Dengarkan Artikel
Oleh : Dhiya Difa Nasywa Ul-Haq
Mahasiswa Semester V, Jurusan perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Islam Ar-raniry, Banda Aceh
Pengemis adalah orang- orang yang mencari penghasilan dan mengharap belas kasihan orang lain. Fenomena pengemis saat ini hampir merata terjadi di wilayah Indonesia. Demikian juga halnya di Aceh, khususnya di kota Banda Aceh, terutama di tempat ibadah, lampu merah, di sekitar area taman kota, dan di tempat keramaian lainnya.pengemis dapat ditemukan dengan mudah. Mereka sering kali terlihat duduk atau berdiri dengan membawa kardus atau alat musik dengan mengandalkan suara mereka, sambil meminta uang kepada orang yang melintas.
Beberapa pengemis bahkan menggunakan alasan tertentu, seperti kondisi kesehatan yang buruk atau memiliki keluarga yang membutuhkan pertolongan. Keberadaan pengemis ini bukan hanya terbatas pada satu kelompok usia atau jenis kelamin, melainkan juga melibatkan anak-anak, dewasa, hingga orang tua. Beberapa pengemis bahkan berkelompok, bekerja sama dengan keluarga atau teman untuk memperolehlebih banyak uang dari orang yang lewat.
Namun, keberadaan pengemis di perkarangan kota Banda Aceh juga seringkali menjadi titik perhatian bagi warga setempat maupun pemerintah. Beberapa orang merasa kasihan dan memberikan uang sebagai bentuk belas kasihan, sementara yang lain merasa terganggu dengan kehadiran mereka, terutama jika pengemis tersebut bersikap agresif dalam meminta-minta.
Di sisi lain, pemerintah dan sejumlah organisasi sosial berupaya untuk menangani masalah ini dengan cara yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Di tengah keramaian pasar Aceh,terdapat seorang pria tua yang sedang mengelilingi toko bersama anak perempuannya. Wajahnya yang keriput, matanya yang tertutup rapat tak bisa melihat area di sekitarnya. Ia adalah seorang pengemis buta, yang setiap hari mengandalkan belas kasih orang-orang yang melintas untuk bertahan hidup. Sejak kecelakaan yang menghilangkan penglihatannya bertahun-tahun yang lalu, ia terpaksa hidup dalam keterbatasan. Hidupnya semakin berat ketika istrinya meninggal beberapa tahun lalu, meninggalkannya dengan anak perempuan mereka dan memutuskan menjadi seoranag pengemis dikarenakan tidak memungkinkan bekerja layaknya seperti orang normal biasanya.
Mereka berasal dari kota Bireun dan mereka sudah mengemis selama lebih kurang 5 tahun, titik mereka beroperasi hanya di sekitaran pasar Aceh dan area Banda Aceh saja. mereka tidak bisa beroperasi ke luar Aceh dikarenakan tidak adanya biaya. Alasan mereka dari Bireun ke Banda Aceh karena menghadapi keterbatasan dalam bekerja, sementara anaknya mungkin masih terlalu muda atau tidak memiliki pekerjaan tetap untuk mendukung keluarga. Dengan kondisi ini, mereka merasa tidak ada pilihan lain selain berusaha mencari sedikit uang di kota besar seperti Banda Aceh, yang dianggap memiliki lebih banyak peluang untuk bertahan hidup.
Penulis sempat mewawancarainya. Dari hasil observasi dan wawancara yang pemulis lakukan bertanya tentang pendapatan dan durasi pengemis perhari di area pasar Aceh. Ia mengatakan bahwa durasi bapak dan anak tersebut perhari mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB. Dan mereka mengatakan bahwa pendapatan mereka perhari biasanya tidak tentu,kadang 50 ribu kadang lebih.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini
















