HABA Mangat

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Februari 22, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    868 shares
    Share 347 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Februari 22, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    868 shares
    Share 347 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Ranah (Pendidikan) Kebudayaan di Kemdikbud

Redaksi by Redaksi
November 6, 2021
in kebudayaan, Mendikbud, Opini, Pendidikan
Reading Time: 5 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

 

Baca Juga

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Mengelola Pendidikan Ala Keledai?

Maret 15, 2026

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

Maret 14, 2026
AI dan Embrio Liberalisme

AI dan Embrio Liberalisme

Maret 8, 2026

Oleh Ahmad Rizali 

Berdomisili di Depok,Jawa Barat

Mendikbud itu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Artinya, selain urusi Pendidikan juga urusi Kebudayaan. Beberapa tetua, bahkan menyatakan bahwa Pendidikan itu sub dari Kebudayaan. Jadi sudah tepat diurusi dalam satu kementrian, meski masih juga ada yang protes mengapa bukan disebut Menbuddik. Tidak asik nampaknya kata akronim Menteri Kebudayaan dan Pendidikan, Ministry of Culture and Education.

Ada ujar ujar menarik “tanpa kebudayaan, maka anda tak punya identitas” dan saya sepenuhnya setuju dengannya. Oleh karena itu, Nawacita presiden Jokowi di periode pertama sangat kental nuansa kebudayaannya dan seingat saya 4 dari 9 butir nawacita terkait Kebudayaan, dan Pendidikan hanya sebutir. Apakah lantas kebijakan anggaran juga seperti itu? Entahlah, dengan sedih hati saya katakan tidak. Ditjen yang dipimpin oleh Hilmar Farid sangat kesulitan mengembangkan diri karena ketatnya anggaran.

Pendidikan juga memiliki Pusat Pembinaan dan Pengembangan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Seni dan Budaya (P4TK Seni Budaya) yang megah di utara kota Jogjakarta. Di masa jayanya, P4TK ini pernah menjadi “trend setter” produk seni, budaya dan kriya yang dijajakan di Mailoboro dan sekitarnya. Saya tak heran karena P4TK ini memiliki belasan studio belajar dari kulit, kayu, logam, wayang, tari dan lain sebagainya,namun karena persoalan “peruntukan” yang ketat untuk Guru, maka mereka membiarkan fasilitas dan WI dahsyatnya menganggur karena takut “dikabluk” kejaksaan atau diomeli Irjen yang memang pernah mengomel “anda digaji untuk diam kan enak….” ketika  staf P4TK mengajukan usulan mendayagunakan untuk selain guru.

Cobalah tengok pelajaran seni dan budaya di jenjang SD/MI, sangat miris. Karena umumnya guru seni dan budaya plus kriya adalah guru yang “hanya” hobi dalam bidang itu sehingga matpel yang diajarkan di jenjang SMP ke atas sangat kering. Apalagi jenjang SD/MI. Seterampil apakah guru-guru SD/MI dalam seni/budaya dan kriya?  Sejauh mana mereka diajari materi ini saat “preservice” di PGSD? Saya yakin karena lemahnya keterampilan seni budaya dan kriya (dan ketiadaan anggaran), maka matpel ini diajarkan di jenjang dasar ala kadarnya sambil lalu, lantas kita berharap anak-anak SD/MI kita lulus dan punya apresiasi yang baik terhadap seni budaya? 

Bukankah A dalam metode yang digembar gemborkan terbaru STEAM adalah “Art” alias seni ? Bagaimana mungkin metode STEAM dipakai sementara yang memakai apresiasi saja terhadap A tidak dimiliki ? Cobalah tengok SKL dan SI matpel senibudaya dan kriya untuk murid SD/MI dan tengoklah ulangan dan ujiannya, sungguh mengkhawatirkan. 

Sementara saya khawatir terhadap ketrampilan apresiasi seni/budaya dan kriya guru SD/MI, nun dekat di Bandung berkembang komunitas “Hong” yang tak gaduh, namun membagi keasyikan “berkesenian sambil bergerak”. Belum lagi yang dilakukan empu dongeng I Made Taro, memadukan gerak/tari, musik sederhana, kisah kearifan lokal dan permainan dan ujungnya adalah apresiasi kesenian dasar. Entah mengapa kegiatan sejenis keduanya tak menjadi arus besar pembelajaran apresiasi seni budaya untuk memberi dasar “A” dalam STEAM.

Saya sering irihati ketika istri saya berkisah hebatnya guru seninya saat dia bersekolah di jenjang SD di Soroako, Tahun 1970an. Jelas saja Pabrik Nikel itu mampu membayar guru yang ternyata konon alumni FSRD ITB “semua barang bekas yang dia pegang menjadi artistik…” ujar istriku, matanya berbinar binar. Tak usahkah guru SD sedahsyat alumni FSRD atau ISI atau ISBI dan sejenisnya. Cukuplah LPTK yang mempunyai PGSD memberi matpel apresiasi seni dan memberi contoh-contoh kongkrit bagaimana murid murid SD/MI mengapresiasi (belum mencintai) Seni dan Budaya. 

Ketika calon guru tersebut sudah aktif di SD/MI, sudah selayaknya, mereka harus dilatih agar terampil mengajar matpel seni budaya dan kriya, janganlah hanya karena “jam pelajarannya” kecil dan mereka tak faham, lantas hanya diajari meniup suling rekorder dengan lagu “ibu kita Kartini”. Setiap mendengar murid meniup alat itu, saya sudah dalam perasaan geli, karena pelajaran menggambarpun masih tak banyak yang berubah dari “dua gunung dengan matahari di tengah-tengahnya, jalan menuju gunung dan ada persawahan”.

Saya mengajak kawan kawan pencinta seni dan budaya untuk membuat sebuah Gerakan Nasional Apresiasi Seni Budaya Nusantara yang mengawal dan menjadi mitra guru SD/MI dalam mengajarkan apresiasi seni budaya dan kriya kepada murid/siswanya, sehingga memiliki fondasi “Art” yang kokoh menyongsong metode STEAM yang konon menjadi sejenis “obat kuat dewa” agar kita mampu menjalani abad ke 21 (karena kita enggan menggali ajaran KHD dan dikontekskan ke masa kini).

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 185x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 120x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 103x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 88x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun
Dinas Pendidikan Aceh

Mengelola Pendidikan Ala Keledai?

Maret 15, 2026
POTRET Budaya

Di Bawah Langit yang Sama: Takjil Ramadan, Paskah, dan Taut Persaudaraan

Maret 14, 2026
Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong
#Korban Bencana

Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

Maret 14, 2026
Presiden Pedofil?
Artikel

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026
Next Post

Nilai dan Peran Guru Penggerak

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com