POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

SEPATU BUSUK

RedaksiOleh Redaksi
April 23, 2018
🔊

Dengarkan Artikel


 Oleh Mulkan Kautsar
Hujan telah berhari hari turun dengan sangat deras. Sebagian jalanan di kota Banda Aceh, bahkan tergenang oleh air hujan yang seakan tidak mau berhenti. Seperti biasa, gaya gravitasi kasur tempat tidurku terasa sangat besar dalam keadaan cuaca seperti ini. Aku bahkan tidak sanggup untuk melihat jam.
“Kamu tidak ke kampus?” Tanya Kak Ari.
“Hujan” Jawabku santai.
“Aku juga tahu itu hujan, tapi itu bukan badai. Sana mandi dan bergegas ke kampus, pakai saja jas hujan milikku” Kak Ari kembali berceloteh.
Dengan sedikit dorongan aku berdiri dan menyambar handukku yang sudah semakin gelap. Dia terlihat lebih eksotis dan hitam manis dibanding saat aku membelinya tiga tahun yang lalu. Beberapa titik tahi lalat tampak memberi aksesoris di pinggirannya.
Selesai mandi, aku segera berpakaian rapi dan bersiap untuk pergi ke kampus. Untuk sesaat aku tidak bisa menemukan sepatuku. Aku sudah mencarinya ke seisi rumah, namun juga tidak menemukannya. Aku mulai pasrah, sampai Kak Ari memberitahu bahwa sepatuku ternyata masih di luar rumah. Astaga, aku lupa membawanya masuk dan sekarang pasti sudah basah. Benar dugaanku, sepatuku satu satunya sudah basah dan tidak layak dipakai untuk ke kampus dengan kondisinya yang demikian. Aku hanya punya dua pilihan saat itu, memakainya lalu berisiko kutu air dan berbau busuk atau mundur dan kembali tidur, tapi risikonya akan ada tanda silang menghiasi absenku.
Aku tidak punya waktu untuk berpikir lebih lama dan memutuskan untuk memilih pilihan pertama yaitu tetap memakainya. Aku sudah siap untuk hal ini karena ketakutanku saat ini adalah menghindari coretan silang dari dosen. Sesampainya di kampus aku segera masuk ke kelas dan duduk di bangku tengah. Aku mencoba bersikap biasa dengan kondisi kakiku yang dingin karena bersentuhan dengan sepatuku yang basah. Detik demi detik lalu menit berganti menit kakiku mulai gatal. Aku mencoba berkonsentrasi pada penjelasan dosen di depan, namun aku tidak bisa.
Aku sangat membenci keadaan seperti ini, pikiranku tidak bisa terfokus pada apa yang dijelaskan oleh dosen. Sepatu ini membuatku menjadi tidak nyaman dan hanya bisa bersikap seolah tidak terjadi apa pun. Oke aku bisa, hanya dua jam dan semuanya akan berakhir. Kalau ada bau yang tidak sedap untuk dicium untuk saat ini maka kupastikan bahwa itu adalah bau sepatuku. Astaga, aku menertawai diriku sendiri, ya terkadang hidup memang harus ditertawakan. Keadaan masih bisa kukendalikan sampai aku merasa ada yang aneh dengan sikap orang-orang di sampingku. Hidung mereka terlihat seperti mengendus sesuatu yang aku harap belum diketahui sumbernya.
“Bau apa ini? busuk sekali” kata Rizki.
“Seperti bau kaus kaki yang sudah lama tidak dicuci” Mirza ikut menimpali.
“Iya bau sekali ya, hahaha” Aku ikut menjawab untuk menghilangkan kecurigaan.
“Mungkin bau sepatu yang basah” kata Rahma.
Penghuni kelas yang lainnya mulai ikut dalam pembicaraan dan beberapa di antaranya dengan liar menggerayangi seluruh ruangan sembari memicingkan mata untuk mencurigai salah seorang di antara kami semua. Beberapa yang lainnya ada yang mulai beralih peran menjadi pelacak dengan mengendus seakan hidung mereka memiliki kemampuan indera penciuman yang sangat tinggi. Di antara yang sibuk tersebut ada yang masih berkonsentrasi mendengarkan materi dari dosen. Apa yang aku lakukan? Tentu saja aku berpura pura bodoh dan seakan berkata. Hei sepatu siapa ini busuk sekali?. Kalau aku disuruh memilih keadaan, maka hal terbaik yang terjadi adalah waktu segera cepat berjalan agar aku bisa keluar dari kelas ini dan menyingkirkan barang bukti.
Tidak lama setelah itu dosen mengakhiri materi kuliah dengan tugas makalah yang harus dikumpulkan pada minggu depan. Tidak biasanya beliau keluar dengan cepat seperti pada hari ini. Aku sempat berpikir apakah beliau merasa mual mencium bau yang tidak sedap dari sepatuku. Tapi setidaknya aku sangat bersyukur bahwa aku bisa segera pergi dari ruangan ini. Dengan secepat kilat aku segera mengambil motor yang kuparkir di belakang kampus dan menembus hujan tanpa menggunakan jas hujan. Aku pacu dengan secepat kilat berbalapan dengan jatuhnya hujan agar bisa segera pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah aku meletakkan sepatuku di luar. Kak Ari mual mencium baunya dan aku sendiri harus menunda masuknya oksigen ke hidung untuk beberapa saat. Kakiku menjadi sangat pucat dan berkerut. Keadaannya mengerikan dan kaku seperti mati rasa. Aku segera mencuci kaki dan merendamnya dalam ember yang sudah kutuangkan sabun cair. Akhirnya kakiku bebas dari bau yang bisa memuntahkan siapa saja yang di dekatku. Selamat tinggal sepatu busuk.
Biodata :
Nama               : Mulkan Kautsar
Email               : mulkankautsar@gmail.com
Alamat             : Gampong Pante Pisang, Jalan Medan-Banda Aceh, Kecamatan Peusangan, Bireun

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 57x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)

📚 Artikel Terkait

SARINAH

Aceh dan Strategi Perjuangan Baru: Dari Luka Konflik ke Kriris Ekologi

Menulis Berhadiah di Majalah Anak Cerdas

HABA Si PATok

📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Majelis Wilayah Lantik Pengurus Forhati Se-Aceh

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00