Dengarkan Artikel
Oleh: Antoni Abdul Fattah
Penulis adalah Tenaga Kependidikan di MIN Sabang dan Penulis Buku
Hari ini, aku masuk kuliah dalam semester baru, Semester V. Memang sih, seharusnya aku tidak boleh bergembira, karena kini aku telah memasuki jenjang perkuliahan yang makin menantang ditambah usia yang terus meningkat tajam.
Di DAMRI, aku masih merasa gembira, karena aku bisa kembali bertemu dengan teman-temanku, seperti Risma, Faisal, Hilman. Aku bersyukur karena aku memiliki teman-teman seperti mereka. Selain itu, ada alasan lain, kenapa aku bergembira.
Hal ini disebabkan oleh Banda Aceh. Aku suka tinggal, bahkan ingin sekali aku menetap di sini, karena lebih banyak inspirasi untuk menulis. Aku kan punya hobi menulis.
Tak terasa, DAMRI sudah tiba di IAIN Ar-Raniry, sebuah kampus yang menjadi salah satu unggulan di Nanggroe Aceh Darussalam. Aku pun langsung turun dari angkutan sekolah tersebut untuk langsung menuju ke kampusku tercinta. Sesampainya aku di kampus, aku langsung menuju ke ruang 80 untuk mengikuti mata kuliah Jurnalistik. Matakuliah yang menjadi favoritku.
Ada alasan lain kenapa aku begitu bersemangat dengan mata kuliah ini, ya, kalian pasti tahu lah di mata kuliah ini ada adik-adik letting yang cantik-cantik dan pintar-pintar. Tentu saja di antaranya ada yang aku taksir, istilah anak muda jaman sekarang gebetan.
***
“Woi… kenapa bengong aja…,” kata temanku Faisal, membuyarkan lamunanku.
“Eh.. lo Sal. Biasa lah aku lagi mikir tema tulisan yang ingin aku buat lagi….,” kataku berbohong. Padahal aku lagi mikirin yang lain. Hehehehe….
“Eh, aku ada tulisan baru lho. Tapi, belum selesai ku ketik. Nanti deh pas sudah selesai, tolong lo edit ya?”
“Ya, tentu saja!” kataku mantap.
“Eh Sal. Lo punya nggak cewek yang lo sukai di ruangan kita?” tanyaku mengawali pembicaraan iseng-iseng.
“Nggak ada. Lo ada?” Faisal balik bertanya.
“wuada dung…,” jawabku mantap.
“Siapa?
“Ada saja…,” sahutku.
“Pasti adik letingkan?” selidiknya padaku.
“Eehh… Enak aja… Bukan whoi..,” tipuku. (Padahal iya. Hehehe…)
“Pasti Risma!” tebaknya yakin.
“Bukan! Dia cuma kawan saja…,” aku mengelak. (Tapi kalo ini memang benar, kalo aku tidak suka iya).
“Kalo bukan dia… Pasti cewek yang berkacamata itu…?” Faisal kembali mencoba menerka.
📚 Artikel Terkait
“Siapa pake kacamata? Bilqis?” aku balik bertanya.
“Ya. Siapa lagi!”
“Bukan lah yang itu…Kamu udah salah.”
“Jadi siapa juga? Tapi aku yakin, pasti Risma yang lo suka. Karena lo kan suka ngobrol sama dia. Dan obrolan lo tuh pasti nyambung…,”
“Alah… Terserah lo aja deh Sal. Lo penasaran kan? Besok aja lo jawab lagi dan jika benar pasti ku iyakan…” ujarku.
Padahal, aku pasti akan berbohong lagi pada si Faisal. Malas aku, karena pasti bakal jadi omongan lokal dan aku belum siap mental (alah, kayak mau perang aja).
***
Di kampus, Aku pun duduk-duduk santai sama si Risma, sembari membaca kumpulan cerpen buatannya, yang disuruh nilai pada aku. Lalu, gebetan aku itu muncul bersama temannya. Tepat sekali, mataku beradu dengan matanya, cewek yang aku taksir itu. Namun,
“Eh Ton, jurnalisme sastrawi apa pengertiannya?” Tanya si Hilman.
“Jurnalisme sastrawi itu adalah jurnalisme naratif, jurnalisme yang bertutur yang diperkenalkan oleh Thomas Wolfe pada tahun 197…,” jawabku, sengaja mengalihkan perhatian darinya.
“Tunggu dulu, aku catat..,” jawab Hilman sambil mengambil buku tulisnya.
Setelah itu, untuk sementara aku tidak bisa memandangnya lagi karena aku harus belajar, karena hari ini Jurnalistik, midterm.
***
Jam 2 lebih sedikit, aku sudah stand by di ruang 80. Sebelum berangkat ke kampus, aku sudah membulatkan tekad untuk mengutarakan perasaanku kepadanya.
Waktu yang kutunggu-tunggu pun tiba. Dia naik ke ruang 80 bersama temannya.
“Sudah masuk?” Tanya temannya.
“Belum,” jawabku.
Yosh… aku harus segera melepaskannya…
“Hai ****, eh ada yang ingin kutanyakan nih sama lo. Tapi cuma berdua aja…”
“Wah, penting nih kayaknya, deep interview nih,” cela temannya bercanda. Temannya itu pun keluar dari ruang 80.
Aku pun memulai pembicaraan, “Eh, ada yang ingin kutanyakan nih sama lo, ***,” aku berusaha menahan gugup.
“Mau tanya apa emangnya?” ujar ****. Dia masih sibuk dengan buku kuliahnya. Ketika dia bilang “tanya apa,” aku bertambah deg-degan. Seperti suara mesin denyut jantung yang akan segera berhenti, karena pasiennya akan segera meninggal.
“Dari pertamakali kamu masuk kuliah dan sejak kemarin aku ingin kamu tahu sesuatu dariku. Aku sebenarnya su…,” belum habis mulut ini berucap. Teman-temanku sudah mulai berdatangan ke sini.
“Eh, sudah dulu ya, besok lagi aku bilang,” kataku langsung menuju ke kursi, karena Dosen Jurnalistik kami sudah memasuki ke ruangan. Tanda kalau pelajaran akan segera dimulai.
Sejak kulitku menyentuh kursi belajar, pikiranku mulai berubah. Aku akan menunda luapan perasaan ini dalam waktu yang lama. Aku tak tahu kapan aku akan mengutarakan perasaanku lagi padanya. Tapi, aku sudah bersiap. Bahwa perasaan ini akan kuutarakan ketika aku wisuda nanti.
Aku tidak tahu respon apa yang akan diberikannya nanti. Aku tak tahu. Apakah dia menerima cintaku ini atau tidak. Yang jelas pada saat itu aku sudah siap mental.
Ini bukan kegombalan. Tapi, keseriusan yang amat sangat. Aku tidak main-main.
Yang jelas, pada saat itu tiba, perasaan ini akan terungkap…[]
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






