POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Franz Kafka

RedaksiOleh Redaksi
April 2, 2023
Franz Kafka
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Dr Hendrajit

Membaca karya sastra Franz Kafka, sebenarnya asyik juga sih. Cuma serasa seseorang berbicara di depan saya, namun seolah-olah saya nggak ada di situ.

Kafka punya kawan dekat namanya Max Brod, yang dalam catatan harian Kafka sering disebut-sebut. Saat Kafka merasa ajal sudah mulai dekat, dia berwasiat kepada Max supaya buku-buku karyanya maupun segala hal yang pernah dia tuliis, supaya dimusnahkan.

Begini surat Kafka pada Max saat ajal menjelang:

“Max yang terhormat, harapanku yang terakhir: Semua karya yang aku tinggalkan (termasuk yang ada di lemari buku, lemari pakaian, meja tulis, di rumah dan di kantor, atau di mana pun berada yang kamu rasa perlu), pada buku-buku harian, manuskrip-manuskrip, surat-surat, sketsa-sketsa gambar yang aneh maupun yang layak dan sebagainya yang kamu temukan, tak perlu dibaca dan jangan disisakan untuk dibakar. Sebab itu semua karya tulis maupun sketsa-sketsa gambar yang ada di tempatmu atau orang lain dengan namaku. Surat-surat yang masih terdapat di orang yang tidak mau memberikan kepadamu, paling tidak ia diwajibkan membakarnya sendiri.

Sahabatmu Franz Kafka.

Begitu meninggal dunia, Max Brod membangkang wasiat Kafka. Justru mulai mengedit dan menyortirnya, lalu mengirimkan karya-karya fiksinya yang tentu saja Max sendiri belum tahu punya nilai sastra atau tidak.

Dan ternyata sambutan penerbit dan publik positif. Bahkan kelak Kafka dianggap pelopor prosa modern abad 20.

Bayangkan, seandainya Max Brod patuh begitu saja terhadap wasiat Kafka. Mungkin sastrawan kelahiran Juli 1883 dan wafat Juni 1924, tak seorang pun tahu siapakah gerangan Kafka yang pria asli Cheko, namun bertumbuh di Jerman dan berakhir hayatnya di Austria itu.

📚 Artikel Terkait

Batas Usia Dihapus, PHK Merajalela – Lowongannya Dimana?

KAMPUS INDONESIA JAGO KANDANG DAN KANIBAL

BENGKEL OPINI RAKyat

Perawan Desa

Hikmah dari kisah ini justru menyengatkan jiwa saya pada Max Brod, yang mengingatkan saya pada sebuah hadis. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni.

Pembangkangan Max terhadap wasiat teman karibnya, telah mengabadikan reputasi Kafka sepanjang masa, melampaui masa hidupnya di dunia yang relatif cukup singkat, 41 tahun.

Bagaimana dengan takdir hidup Max Brod sendiri lepas dari persahabatannya yang indah dengan Kafka? Max yang lahir 27 Mei 1884, baru wafat paa 20 desember 1968, dalam usia 84 tahun.

Meski Max ada minat sama seperti Kafka dalam penulisan fiksi, namun bakat khususnya adalah sebagai editor alias penyunting buku. Adalah Max Brod juga yang kemudian menerbitkan biografi riwayat hidup Kafka.

Sepertinya Max Brod memang ditakdirkan jadi wasilah meroketnya reputasi Kafka sebagai sastrawan klas dunia dikenal orang, dan dapat pengakuan internasional. Justru saat yang bersangkutan telah tiada.

Karya-karya Kafka tidak banyak, antara lain; Meditasi (Betrachtung), Keputusan (Das Urteil), Juru Api (Der Heizer), Metamorfosis (Die Verwandlung), Di Koloni Hukuman (In der Strafkolonie), Dokter Desa (Landarzt). Total ada sekitar 7 buku dan beberapa novelnya.

Jika membaca karya-karya sastra Kafka, seperti saya singgung di awal tadi, memang kayak berbincang dengan seseorang yang ada di depan kita, tapi kayak dirinya sedang ada di dunianya sendiri.

Menurut beberapa kritikus sastra, itu bagian dari ciri khas karya Kafka. Melalui karyanya, seakan dirinya menemukan sebuah dunia baru. Dan dari situlah karya itu meluncur begitu saja lewat penanya.

Tak heran jika dalam salah satu noveletnya berjudul “Keputusan“ (Das Urteil) ditulis dengan sekali duduk di malam hari di dalam kereta api. Ia menuliskannya tanpa persiapan dan tanpa koreksi setelahnya. Sebab itu karyanya jarang. Sejak itu, Ia istirahat lama beberapa tahun. Barulah lahir lagi karya karya selanjutnya.

Maka itu saya tidak setuju pada padangan bahwa produktif tidaknya seseorang penulis, baik fiksi atau nonfiksi, ditentukan berapa banyak karya-karyanya diterbitkan. Konsistensi Kafka dalam melahirkan dunia baru lewat karyanya, itulah produktifitasnya yang sejati, sekaligus benang merah seluruh karyanya. Meski karyanya yang diterbitkan hanya 7 buah.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Guru Yang Memukau

Guru Yang Memukau

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00