• Latest
Simeulue

Simeulue

April 26, 2025

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

March 13, 2026
Lomba Menulis Cerita Anak Cerdas 2026

Lomba Menulis Cerita Anak Cerdas 2026

March 13, 2026
Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman

Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman

March 12, 2026

Tatanan Global Bergeser: Apakah Timur Tengah Siap Memasuki Era Post-American Security Order?

March 12, 2026
What is Scholasticide?

Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel

March 12, 2026
Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

March 12, 2026
Menjadi Insan Bertasawuf

Menjadi Insan Bertasawuf

March 12, 2026
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?

March 12, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Simeulue

Redaksi by Redaksi
April 26, 2025
in Catatan Perjalanan, Cerita Perjalanan, Jalan-jalan, Perjalanan, Simeulue
0
Simeulue
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Muhammad Subhan

TIBA-TIBA ingatan saya terbang jauh ke Simeulue. Sebuah pulau di Aceh yang dikelilingi laut dengan pantai-pantai indah.

Baca Juga

Menyusun Buku Antologi Relawan Bencana Banjir dan Longsor Di Tengah Bencana Hidrometeorologi Aceh

Menyusun Buku Antologi Relawan Bencana Banjir dan Longsor Di Tengah Bencana Hidrometeorologi Aceh

March 2, 2026
Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

February 23, 2026
Mengubah Nasib Ke Luar Negeri

Mengubah Nasib Ke Luar Negeri

February 10, 2026

Kenangan saya kembali ke 15 tahun lampau.

Pagi itu masih muda. Jumat, 16 April 2010. Jam menunjukkan pukul 7.45. Langit bersih. Bandara Lasikin di Pulau Simeulue tampak lengang.

Pesawat kecil Susi Air baru saja mendarat. Saya turun dengan debar. Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di pulau itu. Pulau yang selama ini hanya hadir dalam mimpi dan cerita.

Udara laut menyeruak begitu pintu pesawat terbuka. Hangat dan tenang. Seperti menyambut seorang perantau yang pulang setelah lama pergi.

Saya datang ke Simeulue atas undangan sebuah media lokal. Tujuannya memberikan pelatihan jurnalistik untuk meningkatkan kapasitas wartawan dan staf media di sana. Tentu, saya senang mendapat undangan itu.

Dari udara, Simeulue terlihat memesona. Biru lautnya, hijau daratannya, bagai lukisan alam.

Saya teringat Bali, tempat yang pernah beberapa kali saya singgahi. Tapi Simeulue berbeda. Lebih sunyi, lebih murni. Seperti permata yang belum diasah.

Pulau ini baru tumbuh sebagai kabupaten definitif, namun potensinya besar. Pantai berbatu karang seperti di Babang. Pasir putih di Teupah Selatan. Laut yang kaya. Budaya lokal yang majemuk.

Simeulue juga kaya akan sejarah. Banyak perantau dari Minangkabau yang kini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Mereka membawa serta budaya dan tradisi yang kental.

Salah satunya adalah ulama yang sangat dihormati di Simeulue, Teungku Di Ujung. Nama aslinya Khalilullah, seorang ulama Minangkabau yang beragama Islam dan dikenal sebagai sosok yang berjasa dalam menyebarkan ajaran Islam di Pulau Simeulue, khususnya pada masa Kesultanan Aceh. Jejak perjuangannya tetap dikenang hingga kini.

Semua itu bisa jadi magnet wisata. Suatu saat nanti, siapa tahu, Simeulue akan menjadi “Bali-nya Sumatera.”

📚 Artikel Terkait

Si Manis-Pedas, Rujak Pak Fahrizal

Pelajaran Hidup Dari Bidak Catur

Begitu Susahnya Tito Minta Maaf pada Rakyat Aceh

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Namun, lebih dari keindahan, ada tekad dan cinta yang membuat saya datang.

Di kantor media yang mengundang, saya diminta berbagi kiat menulis, terutama dalam jurnalistik. Memberi pembekalan kepada wartawan muda di sana. Mereka penuh semangat. Penuh potensi.

