• Latest
Kisah Bejat Predator Anak di Balik Seragam

Kisah Bejat Predator Anak di Balik Seragam

July 2, 2025

Tatanan Global Bergeser: Apakah Timur Tengah Siap Memasuki Era Post-American Security Order?

March 12, 2026
What is Scholasticide?

Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel

March 12, 2026
Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

March 12, 2026
Menjadi Insan Bertasawuf

Menjadi Insan Bertasawuf

March 12, 2026
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?

March 12, 2026
Aceh Bangkit atau Tertinggal: Saatnya Menata Ulang Arah Pendidikan

Aceh Bangkit atau Tertinggal: Saatnya Menata Ulang Arah Pendidikan

March 12, 2026
Lurah Jepang di Meulaboh

Lurah Jepang di Meulaboh

March 10, 2026

Tadarus – Surah Al-Baqarah ayat 11

March 10, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Kisah Bejat Predator Anak di Balik Seragam

Redaksi by Redaksi
July 2, 2025
in Artikel
0
Kisah Bejat Predator Anak di Balik Seragam
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Kadang merasa sedih, daerah sendiri kok gini, sih. Sebelumnya, ada pengaruh Ponpes yang “menggitukan” ya gitu deh, santriwatinya. Padahal, ia baru lulus P3K. Sekarang giliran pengelola Panti Asuhan, gitu lagi. Pelakunya oknum PNS lagi. Oknum ya, bulan semua. Duh, sang predator, tak bisa lihat bening dikit, main tancap. Ingat umur, anak bini di rumah, dan ingat Tuhan. Mari kita ungkap kasus yang lagi heboh di Pontianak ini sambil seruput kopi tanpa gula, wak.

Baca Juga

Tatanan Global Bergeser: Apakah Timur Tengah Siap Memasuki Era Post-American Security Order?

March 12, 2026
What is Scholasticide?

Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel

March 12, 2026

Pada Minggu malam, 29 Juni 2025, di saat langit Pontianak mulai beranjak gelap dan warga sibuk menikmati akhir pekan dengan mancing di tepian Sungai Kapuas, nonton Dracin, dan doa-doa sebelum tidur, satu operasi senyap dilakukan oleh Unit Jatanras Satreskrim Polresta Pontianak. Bukan operasi biasa. Bukan pula penggerebekan tikus-tikus berdasi. Ini tentang seorang laki-laki, berstatus Pegawai Negeri Sipil, penjaga panti sosial, yang seharusnya melindungi anak-anak terlantar, tapi justru menjelma menjadi predator paling menjijikkan yang pernah ada.

Dialah pagar makan tanaman. Bukan hanya makan, tapi mencabik-cabik, menyesap dengan rakus kepolosan anak-anak yang mempercayainya. “Ayap ye,” kata orang Sambas.

Bayangkan, wak! Di tempat yang mestinya menjadi pelukan terakhir dari dunia yang menelantarkan, seorang oknum malah menjadikan panti sosial sebagai panggung bejatnya. Ia tidak hanya mencederai fisik korban, ia menghancurkan kepercayaan anak-anak pada manusia.

Ia bukan tamu tak diundang. Ia adalah staf tetap di instansi pemerintahan, yang seharusnya mengabdi pada rakyat, pada bangsa, pada kemanusiaan. Tapi yang terjadi, ia malah mengabdi pada iblis di kepalanya. Seorang predator berseragam, yang mendekat bukan untuk menolong, tapi untuk memangsa.

Korban? Seorang anak di bawah umur. Anak yang semestinya bermain bola, belajar membaca, dan tertawa di sore hari. Kini, ia malah harus belajar tentang trauma, tentang ketakutan, tentang luka yang tidak bisa dijelaskan dengan kata. Luka yang mungkin akan dibawanya sampai dewasa, sampai usia pensiun, bahkan sampai liang kubur.

Perbuatan ini tidak hanya biadab, ia melampaui batas kata “jahat”. Ini bukan kejahatan biasa. Ini adalah pengkhianatan terhadap tanggung jawab, pengkhianatan terhadap manusia kecil yang tidak bisa melawan. Saat tindakan ini terendus dan mulai viral, pelaku tidak gentar. Ia malah berusaha membungkam. Mengintimidasi. Menutup mulut korban, agar aibnya terkubur bersama rasa takut.

