Dengarkan Artikel
Oleh Sarah Larissa
Mahasiswa semester V, Jurusan Ekonomi Syariah,Fakultas Ekonomi Bisnis Islam,UIN Ar- Raniry, Banda Aceh.
Banda Aceh, 16 November 2024 – Di sudut SPBU Lamnyong di antara deru kendaraan dan suara bising perkotaan,seorang anak laki laki berusia 12 tahun berdiri dengan sebuah kotak kardus di tangannya. Tubuhnya terlihat sehat,namun jika diperhatikan lebih dekat ada kesan lelah yang tidak bisa disembunyikan. Wajahnya berusaha terlihat ceria,tetapi matanya terlihat sayu, mengungkapkan cerita berbeda. Ia berdiri di sana setiap hari mengenakan kostum badut yang terlihat lusuh .
Tujuannya melakukan itu untuk mengumpulkan receh demi receh dari pengendara yang lewat untuk menyambung hidupnya. Setiap kali seseorang menjatuhkan uang ke dalam kotaknya,anak laki laki itu hanya mengucapkan “terima kasih” dengan suara pelan,nyaris tanpa ekspresi,tidak banyak bicara dan tidak memaksa,matanya yang kosong seolah mencerminkan kepasrahan,seolah-olah ia sudah terlalu lelah untuk berharap lebih dari nasibnya.
Meskipun begitu, ia tetap berusaha memberikan senyumnya. Jelas itu bukan senyum bahagia. Ada sesuatu yang hilang dari semangatnya bertahan. Anak laki-laki ini berasal dari Lampulo,sebuah daerah di pinggiran Banda Aceh. Setiap hari ia menumpang Transkutaraja,transportasi umum kota untuk sampai di SPBU Lamnyong. Perjalanan ini sudah menjadi rutinitasnya sejak dua tahun lalu,ketika ia pertama kali terjun ke jalanan untuk mengemis.
Ia memilih SPBU Lamnyong bukan tanpa alasan. Di tempat itu ia merasa mengenal banyak orang,merasa lebih aman berada di tengah keramaian yang tidak asing. Setiap hari,ia berhadapan dengan kerasnya kehidupan kota,mengandalkan belas kasihan orang-orang yang mungkin sesekali tersentuh melihat seorag anak kecil dalam kostum badut berdiri di pinggir jalan.Namun bagi banyak banyak orang,ia hanyalah salah satu dari banyak pengemis anak-anak yang kini semakin sering dilihat di jalan jalan.
Tak banyak yang tahu atau peduli tentang cerita di balik senyum cerah dan kostum warna-warni yang ia kenakan. Anak ini hanyalah salah satu dari banyak anak di jalanan yang terpaksa mengambil peran sebagai pencari nafkah di usia yang terlalu dini. Di balik kostum badut yang ceria,tersembunyi beban hidup yang berat.Mereka adalah korban dari situasi yang seringkali berada di luar kendali mereka sendiri,terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang sulit diputus.
Setiap senyuman yang mereka tawarkan adalah upaya terakhir untuk bertahan,untuk tetap merasa manusiawi di tengah kerasnya kehidupan. Meskipun ia terlihat tangguh,anak laki-laku ini sebenarnya hanyalah seorang bocah yang terpaksa dewasa sebelum waktunya. Ia butuh lebih dari sekadar receh di dalam kotak kardusnya.Ia butuh harapan,kesempatan dan dukungan untuk bisa kembali merasakan masa kecil yang semestinya penuh kebahagiaan dan bukan tuntutan hidup yang membebani.
Hidupnya di jalanan sudah berlangsung selama dua tahun, membawa berbagai cerita yang bisa menguras rasa iba, rasa peihatin kita melihat mereka yang seharusnya bisa mengecap pendidikan sebagaimana anak-anak lain. Mereka adalah anak-anak yang kehilangan hak atas pendidikan, bermain, dan tumbuh kembang secara layak. Padahal dalam konvensi hak anak PBB, setiap anak berhak mendapatkan pendidikan, perlindungan, dan kehidupan yang layak.
Namun, anak laki-laki ini, seperti banyak anak pengemis lainnya, terputus dari hak-hak tersebut. Ia tidak lagi bersekolah karena harus mencari uang untuk keluarganya. Masa kecil yang seharusnya penuh dengan belajar dan bermain tergantikan oleh tuntutan hidup yang berat.
📚 Artikel Terkait
Hak anak atas perlindungan dari eksploitasi juga tampaknya diabaikan. Meski ia terlihat mandiri, kehidupan jalanan yang ia jalani membuka peluang besar terhadap berbagai bentuk eksploitasi dan ancaman. Hal ini mencerminkan kegagalan sistem hukum dan sosial dalam melindungi anak-anak yang berada di situasi rentan.
