• Latest
Ngopi dan Logos: Catatan Santai dari Pinggir Meja Kayu - 99840128 d4ca 41aa a17a 4104b004adac | Aceh | Potret Online

Ngopi dan Logos: Catatan Santai dari Pinggir Meja Kayu

Mei 19, 2025

Agama yang Meninabobokan atau Menggerakkan? Dari Mimbar ke Realitas, Mencari Kembali Ruh Peradaban

April 16, 2026
Mahasiswa menunda tugas sambil bermain ponsel di depan laptop

Mengapa Kita Menunda Tugas Penting? Memahami Academic Self-Handicapping

April 16, 2026
3B16BCC9-5860-4D88-89D6-B676DAE2E109

Bertanya Soal Kartu Aceh Carong

April 16, 2026
Ilustrasi remaja menggunakan TikTok dengan ekspresi reflektif, menggambarkan pencarian informasi kesehatan mental di media sosial.

Ketika TikTok Menjadi “Psikolog”: Tren Self-Diagnosis Kesehatan Mental pada Gen Z

April 16, 2026
Ilustrasi ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah dengan latar peta dan simbol energi global

Konflik Amerika Serikat–Iran 2026: Sejarah Panjang dan Kebuntuan Diplomasi

April 16, 2026
Ilustrasi kecemasan orang dewasa yang berkaitan dengan pengalaman masa kecil

Kecemasan Tanpa Sebab? Bisa Jadi Berasal dari Luka Masa Kecil

April 16, 2026
e8ea71e6-33f0-472e-8465-849eb085fb0a

Proses (yang) Kreatif

April 16, 2026
4add8591-3107-4510-963e-05d84dc12c4e

Politik, Tradisi Intelektual, dan Krisis Arah Kepemimpinan

April 15, 2026
Kamis, April 16, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Ngopi dan Logos: Catatan Santai dari Pinggir Meja Kayu

Dayan Abdurrahman by Dayan Abdurrahman
Mei 19, 2025
in Aceh, Banda Aceh, Essay, Kuliner, Masakan Jepang
Reading Time: 3 mins read
0
Ngopi dan Logos: Catatan Santai dari Pinggir Meja Kayu - 99840128 d4ca 41aa a17a 4104b004adac | Aceh | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh: Dayan Abdurrahman

Pemerhati Pendidikan dan Isu-Isu Kuliner

Hari Minggu di Banda Aceh bukan sekadar waktu melepas lelah, melainkan momen mengendapkan pikiran, merenungi makna, dan menikmati aroma kopi yang lebih jujur dari politik nasional. Saya, Dayan Abdurrahman, warga biasa dari Kajhu, kawasan yang saban hari dilintasi oleh mobil-mobil bersih dan mulus di jalan tol baru. Tapi lucunya, meski tol itu membelah sawah kami, saya belum sekalipun pernah melewatinya. Saya lebih suka jalur kampung—yang banyak senyuman, ayam berkeliaran, dan becak yang bunyinya khas.

Tinggal tak jauh dari Darussalam—daerah pelajar, penuh dengan semangat dan kadang juga debat kusir mahasiswa—membuat saya sering duduk di warung kopi sambil menyaksikan kehidupan berlarian. Tak jauh dari situ, laut menatap saya dengan diam. Laut yang dulu menggulung dan merenggut, kini kembali tenang. Tapi setiap kali saya duduk di pinggirannya, tsunami itu kembali hadir, bukan sebagai teror, tapi pengingat bahwa hidup bisa berubah dalam satu tarikan ombak.


Pagi ini saya menyempatkan waktu ke Ulee Lheue. Bukan untuk selfie, bukan juga demi konten TikTok, melainkan untuk membiarkan pikiran saya berlayar. Duduk di bawah pohon kelapa yang tidak terlalu tinggi, saya melihat dua anak muda sedang membaca buku tentang perubahan iklim. Hati saya senang. Ternyata tidak semua generasi Z terjebak dalam dunia virtual.

