• Latest

Linda Zainal: Tsunami, Bangkrut dan Berbisnis Sebatang Kara

November 15, 2016
93f22f86-ef8e-40bd-be7a-654413740c48

Pasar, Telur, dan Sebuah Catatan Kebudayaan dari Pundensari

April 20, 2026
7bf2ddcd-f2b6-4ca2-97c0-0cc808683181

Sigupai Mambaco Gelar “Mahota Buku” April di Abdya, Diskusikan Peran Perempuan hingga Kritik Sosial

April 20, 2026
Linda Zainal: Tsunami, Bangkrut dan Berbisnis Sebatang Kara - IMG_9514 | Edukasi | Potret Online

Aceh Tak Butuh Senjata untuk Merdeka

April 20, 2026
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Linda Zainal: Tsunami, Bangkrut dan Berbisnis Sebatang Kara

Redaksi by Redaksi
November 15, 2016
in Edukasi, Pedidikan, Tokoh
Reading Time: 3 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh : Adi W
Menghabiskan hari-harinya dengan berbisnis, Linda Zainal bukan perempuan biasa, dia pernah terpuruk saat tsunami menggada Aceh 8 tahun lalu. Kedua orang tua dan adik-adiknya meninggal, dia sebatang kara menghidupkan bisnis, yang pernah diajarkan ayahnya.
Kini, saban hari Linda Zainal (34 tahun) menghabiskan waktu mengelola tiga tokonya, yang menjual aksesoris handphone. Usaha itu dirintisnya sendiri, setelah bisnisnya dulu yang dibantu sang Ayah, diamuk tsunami. “Saya beruntung, dulu diajarkan berbisnis oleh almarhum orangtua,” ujarnya akhir Desember 2012.
Tiga tokonya bernama Bellinda Galery; satu di Peunayong dan dua di Peuniti, Kota Banda Aceh punya omset ratusan juta rupiah. Dia juga telah mampu menghidupkan belasan karyawannya. Bahkan kini, Linda berencana terus mengembangkan usaha ke arah lain, seperti bisnis restoran dan warung kopi modern.
Hidupnya kini sukses, selain usaha, Linda punya dua rumah dan saat ini sedang menyiapkan lagi sebuah rumah persis di tanah orangtuanya dulu, kawasan Taman Siswa, Kecamatan Baiturrahman Banda Aceh. Rumah itulah yang nantinya akan ditempati bersama anak dan suaminya. “Karena dulu aku tinggal di tanah itu, maka aku bangun kembali rumah di tempat aku dibesarkan.”
“Orangtuaku telah mengajarkan aku hidup dan berbisnis, aku gak mau mengecewakan mereka dengan hanya bersedih pascatsunami. Aku mau mereka tenang di alam sana,” katanya dengan mata yang berkaca.
Ilmu berdagang diakui datang dari orang tuanya yang pengusaha, sebelum tsunami datang. Sukses ayahnya, Haji Zainal, membuat masa remajanya senang dan bahagia, tak ada kebutuhannya yang kurang. Bahkan saat mulai kuliah di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh tahun 1996, dia sudah mengendarai mobil, padahal sebagian besar rekan kampusnya masih naik angkot.
Dulu, orangtuanya punya beberapa toko, dan Linda kerap membantu mereka. Saat kuliahnya mau selesai, dia dibantu orangtua membuka gerai penjualan handphone dan aksesorisnya. “Waktu itu sudah bisa mandiri,” ujar ibu empat anak ini.
Dua minggu jelang tsunami Aceh, Linda Zainal berangkat ke tanah suci. Saat berada di sanalah tsunami datang menghumbalang Aceh. “Saya sedang di Madinah saat mendengar kabar tsunami. Saya belum tahu bagaimana tsunami dan keberadaan orangtua kala itu.”
Hampir sebulan pascatsunami, Linda pulang bersama para jamaah haji Aceh lainnya. di situlah dia melihat kondisi Aceh yang hancur. Orangtuanya dan adik-adiknya telah tiada, toko dan rumah pun tak tersisa sama sekali. Tinggallah dia sebatang kara.
Linda trauma dan terus bersedih. Beruntung dia tak ikut tinggal di pengungsian, karena beberapa kawan dekat menampungnya. “Hampir tiap hari saya menangis.”
Semangat kemudian tumbuh setelah kawan-kawannya mendukung. Dia juga ingat pesan orangtua agar dapat mandiri dalam hidup. Beberapa rekan bisnisnya di Jakarta menghubunginya pula memberi semangat dan mendukung membuka kembali gerai handphone dan aksesoris.
Tiga bulan kemudian, dengan sisa uang di tabungan yang terbatas dan kepercayaan para supplier, Linda berangkat ke Jakarta dan mulai belanja kebutuhan usaha. Dia membuka kembali toko Bellinda Galery. “Perlahan saya membangun usaha dan terus berkembang, memang masih sedih, tapi itu juga menjadi semangat bagi saya,” ujarnya.
Dua tahun setelah tsunami, Linda berumah tangga dengan Henvrimasyah. Suaminya itulah yang terus mengobati kesedihannya dan trauma yang belum sepenuhnya pulih. “Saya masih trauma lihat laut dan baru tahun kemarin (2011) saya berani ke laut dengan semangat dari suami, itupun hanya di Ulee Lheu (Kecamatan Meuraxa),” kata Linda.
Linda juga mengakui, baru tahun lalu juga dia mulai pulih dari kesedihan mengingat orangtua setiap ulang tahun peringatan tsunami. “Sebenarnya aku berat juga diwawancara, tak kuat mengingat kejadian lalu. Tapi terus didukung suami hingga aku siap.”
Setelah delapan tahun, Linda dapat kembali membangun hidupnya setelah tinggal sendiri, dengan semangat petuah dan ilmu dari orangtuanya yang telah tiada. ***
Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post

Budaya Sensor Mandiri Tingkatkan Kualitas Perfilman Indonesia

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com