
Oleh : Isya FakrianiTaruni Kelas X APAT SMK Negeri 1 Jeunib, Bireuen Pagi itu terasa berbeda. Udara di sekolah seperti...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Rosadi Jamani Ini cerpen pertama saya di Februari 2026. Cerpen berdasarkan kisah nyata (based on true story). Kisah seorang...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh : Hurriyatuddaraini(Inong Literasi) “Abang…rindu…” Suara Nadia patah di tenggorokan. Ia berdiri di ambang pintu rumah mungil mereka, jerit hatinya...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh : Mustiar Ar Pasar Peunayong pagi itu hidup oleh suara orang-orang yang berjuang dengan caranya masing-masing. Amir berdiri di...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Asmaul HusnaInong Literasi Gundukan tanah merah itu masih basah. Kicauan burung sesekali terdengar, seolah mendendangkan simfoni kesedihan atas sebuah...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Ria FachriaInong Literasi (Berdasarkan penuturan dari Iza) Hujan turun sangat deras beberapa hari ini. Aku dan anak-anak sedang bermain...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh: Ilhamdi Sulaiman Warkop Babe Togap sore itu sunyi. Hanya suara kipas tua yang berputar pelan dan sendok yang sesekali...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Yusriman Mahasiswa S2 Kajian Budaya Universitas Andalas Man tumbuh di sebuah kampung kecil yang jalannya lebih sering berlumpur daripada...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Asmaul HusnaInong Literasi Purnama yang dahulu dirindukan telah lama menghilang, tergantikan sabit yang malu-malu bersembunyi di balik awan. Desir...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Hurriyatuddaraini(Inong Literasi) Aku berjalan pelan di belakang Ibu. Kakiku tenggelam sedikit setiap melangkah. Tanahnya lembek, dingin, dan berbau lumpur....
Baca SelengkapnyaDetails© 2025 potretonline.com