
Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Oleh: Lina ZulainiTersimpan rasa takut saatku melihat tanggal iniEmbun di pelupukku nyatanya juga tak tinggal diamKetika angka itu mulai tibaPun...
Baca SelengkapnyaDetailsAku ini si pejalan larutPenikmat surya dan senjaAku tidak pernah merasa takutPada bahaya dan gelap gulitaTelah ku lalui ribuan malamBerjalan...
Baca SelengkapnyaDetails(Keluhan Bumi Persada)Oleh : Dhea Pradiza AnzelinProdi Perbankan Syariah, UIN Ar-raniryKetika fajar menyapa diantara rerumputan yang gersang Ada tertinggal setetes embun...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Najli AzkiaPelajar SMP Negeri 1 Bandar Dua, Pidie JayaYa AllahEngkau menciptakan segala isi bumiJuga diri iniKepada Mu, Aku bertasbihBedoa...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Naufal MunaKelas VIII SMP Darussa’adah Putri, Pidie JayaTuhanKami adalah makhlukmuCiptaanmu Kami hanya hamba sahayamuTuhanKami kian tidak tahu bersyukurTidak pernah...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Nur MasyitahPelajar Kelas VIII SMPN 2 Bandar Dua, Pidie Jaya, AcehMatahari merekah di ufuk timurMembuat dunia menjadi hangatTetesan air...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Natasya UlyaKelas VIII SMP Negeri 7 Satu Atap Bandar Baru, Pidie JayaKetika sang mentariMulai semangat menyapa duniaBumi seolah-olah dihantam...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh MawaddahKelas VII SMP Negeri 3 Meureudu, Pidie Jaya, AcehGurukuEngkau adalah cahayaYang menerangi jiwaMenyinari gelapnya duniaEngkau adalah embun Nan membasahi hati...
Baca SelengkapnyaDetailsilustrasi : Unicaz.comOleh Lina ZulainiMata dan mulut ini masih begitu sempurnaKala dulu aku mengenalkanmu Alif BaKini, kalam Tuhan kita mulai...
Baca SelengkapnyaDetails::Siska Nur Fatimah::Berayun-ayun diterpa semilir bayuBerbisik-bisik antara randuBerpikir tak berkesudahan akan dirimuSenjata ku dobrakan akan hatimuApakah terlanjur patah bersemu biru ?Bengkak …...
Baca SelengkapnyaDetails© 2025 potretonline.com