
Oleh Hurriyatuddaraini(Inong Literasi) Aku berjalan pelan di belakang Ibu. Kakiku tenggelam sedikit setiap melangkah. Tanahnya lembek, dingin, dan berbau lumpur....
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Asmaul Husna(Inong Literasi) Syifa, gadis berkerudung biru itu tampak gelisah. Jemarinya sibuk memainkan sedotan plastik di dalam gelas yang...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Asmaul Husna(Inong Literasi) Jam menunjukkan pukul 00.30 WIB, namun mata enggan terpejam. Padahal biasanya pukul 22.00 aku sudah berkelana...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Alya Azzahra Senja menyelimuti langit dengan warna kuning keemasan, seperti goresan kuas raksasa yang digerakkan perlahan oleh tangan tak...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Hamdani Mulya Suara syair Didong Gayo yang bersenandung syahdu tiba-tiba menghilang perlahan tenggelam, dibawa suara arus gemuruh banjir bandang...
Baca SelengkapnyaDetailsKarya Hamdani Mulya Bu Cut Aminah berdiri di depan rumahnya, matanya merah membengkak menahan air mata. Sungai Krueng Pase yang...
Baca SelengkapnyaDetailsKarya Rasya RamadhaniSiswa SMAN 1 LHOKSEUMAWE Hujan terus mengguyur, membasahi bumi Serambi Mekah yang kini berubah menjadi lautan luas. Sungai-sungai...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Rosadi Jamani Disclaimer, ini hanya fiksi. Jangan bilang ini, fakta, ya. Simak cerpen absurd ini sambil seruput Koptagul, wak!...
Baca SelengkapnyaDetailsNYANYIAN TERAKHIR CENDRAWASIH Oleh Ilham Sulaiman “Tanah ini bukan milik kami saja, ini milik roh-roh yang kau injak dengan sepatu...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Ilhamdi Sulaiman Sejak pabrik tempat Kardi bekerja mengalami penurunan produksi, hidupnya perlahan seperti dijatuhkan dari tebing yang curam. Tak...
Baca SelengkapnyaDetails© 2025 potretonline.com