POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Sekolah Desa vs Sekolah Kota

RedaksiOleh Redaksi
December 22, 2016
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Khairunnisak

Guru MIN Rukoh Kota Banda Aceh

Pengalaman menjadi guru sungguh mengesankan. Banyak peristiwa baru—baik yang positif maupun negatif—yang muncul, terutama pada setiap awal tahun penerimaan murid baru. Ditambah lagi dengan suka dukanya mengajar dan perlakuan para orang tua murid. Peristiwa-peristiwa semacam itu kemudian menempa seorang guru menjadi pribadi yang tegar.

Beberapa tahun yang lalu, profesi guru masih kurang dihargai di Indonesia. Hal ini bisa terlihat dari kurangnya apresiasi masyarakat dan pemerintah terhadap profesi ini. Tak jarang, para orang tua murid dan pengambil kebijakan hanya bisa menyalahkan guru jika nilai para murid tidak bagus. Padahal kalau kita melihat secara jujur, banyak faktor yang menyebabkan baik-buruk atau naik-turunnya prestasi seorang murid atau suatu sekolah secara umum. Pengalaman saya berikut bisa menjadi salah satu contoh tentang beberapa faktor yang menyebabkan bagus tidaknya prestasi suatu sekolah dan murid-muridnya.

Pertama lulus menjadi seorang guru, saya ditempatkan di sebuah sekolah/madrasah di daerah dalam kawasan Kabupaten Bireuen. Hari pertama berhadapan dengan murid-murid sekolah tersebut, saya dibuat terheran-heran. Sewaktu saya menyapa dengan menggunakan bahasa Indonesia, tidak seorang pun menjawab. Mereka malah cengar-cengir dan tersenyum-senyum malu. Rupanya kebiasaan sehari-hari mereka menggunakan bahasa daerah (Aceh) dalam berkomunikasi, baik sesama mereka ataupun dengan guru-guru. Ini menjadikan seseorang aneh jika berbicara dalam bahasa Indonesia. Akan tetapi, hal ini bukanlah menjadi halangan yang besar, karena saya sendiri orang Aceh yang berbahasa Aceh dengan baik.

📚 Artikel Terkait

Puisi-Puisi Riami

700 Dosen CPNS Mengundurkan Diri

Takdir Cinta

Perempuan Setara

Akhirnya saya menggunakan dua bahasa dalam mengajar, yaitu bahasa Aceh yang diselipkan dengan bahasa Indonesia. Hal ini dilakukan agar murid-murid mudah memahami dan juga terbiasa mendengar dan menggunakan bahasa Indonesia dalam keseharian mereka. Pemahaman yang baik dan benar terhadap bahasa Indonesia akan memudahkan mereka nantinya dalam berinteraksi dengan orang-orang yang tidak memahami bahasa dan budaya Aceh.

Seperti kebanyakan sekolah di daerah yang pernah saya lihat, fasilitas-fasilitas yang mendukung proses belajar mengajar di sekolah tersebut juga masih sangat jauh dari mencukupi dan dengan kualitas yang apa adanya. Hal ini tentunya mempunyai pengaruh yang besar terhadap kelancaran proses belajar mengajar. Kurangnya kompetensi guru juga menjadi salah faktor lain yang mempengaruhi mutu sekolah termasuk murid-muridnya. Faktor rendahnya prestasi murid juga dipengaruhi oleh minat belajar murid sangat rendah ditambah lagi tidak adanya dukungan dari kebanyakan orang tua. Salah satu contoh nyata adalah banyaknya PR yang tidak selesai dari sekian banyak PR yang diberikan. Saya melihat, secara umum para orang tua seolah-olah beranggapan bahwa urusan belajar mengajar adalah tanggung jawab guru semata.. Pengaruh lingkungan yang kurang kondusif untuk belajar juga ikut “menyumbang” terhadap minimnya kualitas pendidikan di daerah-daerah.

Hal baik yang saya catat sewaktu bertugas di daerah adalah tingginya ikatan sosial antar sesama guru dan murid. Layaknya kebanyakan lingkungan di daerah-daerah, guru-guru yang bertugas di lingkungan yang sama untuk jangka waktu lama akan menjadi dekat secara emosional, sehingga tak jarang seorang guru menutup kekurangan jam mengajar guru lainnya tanpa “pamrih”. Oleh karena itu, sampai sekarang saya masih merasa dekat dengan mantan kolega di tempat yang lama.

Sewaktu saya pindah tugas ke salah satu MIN di Kota Banda Aceh mengikuti tugas suami, saya melihat perbedaan yang mencolok antara pola belajar anak yang di daerah dengan di kota. Murid-murid di sekolah yang baru, sangat antusias dan bersemangat dalam belajar. Hal itu juga ditunjang dengan fasilitas pendidikan yang memadai, sehingga sangat mendukung terlaksananya proses belajar mengajar yang tepat dan terarah. Dengan kondisi yang demikian, pada awalnya saya malah merasa ragu apakah saya bisa menyesuaikan diri dengan kondisi sekolah baru saya tersebut.

Dengan tekad yang kuat, saya pelan-pelan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kondisi di tempat baru ini. Banyak sekali ilmu mengajar yang saya peroleh di sini yang tidak saya dapatkan sewaktu bertugas di daerah. Di sekolah baru ini, murid-murid tidak hanya menerima pelajaran dari guru di sekolah, akan tetapi mereka juga harus mencari sendiri di luar dengan cara membaca buku dan bahan-bahan lain yang relevan. Disamping itu, di setiap kelas disediakan pustaka mini untuk menumbuhkan budaya membaca, sehingga jika murid-murid kurang paham dengan materi yang disampaikan guru, mereka bisa langsung mencarinya di buku-buku yang tersedia di perpustakaan tersebut.

Dengan kondisi yang demikian, ditambah dengan tingginya kompetensi guru serta disiplin tinggi yang diterapkan, saya tidak merasa heran jika sekolah-sekolah di kota secara umum lebih unggul dibandingkan dengan sekolah-sekolah di daerah. Pengalaman ini menyadarkan saya betapa jauh jarak ketertinggalan (dalam segala hal) antara sekolah-sekolah dasar di daerah dengan di kota. Jadi sudah selayaknyalah para pengambil kebijakan memberi perhatian lebih serta meningkatkan infrastruktur dan kompetensi guru di sekolah-sekolah di daerah terutama yang ada di pedalaman-pedalaman Aceh.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Dinamika Perceraian Tahun 2016 Meningkat

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00