Dengarkan Artikel
Zulkifli Abdy
KITA sedang berada di tapal batas waktu, tak lama lagi kita akan meninggalkan tahun 2023, dan tahun 2024 pun menjelang.
Akrobat-akrobat politik yang kita saksikan akhir-akhir ini, sungguh merupakan pemandangan yang tidak baik bagi kehidupan berdemokrasi kita.
Bukankah dalam demokrasi, di samping hasil, proses jauh lebih penting.
Proses yang buruk boleh jadi akan lebih dikenang khalayak daripada capaian yang gilang-gemilang sekalipun.
Politik sangat mungkin dilakukan dengan berbagai macam cara, tetapi tidak dengan menghalalkan segala cara, karena ada nilai-nilai atau norma yang menyertainya.
Alur politik sedapatnya mengalir dan bermuara bukan hanya pada kekuasaan semata, tetapi lebih dari itu dapat pula membawa kemaslahatan dan kesejahterakan bagi rakyat.
Yang terjadi sekarang justru suatu pertunjukkan persaingan antar kelompok semakin mencolok, bahkan tidak tertutup kemungkinan adanya penggunaan instrumen kekuasaan untuk tujuan politik.
Sungguh ironi, rakyat yang berdaulat hanya legawa dan tak berdaya menyaksikan fenomena yang terjadi, dan hanya menjadi subordinat atau pelengkap dalam proses politik tersebut.
Padahal secara demokrasi, rakyatlah sesungguhnya yang ‘berkuasa’, dan memiliki hak untuk menentukan arah demokrasi.
Sesuatu yang jamak dan masif kita saksikan di tahun politik ini, politisi berlomba-lomba dengan berbagai macam cara dan siasat untuk mempengaruhi masyarakat, bila perlu dengan iming-iming jangka pendek yang menggugah minat.
Pesantren yang selama lima tahun relatif sepi dari kunjungan, tiba-tiba saja ‘kebanjiran’ kunjungan dari berbagai kalangan dan kelompok kepentingan.
Demikian pula tokoh-tokoh agama, yang biasanya dihujat dan dikerdilkan bahkan difitnah sedemikian rupa, tiba-tiba saja didatangi banyak orang.
Tak jarang pula kita melihat para tokoh-tokoh agama tersebut dicium tangannya yang terkesan teramat syahdu.
Pertanyaannya, apakah sesederhana itu politik sebagai instrumen demokrasi kita perlakukan?
Kita jangan sampai hipokrit, dan terjebak menggunakan akal sempit, sehingga menjadi arogan, apalagi ketika kewenangan ada dalam genggaman.
Di era moderen ini, dimana masyarakat telah semakin cerdas untuk dapat memilah dan memilih, serta teknologi informasi pun juga telah semakin canggih.
Dalam kondisi seperti ini, mestinya waham politik lebih tanggap dan bijak, untuk kemudian dapat menyelaraskan keberadaannya dengan perkembangan zaman.
📚 Artikel Terkait
Namun faktanya, perkembangan teknologi informasi itu justru kerap disalahgunakan sebagai media propaganda.
Kondisi ini bukan hanya mengabaikan perkembangan zaman, bahkan telah membawa kita mundur jauh ke belakang.
Tidakkah kita merasa malu, fenomena yang sehari-hari kita saksikan di panggung politik nasional, yang telah menjadi pergunjingan di tengah masyarakat luas.
Ada yang menjadikannya sebagai narasi untuk berolok-olok, bahkan ada juga sekelompok komedian yang menjadikannya sebagai bahan lawakan.
Begitu masifnya fenomena itu terlihat, termasuk keputusan dari lembaga Yudikatif yang telah mengundang pro dan kontra di tengah masyarakat, sungguh sesuatu yang sulit untuk disembunyikan.
Kata orang bijak; “Kita dapat memperdaya satu atau beberapa orang pada satu kesempatan, tetapi kita tidak mungkin memperdaya semua orang pada saat yang bersamaan”.
Politik sepatutnya diarahkan untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa, memelihara fakir miskin, yang akhirnya bermuara pada kesejahteraan rakyat.
Kalau tidak, politik hanya akan menjadi pertunjukan ‘komedi murahan’ yang sesungguhnya tidak lucu, bahkan naif.
Yang lebih mengkhawatirkan, keadaan ini tidak akan menghasilkan apa-apa, selain hanya tradisi pengulangan siklus lima tahunan belaka, walaupun dikemas sedemikian rupa, sehingga terkesan ‘megah’.
Sudah saatnya kita ‘rela’ untuk meninggalkan semua itu, dan mengubah pola pikir yang lebih ditujukan untuk kemajuan bangsa semata.
Dan tidak lagi berlama-lama berada dalam situasi dan kondisi yang telah terbukti tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap kemajuan bangsa kita.
Jika kita benar-benar bertumpu pada pijakan untuk membangun bangsa, sesuai dengan apa yang dicita-citakan para pendiri bangsa ini, agaknya menjadi tidak penting siapa yang akan memimpin bangsa ini ke depan.
Dengan demikian kita tidak lagi melihat pada sosok dari calon pemimpin semata, melainkan lebih pada visinya untuk membangun bangsa dan menyejahterakan rakyat.
Rakyat kini mendambakan kehadiran seorang pemimpin yang dapat membawa bangsa ini lebih maju lagi dimasa mendatang, dan Indonesia segera terbebas dari krisis multidimensi.
Pemimpin yang benar-benar mengayomi rakyat, menegakkan keadilan bagi semua, dan membangun iklim demokrasi yang benar-benar demokratis, bukan justru sebaliknya.
Siapapun pemimpin kita ke depan, setidaknya dapat memenuhi harapan tersebut.
Pemimpin yang memiliki kecakapan untuk kemudian dapat memperkecil rentang ketertinggalan bangsa kita dari bangsa lain, yang kian hari terasa semakin jauh.
Sudah saatnya kita berhenti menjadikan politik sebagai wahana ‘permainan’ belaka, yang berpotensi mencabik-cabik demokrasi itu sendiri.
Yang pada akhirnya hanya merupakan ajang untuk melakukan tipu-daya terhadap rakyat, yang telah terlalu lama menanti dalam ketidakpastian.
Sudah saatnya pula kita menjadikan politik sebagai sarana untuk kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat, bukan justru sebaliknya, kemunduran bangsa yang menyengsarakan rakyat.
Kalau kita bertekad dan bersungguh-sungguh untuk semua itu, tidak mustahil angan-angan akan menjadi harapan, dan harapan sangat mungkin pula menjadi kenyataan.
Bukankah kalau kita ada kemauan, Tuhan akan selalu membukakan jalan bagi kita.
Barangkali inilah percikan renungan dihari-hari menjelang pergantian tahun ini, yang kita harapkan akan menjadi awal dari kebangkitan bangsa Indonesia menuju masadepan yang gilang-gemilang.
Semoga!
(Banda Aceh, 31 Desember 2023)
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