Tapi tidak semudah itu, Ferguso.

📚 Artikel Terkait

Banda Aceh Kini Miliki Pusat Galeri Wisata di Ulee Lheue

Why an Acehnese Airline Chose Singapore over Indonesia

Mengapa Mahasiswa Wajib Magang?

Tetangga Depan Rumah

Unit Jatanras dan Unit PPA Satreskrim Polresta Pontianak bekerja senyap, tapi tajam. Mereka bukan sekadar polisi, mereka pagar baja di tengah runtuhnya kepercayaan publik. Mereka melawan tekanan, menembus kabut intimidasi, dan akhirnya menangkap pelaku. Tidak dengan tepuk tangan, tapi dengan gigi gemeretak dan dada membara. Karena siapa pun yang tahu kasus ini, pasti ingin menggenggam keadilan dan menghantamkan palu hukum berkali-kali ke kepala pelaku.

Kini, kasus sedang didalami. Karena dugaan awal, ini bukan aksi pertama. Bukan kejahatan tunggal. Mungkin sudah ada korban-korban lain, yang lebih muda, lebih diam, lebih terluka.

Kita harus bertanya,
di mana sistem pengawasan?
Bagaimana bisa pelaku bergerak selama ini tanpa terendus?
Apa SOP panti sosial kita, bila seorang predator bisa bebas berkeliaran di dalamnya?

Peribahasa “pagar makan tanaman” kini bukan lagi sindiran lembut. Ia telah berubah menjadi jerit ngeri anak-anak yang dikhianati oleh orang dewasa. Sebuah tragedi kemanusiaan yang harus dicatat, disorot, dan dikutuk habis-habisan.

Tak ada alasan, tak ada pembenaran, tak ada ruang maaf.

Siapa pun yang menyentuh anak-anak dengan niat bejat, adalah musuh bersama umat manusia. Negara, bila masih punya nurani, wajib memvonis pelaku dengan hukuman paling berat yang bisa diakomodasi undang-undang, karena jika hukum gagal memberi rasa takut, maka bangsa ini hanya menunggu giliran berikutnya, ketika serigala berkaki dua kembali menyamar sebagai pelindung.

Semoga keadilan bukan hanya kata-kata. Semoga anak-anak, yang kini menangis dalam diam, tahu… bahwa dunia belum sepenuhnya gelap. Bahwa masih ada yang berdiri untuk mereka.

Meski terlambat. Meski tidak semua luka bisa sembuh.

Foto Ai, bukan yang sebenarnya.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 81x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 70x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 66x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 61x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Terkait

Tatanan Global Bergeser: Apakah Timur Tengah Siap Memasuki Era Post-American Security Order?

by Dayan Abdurrahman
March 12, 2026
0

Oleh Dayan Abdurrahman Pendahuluan: Sebuah Perubahan yang Tidak Terelakkan Selama lebih dari tujuh dekade setelah Perang Dunia II, kehadiran militer Amerika Serikat di Timur Tengah telah menjadi semacam...

What is Scholasticide?

Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel

by Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
March 12, 2026
0

Al Chaidar Abdurrahman PutehDosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh Genosida yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina bukan sekadar tragedi kemanusiaan, melainkan ujian moral dan politik bagi dunia internasional....

Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

by Redaksi
March 12, 2026
0

Oleh Masrur Salamuddin Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 135/PUU-XXII/2024 menandai titik balik penting dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia, khususnya dalam desain penyelenggaraan pemilihan umum. Mulai 2029, keserentakan Pemilu nasional dan...

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?

by Redaksi
March 12, 2026
0

Oleh: Dr. Ir. TM Zulfikar, S.T., M.P., IPU. (Praktisi dan Akademisi Lingkungan Aceh) Aceh sering dipuji sebagai benteng terakhir hutan di Sumatera. Dalam berbagai forum, dari seminar akademik...

Next Post
Meniti Jalan Perbedaan: Pengalaman Kuliah di Negeri Kanguru

Meniti Jalan Perbedaan: Pengalaman Kuliah di Negeri Kanguru

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Tentang Kami
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Kirim Tulisan

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Punya tulisan menarik?
Kirim ke Redaksi via WhatsApp
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com