Chocolate Kingdom, pusat souvenir coklat yang terkenal di Kuala Lumpur.  Dua tempat yang memberikan pembelajaran yang berbeda. Pesona dan pembelajaran The River of Life, yang memberikan banyak pelajaran tersebut, sudah aku tulis dan posting di Kompasiana dua hari lalu. Sementara the Chocolate Kingdom, menjadi bagi dari tulisan ini.

The chocolate Kingdom, bagiku bukan tempat yang cukup menarik bagiku untuk aku kunjungi, tetapi berbeda dengan kedua anakku, Ananda Nayla dan Aqila Azalea Tabrani Yunis. Bagi mereka, melihat coklat, apalagi berada di dalam chocolate kingdom, mereka merasa histeris dan ingin bisa membeli coklat sebanyak-banyaknya. Mereka, belum mengerti makna perbedaan harga dalam ringgit dengan rupiah. Apalagi ketika mereka melihat harga coklat hanya 150 ringgit, lalu dalam benan mereka ya sama saja dengan Rp 150,-. Padahal tidak.

Bagiku, walau bukan tempat menarik, tetapi hasil amatan atau survey selama berada di dalam Chocolate kingdom itu. Pertanyaan pertama yang keluar di benakku adalah dari mana mereka memperoleh  bahan coklat hingga bisa memproduksi ckolat dalam jumlah besar seperti itu. Apakah coklatnya memang dari buah coklat yang ditanam di Malaysia, atau dari negara lain, seperti Indonesia? Pertanyaan ini muncul, karena aku teringat dengan pengalamanku berkunjung ke pabrik coklat di Swiss pada bulan Agustus 2005. Pertanyaan yang sama, adalah dari mana bahan baku kakao untuk membuat coklat di Swiss itu. Aku yakin, bahwa banyak bahan kakao untuk membuat coklat itu datang dari negaraku Indonesia. Ya, sudahlah. Tapi ini adalah pelajaran penting. Walau sebuah Negara tidak mempunya tanaman kakao di negaranya, tetapi mereka bisa menanam kakoa di negera lain, termasuk Indonesia. Ya lihat saja bagaimana mereka menanam sawit di tempat kita. Atas nama investasi, apapun bisa dilakukan. Selain itu, aku juga melihat, siapa yang paling menggeliat dalam menjalankan binis seperti the chocolate kingdom ini. Orang Melayu? Hmm, tunggu dulu.

📚 Artikel Terkait

Menunggu

Jelang Lebaran

Mahasiswa, Apa yang Mereka Lakukan di Warung Kopi?

Puisi-Puisi Putri Nayla Sakinah

Hal kedua yang menjadi catatan penting bagiku adalah bagaimana the chocolate kingdom menjual produk coklatnya yang dibeli oleh setiap pengunjung yang datang berombongan dan silih berganti. Aku membayangkan banyaknya omset penjualan yang hanya dengan mendatangak para wisatawan ke tempat itu. Maka, ketika melihat ramainya wisatwan yang datang, aku kala berada di ruang-ruang display coklat di the Chocolate Kingdom, pikiraanku melayang ke Aceh. Ya, pabrik coklat Socolate di Paru, Pidie jaya, Aceh. Ya, andai saja  orang datang ke pabrik coklat di Paru, Pidie jaya itu seperti yang datang ke the Chocolate Kingdom itu, pasti pabtik coklat di Paru, Pidie jaya itu akan benar-benar Berjaya.

Nah, tulisan ini sebenarnya bukan ingin bercerita panjang lebar tentang the chocolate kingdom itu, tetapi tentang banyak hal lain. Tentu saja tentang semua objek wisata yang telah dan bakal dikunjungi termasuk batu cave.

Usai berbelanja coklat di The Chocolate Kingdom bersama rombongan tour yang dilakukan oleh Alsa Travel ini, bus persiaran yang kami tumpangi melaju meninggalkan kota Kuala Lumpur. Bus Persiaran melaju dengan cepat dan lancar lewat jalan yang tidak berlubang-lubang itu. Kami bergerak menuju sebuah objek wisata sejarah yang dikenal dengan gua batu atau batu cave. Sebuah objek wisata yang ramai dikunjungi orang. Konon, tempat ini disebut-sebut sebagai tempat wisata yang sangat popular di Selangor, Malaysia.

Ketika bus persiaran mendekat dengan batu cave, dari kejauhan tampak sebuah patung besar berwarna emas berdiri tegak di sebelah kanan jalan yang kami lewati. Tampak banyak sekali orang yang datang berkunjung ke tempat ini. Terbukti, batu cave sebagai lokasi kuil Hindu, Batu cave  mampu menarik perhatian ribuan umat dan terutama selama festival tahunan agama Hindu, Thaipusam. 

Menurut informasi yang terkumpul,  Batu cave yang berbentuk bukit kapur yang terletak sebelah utara Kuala Lumpur, mempunyai tiga gua utama yang berfungsi sebagai kuil dan tempat pemujaan agama Hindu. Maka, ketika kita masuk ke objek wisata ini, banyak orang tertarik untuk melihat tangga dan kuil yang berwarna warni, dibangun dengan sangat sarat nilai seni. Sebuah patung besar yang terletak dekat tangga besar dan tinggi itu, menjadi daya tarik bagi pengunjung. Maka, disebutkan bahwa atraksi utamanya adalah patung dewa Hindu yang besar di pintu masuk, selain tangga curam sebanyak 272 anak tangga untuk bisa melihat cakrawala pusat kota yang menawan.  Bahkan di sini, monyet-monyet banyak bermain-main di sekitar gua, dan tempat ini juga populer untuk panjat tebing. Lukisan dan gambar adegan Dewa-Dewi Hindu juga bisa dilihat di dalam Gua Ramayana.

Keberadaan gua batu atau Batu Cave, di negeri jiran ini merupakan bukti bangsa Malaysia itu multi etnis, multi agama dan juga multi budaya dan bahkan tingkat kehidupan.  Hal ini bisa kita saksikan di setiap sudut negeri jiran, Malaysia ini yang salah satunya adalah Batu Cave yang merupakan peninggalan sejarah masuknya bangsa India yang menempati gua di Malaysia. Maka, tidak heran, apabila di lingkungan atau wilayah gua ini banyak dihuni oleh orang-orang keturunan India. mereka menjual bunga, membuka usah lainnya dan juga sebagai pengelola tempat ini. Keberadaan mereka merupakan kekayaan budaya bangsa Malaysia, yang hingga kini terus terjaga dan menjadi objek wisata yang dikunjungi oleh ribuan orang setiap hari. Tidak ubahnya seperti apa yang kita saksikan di candi Borobudur di negeri kita, yang sangat besar tersebut.

 

 

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tabrani Yunis

Tabrani Yunis

Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Jinakan Rindu Tuhan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00