Sebelum pulang, saya singgah di warung makan di pinggir jalan. Disambut aroma kuah beulangong ikan paya yang menggoda iman. Ada juga ayam penyet dengan sambal hijau yang rasanya bisa membuat seseorang jatuh cinta, lalu sadar bahwa dia hanya bisa mencintai dalam diam. Begitu kuat cita rasa, sampai lidah kita ingin berunding.

Sebagai penggemar kuliner, saya percaya bahwa makanan bukan sekadar untuk kenyang. Ia adalah jendela kebudayaan. Makanan membawa memori, menyatukan manusia, dan kadang—menyembuhkan luka. Di Banda Aceh, makanan selalu hadir dalam ritual sosial, dari peusijuek sampai kenduri. Mungkin karena itulah, orang Aceh lebih gampang akrab saat makan.


Tapi bukan hanya makan yang penting. Kita juga perlu mencerna realitas. Sebuah riset kecil yang saya buat pada awal tahun menunjukkan bahwa hanya 37% pemuda Banda Aceh yang aktif dalam komunitas sosial, padahal potensi mereka sangat tinggi. Persentase perempuan dan laki-laki pun kini sudah mulai seimbang dalam dunia pendidikan, tetapi partisipasi publik masih cenderung didominasi laki-laki. Ini pekerjaan rumah kita bersama. Karena pendidikan bukan hanya soal nilai ujian, tapi kemampuan hadir dalam masyarakat.

Saya sering bilang ke anak saya, “Kalau kamu ingin dikenal dunia, kenali dulu lorong rumahmu.” Jadi pemimpin itu bukan soal pidato bahasa Inggris di forum internasional. Itu bagus, tapi lebih penting adalah bisa bantu angkat galah warga sebelah, atau menyapa nenek-nenek yang jual pucuk ubi. Dunia akan percaya pada orang yang dipercaya oleh kampungnya.


Ada satu hal lagi yang ingin saya bagikan. Beberapa hari lalu, saya mendengar kabar seorang tokoh muda Aceh diundang ke forum pemuda ASEAN. Hebat, pikir saya. Tapi lebih hebat lagi kalau ia tetap menyapa gurunya di kampung, menyempatkan diri pulang ke meunasah dan tidak canggung makan dengan tangan di atas daun pisang.

Saya kira, dunia butuh duta-duta yang bukan hanya fasih berbahasa, tapi juga berakar. Yang kalau bicara tentang perubahan iklim, dia tahu bagaimana nelayan di Lambaro harus memindah jadwal melaut karena arus berubah. Yang kalau bicara soal ekonomi digital, dia tetap sadar bahwa masih ada ibu-ibu di kampung yang jualan pakai catatan utang dari tahun kemarin.


Dan akhirnya, tulisan ini saya tutup dengan satu pepatah dari Almarhum Nek Amat, tetangga saya di Kaju:
“Hidup ini bukan lomba cepat-cepat, tapi lomba siapa yang paling banyak ditunggu kehadirannya.”

Jadi, untuk para sahabat sarjana, cendekiawan, dan pemikir yang sedang beristirahat hari ini, izinkan saya katakan: santailah sejenak. Nikmati ayam penyet dan segelas kopi sanger di bawah langit Banda Aceh. Karena dalam istirahat itu, kita seringkali menemukan jawaban yang tidak hadir saat kita sibuk berlari.

Selamat menikmati hari Minggu. Tetaplah cerdas, tapi jangan kehilangan rasa. Tetaplah kritis, tapi jangan lupa senyum. Karena dunia ini terlalu luas untuk kita tanggapi dengan dahi yang terus mengernyit.

Share234SendTweet146Share
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Next Post
Ngopi dan Logos: Catatan Santai dari Pinggir Meja Kayu - 2025 05 19 09 54 04 | Aceh | Potret Online

Fenomena Polisemi dalam Gerimis Pagi ini

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com