• Latest
Franz Kafka

Franz Kafka

April 2, 2023
Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

March 14, 2026
Presiden Pedofil?

Presiden Pedofil?

March 14, 2026

Pergi dan Kembali

March 14, 2026

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

March 14, 2026
Air Keras di Tengah Malam Jakarta

Air Keras di Tengah Malam Jakarta

March 14, 2026
Siapa  yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah

Siapa yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah

March 14, 2026
Melihat Perang Iran – Israel/AS Melalui Teori James C. Scott

Belajar dari Geopolitik Timur Tengah: Apa Pelajaran bagi Negara Berkembang?

March 14, 2026
Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

March 14, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Franz Kafka

Redaksi by Redaksi
April 2, 2023
in Artikel, Sastra
0
Franz Kafka
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Dr Hendrajit

Membaca karya sastra Franz Kafka, sebenarnya asyik juga sih. Cuma serasa seseorang berbicara di depan saya, namun seolah-olah saya nggak ada di situ.

Baca Juga

Presiden Pedofil?

Presiden Pedofil?

March 14, 2026
Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital

March 13, 2026
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?

Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?

March 13, 2026

Kafka punya kawan dekat namanya Max Brod, yang dalam catatan harian Kafka sering disebut-sebut. Saat Kafka merasa ajal sudah mulai dekat, dia berwasiat kepada Max supaya buku-buku karyanya maupun segala hal yang pernah dia tuliis, supaya dimusnahkan.

Begini surat Kafka pada Max saat ajal menjelang:

“Max yang terhormat, harapanku yang terakhir: Semua karya yang aku tinggalkan (termasuk yang ada di lemari buku, lemari pakaian, meja tulis, di rumah dan di kantor, atau di mana pun berada yang kamu rasa perlu), pada buku-buku harian, manuskrip-manuskrip, surat-surat, sketsa-sketsa gambar yang aneh maupun yang layak dan sebagainya yang kamu temukan, tak perlu dibaca dan jangan disisakan untuk dibakar. Sebab itu semua karya tulis maupun sketsa-sketsa gambar yang ada di tempatmu atau orang lain dengan namaku. Surat-surat yang masih terdapat di orang yang tidak mau memberikan kepadamu, paling tidak ia diwajibkan membakarnya sendiri.

Sahabatmu Franz Kafka.

Begitu meninggal dunia, Max Brod membangkang wasiat Kafka. Justru mulai mengedit dan menyortirnya, lalu mengirimkan karya-karya fiksinya yang tentu saja Max sendiri belum tahu punya nilai sastra atau tidak.

Dan ternyata sambutan penerbit dan publik positif. Bahkan kelak Kafka dianggap pelopor prosa modern abad 20.

Bayangkan, seandainya Max Brod patuh begitu saja terhadap wasiat Kafka. Mungkin sastrawan kelahiran Juli 1883 dan wafat Juni 1924, tak seorang pun tahu siapakah gerangan Kafka yang pria asli Cheko, namun bertumbuh di Jerman dan berakhir hayatnya di Austria itu.

Hikmah dari kisah ini justru menyengatkan jiwa saya pada Max Brod, yang mengingatkan saya pada sebuah hadis. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni.

Pembangkangan Max terhadap wasiat teman karibnya, telah mengabadikan reputasi Kafka sepanjang masa, melampaui masa hidupnya di dunia yang relatif cukup singkat, 41 tahun.

Bagaimana dengan takdir hidup Max Brod sendiri lepas dari persahabatannya yang indah dengan Kafka? Max yang lahir 27 Mei 1884, baru wafat paa 20 desember 1968, dalam usia 84 tahun.

Meski Max ada minat sama seperti Kafka dalam penulisan fiksi, namun bakat khususnya adalah sebagai editor alias penyunting buku. Adalah Max Brod juga yang kemudian menerbitkan biografi riwayat hidup Kafka.

Sepertinya Max Brod memang ditakdirkan jadi wasilah meroketnya reputasi Kafka sebagai sastrawan klas dunia dikenal orang, dan dapat pengakuan internasional. Justru saat yang bersangkutan telah tiada.

Karya-karya Kafka tidak banyak, antara lain; Meditasi (Betrachtung), Keputusan (Das Urteil), Juru Api (Der Heizer), Metamorfosis (Die Verwandlung), Di Koloni Hukuman (In der Strafkolonie), Dokter Desa (Landarzt). Total ada sekitar 7 buku dan beberapa novelnya.

Jika membaca karya-karya sastra Kafka, seperti saya singgung di awal tadi, memang kayak berbincang dengan seseorang yang ada di depan kita, tapi kayak dirinya sedang ada di dunianya sendiri.

Menurut beberapa kritikus sastra, itu bagian dari ciri khas karya Kafka. Melalui karyanya, seakan dirinya menemukan sebuah dunia baru. Dan dari situlah karya itu meluncur begitu saja lewat penanya.

Tak heran jika dalam salah satu noveletnya berjudul “Keputusan“ (Das Urteil) ditulis dengan sekali duduk di malam hari di dalam kereta api. Ia menuliskannya tanpa persiapan dan tanpa koreksi setelahnya. Sebab itu karyanya jarang. Sejak itu, Ia istirahat lama beberapa tahun. Barulah lahir lagi karya karya selanjutnya.

Maka itu saya tidak setuju pada padangan bahwa produktif tidaknya seseorang penulis, baik fiksi atau nonfiksi, ditentukan berapa banyak karya-karyanya diterbitkan. Konsistensi Kafka dalam melahirkan dunia baru lewat karyanya, itulah produktifitasnya yang sejati, sekaligus benang merah seluruh karyanya. Meski karyanya yang diterbitkan hanya 7 buah.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 189x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 181x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 116x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 114x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 88x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong
#Korban Bencana

Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

March 14, 2026
Presiden Pedofil?
Artikel

Presiden Pedofil?

March 14, 2026
#Cerpen

Pergi dan Kembali

March 14, 2026
Islam

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

March 14, 2026
Next Post
Guru Yang Memukau

Guru Yang Memukau

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com