Simeulue bukan nama asing bagi saya. Sejak 2009, saya diminta menjadi editor jarak jauh untuk media di Simeulue. Media itulah yang mengundang saya. Dari Padang Panjang, saya memantau tulisan-tulisan wartawan mereka. Beberapa nama bahkan sudah saya hafal karena produktif.

Dua hari itu saya menyampaikan empat materi: menulis berita, teknik wawancara, penulisan feature, dan foto jurnalistik.

Itu sedikit keahlian yang saya kuasai karena sebelumnya bertahun-tahun bekerja di sebuah media mingguan dan harian di Kota Padang.

Kepada wartawan-wartawan muda di sana, saya tekankan pentingnya membaca. Bukan hanya membaca berita yang ditulis sendiri, tapi juga membaca berita wartawan di media lain. Serta membaca buku pengayaan.

Dalam menulis berita, rumus 5W + 1H adalah dasar. Siapa. Apa. Di mana. Kapan. Mengapa. Bagaimana. Tanpa ini, berita kering dan tak bernyawa.

Teknik wawancara juga tak kalah penting. Wartawan harus siap. Fisik. Mental. Daftar pertanyaan. Alat tulis. Perekam. Disiplin waktu. Jangan biarkan narasumber menunggu. Wartawan harus datang lebih awal.

Menulis feature adalah seni. Ini bukan berita keras. Ini cerita. Bernyawa. Penuh rasa. Feature menghibur dan memberi informasi. Bahasa yang digunakan lebih luwes dan indah. Banyak media besar menjadikan feature sebagai kekuatan.

Foto jurnalistik juga kami bahas. Foto yang bagus bisa bicara lebih dari seribu kata. Bukan sekadar jepret, tapi bagaimana menangkap momen, emosi, dan cerita. Saya tunjukkan beberapa foto pemenang Pulitzer.

Waktu dua hari terasa terlalu cepat. Para wartawan muda itu tampak belum puas. Tapi inilah awal. Pondasi. Kelak mereka akan membangunnya lebih tinggi—dan, setelah bertahun-tahun berlalu, dari jauh saya melihat mereka sudah menjadi wartawan hebat.

Usai pelatihan, kami rehat di Pantai Babang. Pantai ini indah, tenang. Riak dan debur ombaknya begitu puitis. Pantai Babang salah satu ikon wisata di Pulau Simeulue.

Keesokan harinya, kami beranjak ke Teupah Selatan. Daerah ini dulunya pusat tsunami 26 Desember 2004. Luka masih terasa. Tapi kehidupan terus berjalan. Orang-orangnya tangguh. Penuh harapan.

Saya meninggalkan Simeulue dengan hati yang penuh. Penuh syukur. Penuh kenangan. Juga tekad.

Di pulau yang sunyi ini, saya menemukan harapan yang tumbuh. Dalam berita-berita sederhana. Dalam senyum wartawan muda. Dalam lenguh ombak yang tak lelah memeluk pantai.

Simeulue tak lagi sekadar nama. Ia kini hidup dalam ingatan saya. Sebagai pulau yang sabar. Pulau yang berjuang. Pulau yang menulis masa depannya sendiri.

Dan, suatu hari nanti, saya ingin datang lagi. []

Baca juga di https://majalahelipsis.id/simeulue/

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 77x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 70x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 64x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Perempuan

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

March 13, 2026
Lomba Menulis Cerita Anak Cerdas 2026
Anak Cerdas

Lomba Menulis Cerita Anak Cerdas 2026

March 13, 2026
Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman
Artikel

Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman

March 12, 2026
Artikel

Tatanan Global Bergeser: Apakah Timur Tengah Siap Memasuki Era Post-American Security Order?

March 12, 2026
Next Post
Dari Kelas Biasa ke Kelas Luar Biasa

Dari Kelas Biasa ke Kelas Luar Biasa

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com