Dari perspektif kesehatan mental dan fisik, Kehidupan di jalanan memengaruhi anak-anak secara fisik dan psikologis. Anak ini tampak sehat secara fisik, tetapi kelelahan emosional terlihat jelas dari caranya berbicara dan ekspresi wajahnya. Mata kosong dan ucapan “terimakasih” yang monoton menunjukkan potensi trauma psikologis akibat tekanan hidup yang ia alami di usia dini. Stres dari tanggung jawab yang tidak sesuai usianya bisa berdampak buruk pada perkembangan mentalnya.
Anak-anak seperti dia rentan mengalami depresi,kecemasan, atau bahkan kehilangan harapan akan masa depan. Secara fisik, mereka juga rentan terhadap penyakit akibat kurangnya nutrisi dan lingkungan yang tidak higienis.
Sementara dari perspektif ekonomi keluarga, kisah anak ini juga mencerminkan tekanan ekonomi yang dihadapi keluarganya. Kehilangan ayah sebagai tulang punggung keluarga dan kondisi ibu yang sakit membuat mereka terjebak dalam kemiskinan. Kakak perempuannya bekerja di luar kota, tetapi penghasilannya tidak cukup membantu, sementara abangnya menganggur. Dalam situasi seperti ini, anak-anak sering kali menjadi “korban pertama” yang terpaksa bekerja atau mengemis untuk menopang ekonomi keluarga.
Ini menunjukkan perlunya dukungan ekonomi langsung kepada keluarga miskin untuk mencegah anak-anak mereka turun ke jalanan. Program bantuan sosial, seperti subsidi langsung atau akses ke layanan kesehatan gratis, dapat mengurangi beban keluarga dan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk kembali ke sekolah.
Selanjutnya dalam perspektif lingkungan sosial, anak ini memilih SPBU Lamnyong sebagai tempat ia mengemis karena banyak orang yang ia kenal sering lewat di sana. Lingkungan sosial di sekitar lokasi ini mungkin memberikan rasa aman baginya, tetapi juga membuka peluang untuk eksploitasi oleh pihak-pihak tertentu.
Masyarakat sering kali menghadapi dilema: memberi uang langsung kepada anak-anak pengemis atau tidak. Memberi uang memang bisa membantu mereka sementara waktu, tetapi di sisi lain, hal ini dapat memperkuat pola pengemis sebagai“pekerjaan” bagi anak-anak.
Solusi yang lebih berkelanjutan adalah dengan memberikan bantuan kepada lembaga sosial yang fokus pada penanganan anak-anak jalanan atau mendukung program pelatihan keterampilan bagi mereka.
Perspektif yang tidak kalah penting dilihat adalah lewat perspektif masa depan tanpa intervensi yang tepat, masa depan anak-anak pengemis seperti ini akan sangat terbatas. Mereka menghadapi risiko besar terjebak dalam pekerjaan informal yang tidak berkelanjutan, seperti buruh kasar atau pengemis dewasa. Siklus kemiskinan yang mereka alami akan terus berlanjut dari generasi ke generasi.
Namun, masa depan mereka bukan berarti tanpa harapan. Jika pemerintah, lembaga sosial, dan masyarakat bersinergi, anak-anak ini bisa diberi kesempatan untuk mengembangkan diri. Program rehabilitasi, pendidikan, dan pelatihan keterampilan bisa menjadi pintu keluar bagi mereka untuk meninggalkan jalanan dan membangun kehidupan yang lebih baik.
Jadi, anak laki-laki di SPBU Lamnyong ini hanyalah satu dari ribuan anak yang terjebak dalam kehidupan jalanan. Mereka adalah cerminan masalah yang jauh lebih besar: kemiskinan, kurangnya akses pendidikan, dan lemahnya perlindungan terhadap hak anak.
Oleh sebab itu, memastikan masa depan yang lebih baik bagi mereka membutuhkan kerja sama dari semua pihak. Pemerintah harus memperkuat program perlindungan anak dan bantuan sosial. Lembaga sosial dapat menjadi jembatan untuk memberikan pendidikan dan pelatihan. Masyarakat juga perlu lebih sadar bahwa memberikan uang saja tidak cukup; langkah yang lebih berkelanjutan adalah membantu mereka keluar dari jalanan. Anak-anak seperti dia bukan hanya tanggung jawab keluarganya, tetapi juga tanggung jawab kita semua. Mereka adalah bagian dari masa depan bangsa dan masa depan itu tidak boleh dibiarkan hancur di sudut jalan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






