POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Linda Zainal: Tsunami, Bangkrut dan Berbisnis Sebatang Kara

RedaksiOleh Redaksi
November 15, 2016
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Adi W
Menghabiskan hari-harinya dengan berbisnis, Linda Zainal bukan perempuan biasa, dia pernah terpuruk saat tsunami menggada Aceh 8 tahun lalu. Kedua orang tua dan adik-adiknya meninggal, dia sebatang kara menghidupkan bisnis, yang pernah diajarkan ayahnya.
Kini, saban hari Linda Zainal (34 tahun) menghabiskan waktu mengelola tiga tokonya, yang menjual aksesoris handphone. Usaha itu dirintisnya sendiri, setelah bisnisnya dulu yang dibantu sang Ayah, diamuk tsunami. “Saya beruntung, dulu diajarkan berbisnis oleh almarhum orangtua,” ujarnya akhir Desember 2012.
Tiga tokonya bernama Bellinda Galery; satu di Peunayong dan dua di Peuniti, Kota Banda Aceh punya omset ratusan juta rupiah. Dia juga telah mampu menghidupkan belasan karyawannya. Bahkan kini, Linda berencana terus mengembangkan usaha ke arah lain, seperti bisnis restoran dan warung kopi modern.
Hidupnya kini sukses, selain usaha, Linda punya dua rumah dan saat ini sedang menyiapkan lagi sebuah rumah persis di tanah orangtuanya dulu, kawasan Taman Siswa, Kecamatan Baiturrahman Banda Aceh. Rumah itulah yang nantinya akan ditempati bersama anak dan suaminya. “Karena dulu aku tinggal di tanah itu, maka aku bangun kembali rumah di tempat aku dibesarkan.”
“Orangtuaku telah mengajarkan aku hidup dan berbisnis, aku gak mau mengecewakan mereka dengan hanya bersedih pascatsunami. Aku mau mereka tenang di alam sana,” katanya dengan mata yang berkaca.
Ilmu berdagang diakui datang dari orang tuanya yang pengusaha, sebelum tsunami datang. Sukses ayahnya, Haji Zainal, membuat masa remajanya senang dan bahagia, tak ada kebutuhannya yang kurang. Bahkan saat mulai kuliah di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh tahun 1996, dia sudah mengendarai mobil, padahal sebagian besar rekan kampusnya masih naik angkot.
Dulu, orangtuanya punya beberapa toko, dan Linda kerap membantu mereka. Saat kuliahnya mau selesai, dia dibantu orangtua membuka gerai penjualan handphone dan aksesorisnya. “Waktu itu sudah bisa mandiri,” ujar ibu empat anak ini.
Dua minggu jelang tsunami Aceh, Linda Zainal berangkat ke tanah suci. Saat berada di sanalah tsunami datang menghumbalang Aceh. “Saya sedang di Madinah saat mendengar kabar tsunami. Saya belum tahu bagaimana tsunami dan keberadaan orangtua kala itu.”
Hampir sebulan pascatsunami, Linda pulang bersama para jamaah haji Aceh lainnya. di situlah dia melihat kondisi Aceh yang hancur. Orangtuanya dan adik-adiknya telah tiada, toko dan rumah pun tak tersisa sama sekali. Tinggallah dia sebatang kara.
Linda trauma dan terus bersedih. Beruntung dia tak ikut tinggal di pengungsian, karena beberapa kawan dekat menampungnya. “Hampir tiap hari saya menangis.”
Semangat kemudian tumbuh setelah kawan-kawannya mendukung. Dia juga ingat pesan orangtua agar dapat mandiri dalam hidup. Beberapa rekan bisnisnya di Jakarta menghubunginya pula memberi semangat dan mendukung membuka kembali gerai handphone dan aksesoris.
Tiga bulan kemudian, dengan sisa uang di tabungan yang terbatas dan kepercayaan para supplier, Linda berangkat ke Jakarta dan mulai belanja kebutuhan usaha. Dia membuka kembali toko Bellinda Galery. “Perlahan saya membangun usaha dan terus berkembang, memang masih sedih, tapi itu juga menjadi semangat bagi saya,” ujarnya.
Dua tahun setelah tsunami, Linda berumah tangga dengan Henvrimasyah. Suaminya itulah yang terus mengobati kesedihannya dan trauma yang belum sepenuhnya pulih. “Saya masih trauma lihat laut dan baru tahun kemarin (2011) saya berani ke laut dengan semangat dari suami, itupun hanya di Ulee Lheu (Kecamatan Meuraxa),” kata Linda.
Linda juga mengakui, baru tahun lalu juga dia mulai pulih dari kesedihan mengingat orangtua setiap ulang tahun peringatan tsunami. “Sebenarnya aku berat juga diwawancara, tak kuat mengingat kejadian lalu. Tapi terus didukung suami hingga aku siap.”
Setelah delapan tahun, Linda dapat kembali membangun hidupnya setelah tinggal sendiri, dengan semangat petuah dan ilmu dari orangtuanya yang telah tiada. ***

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 69x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)

📚 Artikel Terkait

Ziarah Kubur Untuk Memperoleh Kenyamanan dan Ketenteraman Batin

Arsip Nestapa di Panggung Malam

Jika Kemiskinan adalah Kesalahan, Siapa yang Harus Disalahkan?

BILA AKAR-AKAR MULA BERSERABUT

📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Budaya Sensor Mandiri Tingkatkan Kualitas Perfilman Indonesia

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00