• Latest
RASA IBA TERHADAP PENGEMIS DI BANDA ACEH DAN TANTANGAN SOSIALNYA

RASA IBA TERHADAP PENGEMIS DI BANDA ACEH DAN TANTANGAN SOSIALNYA

November 11, 2024

Di Bawah Langit yang Sama: Takjil Ramadan, Paskah, dan Taut Persaudaraan

Maret 14, 2026
Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

Maret 14, 2026
Presiden Pedofil?

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026

Pergi dan Kembali

Maret 14, 2026

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

Maret 14, 2026
Air Keras di Tengah Malam Jakarta

Air Keras di Tengah Malam Jakarta

Maret 14, 2026
Siapa  yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah

Siapa yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah

Maret 14, 2026
Melihat Perang Iran – Israel/AS Melalui Teori James C. Scott

Belajar dari Geopolitik Timur Tengah: Apa Pelajaran bagi Negara Berkembang?

Maret 14, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

RASA IBA TERHADAP PENGEMIS DI BANDA ACEH DAN TANTANGAN SOSIALNYA

Redaksi by Redaksi
November 11, 2024
in Aceh, Artikel, Banda Aceh, Bidik, Dinas Sosial, FEB UIN Ar-Raniry, gepeng, POTRET Budaya
0
RASA IBA TERHADAP PENGEMIS DI BANDA ACEH DAN TANTANGAN SOSIALNYA
585
SHARES
3.2k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Dhiya Difa Nasywa Ul-Haq

Mahasiswa Semester V, Jurusan perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Islam Ar-raniry, Banda Aceh

Baca Juga

Di Bawah Langit yang Sama: Takjil Ramadan, Paskah, dan Taut Persaudaraan

Maret 14, 2026
Presiden Pedofil?

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026
Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

Maret 14, 2026

Pengemis adalah orang- orang yang mencari penghasilan dan mengharap belas kasihan orang lain. Fenomena pengemis saat ini hampir merata terjadi di wilayah Indonesia. Demikian juga halnya di Aceh, khususnya di kota Banda Aceh, terutama di tempat ibadah, lampu merah, di sekitar area taman kota, dan di tempat keramaian lainnya.pengemis dapat ditemukan dengan mudah. Mereka sering kali terlihat duduk atau berdiri dengan membawa kardus atau alat musik dengan mengandalkan suara mereka, sambil meminta uang kepada orang yang melintas.

Beberapa pengemis bahkan menggunakan alasan tertentu, seperti kondisi kesehatan yang buruk atau memiliki keluarga yang membutuhkan pertolongan. Keberadaan pengemis ini bukan hanya terbatas pada satu kelompok usia atau jenis kelamin, melainkan juga melibatkan anak-anak, dewasa, hingga orang tua. Beberapa pengemis bahkan berkelompok, bekerja sama dengan keluarga atau teman untuk memperolehlebih banyak uang dari orang yang lewat.

Namun, keberadaan pengemis di perkarangan kota Banda Aceh juga seringkali menjadi titik perhatian bagi warga setempat maupun pemerintah. Beberapa orang merasa kasihan dan memberikan uang sebagai bentuk belas kasihan, sementara yang lain merasa terganggu dengan kehadiran mereka, terutama jika pengemis tersebut bersikap agresif dalam meminta-minta.

Di sisi lain, pemerintah dan sejumlah organisasi sosial berupaya untuk menangani masalah ini dengan cara yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Di tengah keramaian pasar Aceh,terdapat seorang pria tua yang sedang mengelilingi toko bersama anak perempuannya. Wajahnya yang keriput, matanya yang tertutup rapat tak bisa melihat area di sekitarnya. Ia adalah seorang pengemis buta, yang setiap hari mengandalkan belas kasih orang-orang yang melintas untuk bertahan hidup. Sejak kecelakaan yang menghilangkan penglihatannya bertahun-tahun yang lalu, ia terpaksa hidup dalam keterbatasan. Hidupnya semakin berat ketika istrinya meninggal beberapa tahun lalu, meninggalkannya dengan anak perempuan mereka dan memutuskan menjadi seoranag pengemis dikarenakan tidak memungkinkan bekerja layaknya seperti orang normal biasanya.

Mereka berasal dari kota Bireun dan mereka sudah mengemis selama lebih kurang 5 tahun, titik mereka beroperasi hanya di sekitaran pasar Aceh dan area Banda Aceh saja. mereka tidak bisa beroperasi ke luar Aceh dikarenakan tidak adanya biaya. Alasan mereka dari Bireun ke Banda Aceh karena menghadapi keterbatasan dalam bekerja, sementara anaknya mungkin masih terlalu muda atau tidak memiliki pekerjaan tetap untuk mendukung keluarga. Dengan kondisi ini, mereka merasa tidak ada pilihan lain selain berusaha mencari sedikit uang di kota besar seperti Banda Aceh, yang dianggap memiliki lebih banyak  peluang untuk bertahan hidup.

Penulis sempat mewawancarainya. Dari hasil observasi dan wawancara yang pemulis lakukan bertanya tentang pendapatan dan durasi pengemis perhari di area pasar Aceh. Ia mengatakan bahwa durasi bapak dan anak tersebut perhari mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB. Dan mereka mengatakan bahwa pendapatan mereka perhari biasanya tidak tentu,kadang 50 ribu kadang lebih.

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 191x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 181x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 118x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 116x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 90x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Tags: #pengemisLiterasi
SummarizeShare234
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

#Cerpen

Pergi dan Kembali

Maret 14, 2026
Bedah buku

Bedah Buku – Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition

Maret 3, 2026
Artikel

Bedah Buku – Kitab Kebijaksanaan Orang-Orang Gila (Uqalā’ al-Majānīn)

Maret 2, 2026
Kampus

Dialetika Kampus

Februari 27, 2026
Next Post
Pengemis Lapangan Tugu USK

Pengemis Lapangan Tugu USK

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com