
Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Oleh Natasya UlyaKelas VIII SMP Negeri 7 Satu Atap Bandar Baru, Pidie JayaKetika sang mentariMulai semangat menyapa duniaBumi seolah-olah dihantam...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh MawaddahKelas VII SMP Negeri 3 Meureudu, Pidie Jaya, AcehGurukuEngkau adalah cahayaYang menerangi jiwaMenyinari gelapnya duniaEngkau adalah embun Nan membasahi hati...
Baca SelengkapnyaDetailsilustrasi : Unicaz.comOleh Lina ZulainiMata dan mulut ini masih begitu sempurnaKala dulu aku mengenalkanmu Alif BaKini, kalam Tuhan kita mulai...
Baca SelengkapnyaDetails::Siska Nur Fatimah::Berayun-ayun diterpa semilir bayuBerbisik-bisik antara randuBerpikir tak berkesudahan akan dirimuSenjata ku dobrakan akan hatimuApakah terlanjur patah bersemu biru ?Bengkak …...
Baca SelengkapnyaDetailsIlustrasi : WattpadDi saat sendiri jauh lebih sempurnaKetika tertawa jauh lebih nikmatDi dalam ketenangan jiwa menyejukkan pikiranSemua tak sama lagi...
Baca SelengkapnyaDetailsTetap Sama Walau Beribu TanyaTayangan itu mendoktrin kitaMemberikan citra emasnyaMeluapkan segala emosiBertingkah bijak padahal lebih busukMenempatkan dirinya pada tempatnyaMemikat seseorang...
Baca SelengkapnyaDetailsilustrasi WawkerKarya :Nathasya Angelliya Siapa takut hidup sendiri Mati hilang tertikam Serbuk cahaya ditelan Padaku yang terhormat laksana penjaga taman Melindungmu setia tanpa ada jenuh...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh NsyahAndai saja aku bisa..Diam sejenak dan berkata..Betapa aku sangat mengagumimu..Betapa kuingin berbincang denganmu..Betapa kuingin mengenalmu..Tapi kenapa selalu saja..Dada bergetar...
Baca SelengkapnyaDetailsDok.Dedikasi.wordpress.com Oleh :Naufal MunaSiswi kelas VIII SMP Swasta Darus Saadah Putri, Pidie JayaIbu bagaikan pahlawan bagiku. Dia rela berkorban demi anaknya...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Lina Zulaini Saat itu Aku terlalu ragu untuk melihat mata mu yang sembab Beberapa masa yang lalu Aku selalu...
Baca SelengkapnyaDetails© 2025 potretonline.com