POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

CATATAN KECIL DI BALIK HARAPAN BESAR

RedaksiOleh Redaksi
December 31, 2023
🔊

Dengarkan Artikel

 

Zulkifli Abdy

KITA sedang berada di tapal batas waktu, tak lama lagi kita akan meninggalkan tahun 2023, dan tahun 2024 pun menjelang.

Akrobat-akrobat politik yang kita saksikan akhir-akhir ini, sungguh merupakan pemandangan yang tidak baik bagi kehidupan berdemokrasi kita.
Bukankah dalam demokrasi, di samping hasil, proses jauh lebih penting.
Proses yang buruk boleh jadi akan lebih dikenang khalayak daripada capaian yang gilang-gemilang sekalipun.

Politik sangat mungkin dilakukan dengan berbagai macam cara, tetapi tidak dengan menghalalkan segala cara, karena ada nilai-nilai atau norma yang menyertainya.
Alur politik sedapatnya mengalir dan bermuara bukan hanya pada kekuasaan semata, tetapi lebih dari itu dapat pula membawa kemaslahatan dan kesejahterakan bagi rakyat.

Yang terjadi sekarang justru suatu pertunjukkan persaingan antar kelompok semakin mencolok, bahkan tidak tertutup kemungkinan adanya penggunaan instrumen kekuasaan untuk tujuan politik.

Sungguh ironi, rakyat yang berdaulat hanya legawa dan tak berdaya menyaksikan fenomena yang terjadi, dan hanya menjadi subordinat atau pelengkap dalam proses politik tersebut.
Padahal secara demokrasi, rakyatlah sesungguhnya yang ‘berkuasa’, dan memiliki hak untuk menentukan arah demokrasi.

Sesuatu yang jamak dan masif kita saksikan di tahun politik ini, politisi berlomba-lomba dengan berbagai macam cara dan siasat untuk mempengaruhi masyarakat, bila perlu dengan iming-iming jangka pendek yang menggugah minat.

Pesantren yang selama lima tahun relatif sepi dari kunjungan, tiba-tiba saja ‘kebanjiran’ kunjungan dari berbagai kalangan dan kelompok kepentingan.
Demikian pula tokoh-tokoh agama, yang biasanya dihujat dan dikerdilkan bahkan difitnah sedemikian rupa, tiba-tiba saja didatangi banyak orang.

Tak jarang pula kita melihat para tokoh-tokoh agama tersebut dicium tangannya yang terkesan teramat syahdu.
Pertanyaannya, apakah sesederhana itu politik sebagai instrumen demokrasi kita perlakukan?

Kita jangan sampai hipokrit, dan terjebak menggunakan akal sempit, sehingga menjadi arogan, apalagi ketika kewenangan ada dalam genggaman.

Di era moderen ini, dimana masyarakat telah semakin cerdas untuk dapat memilah dan memilih, serta teknologi informasi pun juga telah semakin canggih.
Dalam kondisi seperti ini, mestinya waham politik lebih tanggap dan bijak, untuk kemudian dapat menyelaraskan keberadaannya dengan perkembangan zaman.

📚 Artikel Terkait

The Hidden Crisis: Sexual Violence in Pesantren Is Three Times Higher Than in Regular Schools

Said Idrus, Kepala SMK Berprestasi Tingkat Provinsi dari Negeri Seribu Bukit

Ijazah Jokowi Melebar, UGM pun Digugat

Perang Atas Nama Narkoba

Namun faktanya, perkembangan teknologi informasi itu justru kerap disalahgunakan sebagai media propaganda.
Kondisi ini bukan hanya mengabaikan perkembangan zaman, bahkan telah membawa kita mundur jauh ke belakang.

Tidakkah kita merasa malu, fenomena yang sehari-hari kita saksikan di panggung politik nasional, yang telah menjadi pergunjingan di tengah masyarakat luas.
Ada yang menjadikannya sebagai narasi untuk berolok-olok, bahkan ada juga sekelompok komedian yang menjadikannya sebagai bahan lawakan.

Begitu masifnya fenomena itu terlihat, termasuk keputusan dari lembaga Yudikatif yang telah mengundang pro dan kontra di tengah masyarakat, sungguh sesuatu yang sulit untuk disembunyikan.

Kata orang bijak; “Kita dapat memperdaya satu atau beberapa orang pada satu kesempatan, tetapi kita tidak mungkin memperdaya semua orang pada saat yang bersamaan”.

Politik sepatutnya diarahkan untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa, memelihara fakir miskin, yang akhirnya bermuara pada kesejahteraan rakyat.
Kalau tidak, politik hanya akan menjadi pertunjukan ‘komedi murahan’ yang sesungguhnya tidak lucu, bahkan naif.

Yang lebih mengkhawatirkan, keadaan ini tidak akan menghasilkan apa-apa, selain hanya tradisi pengulangan siklus lima tahunan belaka, walaupun dikemas sedemikian rupa, sehingga terkesan ‘megah’.

Sudah saatnya kita ‘rela’ untuk meninggalkan semua itu, dan mengubah pola pikir yang lebih ditujukan untuk kemajuan bangsa semata.
Dan tidak lagi berlama-lama berada dalam situasi dan kondisi yang telah terbukti tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap kemajuan bangsa kita.

Jika kita benar-benar bertumpu pada pijakan untuk membangun bangsa, sesuai dengan apa yang dicita-citakan para pendiri bangsa ini, agaknya menjadi tidak penting siapa yang akan memimpin bangsa ini ke depan.
Dengan demikian kita tidak lagi melihat pada sosok dari calon pemimpin semata, melainkan lebih pada visinya untuk membangun bangsa dan menyejahterakan rakyat.

Rakyat kini mendambakan kehadiran seorang pemimpin yang dapat membawa bangsa ini lebih maju lagi dimasa mendatang, dan Indonesia segera terbebas dari krisis multidimensi.
Pemimpin yang benar-benar mengayomi rakyat, menegakkan keadilan bagi semua, dan membangun iklim demokrasi yang benar-benar demokratis, bukan justru sebaliknya.

Siapapun pemimpin kita ke depan, setidaknya dapat memenuhi harapan tersebut.
Pemimpin yang memiliki kecakapan untuk kemudian dapat memperkecil rentang ketertinggalan bangsa kita dari bangsa lain, yang kian hari terasa semakin jauh.

Sudah saatnya kita berhenti menjadikan politik sebagai wahana ‘permainan’ belaka, yang berpotensi mencabik-cabik demokrasi itu sendiri.
Yang pada akhirnya hanya merupakan ajang untuk melakukan tipu-daya terhadap rakyat, yang telah terlalu lama menanti dalam ketidakpastian.

Sudah saatnya pula kita menjadikan politik sebagai sarana untuk kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat, bukan justru sebaliknya, kemunduran bangsa yang menyengsarakan rakyat.

Kalau kita bertekad dan bersungguh-sungguh untuk semua itu, tidak mustahil angan-angan akan menjadi harapan, dan harapan sangat mungkin pula menjadi kenyataan.
Bukankah kalau kita ada kemauan, Tuhan akan selalu membukakan jalan bagi kita.

Barangkali inilah percikan renungan dihari-hari menjelang pergantian tahun ini, yang kita harapkan akan menjadi awal dari kebangkitan bangsa Indonesia menuju masadepan yang gilang-gemilang.
Semoga!

(Banda Aceh, 31 Desember 2023)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Ternyata, Nikmat Sehat itu Sangatlah Berharga

Ternyata, Nikmat Sehat itu Sangatlah Berharga

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00