Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Oleh Tabrani YunisPerempuan itu terengah-engahMelahirkan bait-bait puisi di tanah basahDitariknya garis lurus mengikuti panahSemua luka tumpahBerdarahMewarnai warkahMenjadi sajak -sajak IndahPenawar...
Oleh Nova JuliaMahasiswi Prodi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN-Ar-Raniry, Banda Aceh4+Tanpa terasa kau sudah berbakti untuk negri...
Oleh Tabrani YunisihatTataplumat dalam-dalamPejamkan mata sejenakRasakan senyum mengulumsuka, ceria dan gembiradi balik luka mengangaitulah harudalam wajah-wajah lugumenyemburkan rindupada masa-masa baruLihatlah wajah lucusedikit...
Oleh: MardianaGuru MIN 5 Kota Banda AcehMutiara kelana.....Di ufuk timur matamu mulai pecah memerahmenyelinap muncul di bawah perahu sang bundaSuara terisak...
Oleh Faizan NubzaSambut sebuah hari dalam kerinduan yang telah menepi ke sebuah kalbuRasanya kerinduan itu enggan berlayar ke kalbu yang lainNamun apa...
Oleh MaulidaKelas XIII SMA Negeri 2 Sampoiniet, Aceh Jaya Akhir dari sebuah ceritaPilu, lara tenggelam bersama senjaTak banyak aksara yang dapat...
Oleh Tabrani YunisDari titik adabersua di ujung senggamaasal mula manusiaAllah meniupkan ruh dalam jiwaMaka adaRahasia Sang Pencipta Tak ada yang mampu...
Oleh Tabrani YunisGelegar - gelegar suara Berselimut gundah para penjaga rajaSeperti memelas belamengambil mukapenguasa - penguasa istanaSuara-suara digulung gelombang asaBeriak menuju...
Oleh Martha Redyana BabaSaling melemparkan gurauan di besi pembawa beritaHari itu tidak seperti biasanya Kami tidak menghiraukanmu kala ituEsoknya kami mendengar...
KAU PUISIKUKepada Pemilik hatiSetelah kejadian itu jiwaku menjadi puisi. Puisi-puisi telah menyerupai kepala,wajah juga tangan dan kakiku. Entah bagaimana lagi...
© 2026 potretonline.com