Artikel · Potret Online

Budaya Menulis Profesor dan Literasi Mahasiswa: Catatan Kritis atas Sebuah Argumentasi

Juni 5, 2026
6 menit baca 14
f5082479-876d-497e-8374-a6ce2212da09
Foto / IlustrasiBudaya Menulis Profesor dan Literasi Mahasiswa: Catatan Kritis atas Sebuah Argumentasi

Pendahuluan: Dari Klaim ke Keharusan Verifikasi

Oleh Prof. Dr. Burhanuddin Yasin

Dalam wacana pendidikan tinggi, tidak semua gagasan yang terdengar meyakinkan dapat langsung diterima sebagai kesimpulan yang sudah terbukti. Justru, semakin penting suatu isu, semakin besar pula tuntutan untuk menguji dasar argumennya secara kritis dan proporsional. 

Tulisan ini tidak hanya merespons artikel berjudul “Mencari Korelasi Minat Menulis Mahasiswa dan Budaya Menulis Profesor”, yang ditulis Tabrani Yunis, di Potretonline.com, 2 Juni 2026, tetapi juga mengajak pembaca untuk meninjau ulang cara kita memahami hubungan antara budaya akademik di perguruan tinggi dan kemampuan literasi mahasiswa.

Menurut pandangan saya, literasi mahasiswa tidak bisa disederhanakan hanya menjadi hasil dari satu faktor tunggal, misalnya budaya menulis profesor. Literasi merupakan hasil dari proses yang jauh lebih kompleks, yang mencakup desain pembelajaran, pengalaman belajar di kelas, lingkungan akademik, serta kebiasaan intelektual yang terbentuk secara bertahap dalam jangka panjang. 

Karena itu, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menolak gagasan sebelumnya, tetapi untuk menguji sejauh mana kesimpulan yang diajukan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan masuk akal secara akademik.

Kebutuhan Verifikasi dalam Klaim Budaya Menulis Akademisi

Salah satu pernyataan yang menarik dalam artikel tersebut adalah dugaan bahwa minat menulis di kalangan profesor, khususnya di FKIP USK, tergolong rendah. Isu ini tentu penting, karena menyangkut kualitas budaya akademik di perguruan tinggi. 

Namun, dalam pendekatan ilmiah, setiap klaim seharusnya disertai dengan kejelasan indikator, metode pengukuran, serta batasan analisis yang digunakan.

Pertanyaan mendasar yang perlu diajukan adalah: apa sebenarnya yang dimaksud dengan “budaya menulis”? 

Apakah yang dimaksud hanya tulisan di media massa, atau mencakup keseluruhan aktivitas akademik seperti publikasi jurnal ilmiah bereputasi, buku akademik, prosiding konferensi, hingga karya pengabdian kepada masyarakat?

Tanpa kejelasan indikator tersebut, kesimpulan yang dihasilkan berisiko bergeser dari analisis akademik menjadi sekadar kesan umum yang belum terverifikasi secara sistematis. Dalam konteks pendidikan tinggi, perbedaan antara “kesan” dan “data” sangat menentukan kualitas sebuah argumentasi.

Pengalaman Kelas: Literasi sebagai Hasil Desain Pembelajaran

Dalam pengalaman saya mengajar beberapa tahun terakhir, saya menemukan bahwa persoalan literasi mahasiswa tidak dapat dijelaskan secara sederhana hanya melalui hubungan antara “profesor yang aktif menulis” dan “mahasiswa yang menjadi literat”. Dalam praktik pembelajaran, saya mencoba menerapkan pendekatan yang memberi ruang lebih besar pada kemandirian mahasiswa.

Mahasiswa diminta untuk membaca materi secara mandiri sebelum perkuliahan dimulai. Setelah itu, mereka diminta mendiskusikan hasil bacaan tersebut melalui presentasi kelompok di kelas. Dalam proses presentasi, mahasiswa tidak diperbolehkan membaca naskah secara penuh, tetapi hanya menggunakan poin-poin penting sebagai panduan untuk menjelaskan kembali pemahaman mereka dengan bahasa sendiri.

Hasil dari pendekatan ini cukup konsisten. Mahasiswa tidak hanya menunjukkan pemahaman yang lebih baik terhadap materi, tetapi juga lebih mampu menyusun gagasan secara runtut, menjelaskan argumen dengan jelas, serta menanggapi pendapat teman secara kritis. 

Suasana kelas pun menjadi lebih aktif karena mahasiswa tidak sekadar mengulang informasi, tetapi mengolahnya menjadi pemahaman yang lebih dalam.

Dari pengalaman tersebut, saya melihat bahwa peningkatan literasi mahasiswa lebih banyak dipengaruhi oleh desain pembelajaran yang mendorong aktivitas berpikir aktif, bukan semata-mata oleh seberapa produktif dosen atau profesor menulis di ruang publik.

Menulis di Ruang Publik: Antara Eksistensi dan Penyederhanaan

Dalam banyak diskusi publik, kontribusi akademisi sering kali disederhanakan hanya pada aktivitas menulis di media massa. Padahal, dalam ekosistem perguruan tinggi, kontribusi seorang profesor jauh lebih luas dan bersifat multidimensional. Ia mencakup penelitian ilmiah, publikasi di jurnal akademik, pengembangan kurikulum, pembimbingan mahasiswa, pengabdian kepada masyarakat, hingga keterlibatan dalam perumusan kebijakan pendidikan.

Setiap bentuk kontribusi tersebut memiliki karakter dan nilai yang berbeda. Tidak semuanya terlihat oleh publik, tetapi masing-masing memiliki dampak yang signifikan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan. 

Karena itu, jika aktivitas menulis di media massa dijadikan satu-satunya ukuran budaya akademik, maka kita berisiko menyederhanakan realitas yang jauh lebih kompleks dari kenyataannya.

Menulis di ruang publik tetap penting, terutama sebagai jembatan antara dunia akademik dan masyarakat luas. Akan tetapi, ia tidak dapat dijadikan satu-satunya tolok ukur untuk menilai keseluruhan kontribusi intelektual seorang akademisi.

Budaya Menulis Profesor dan Literasi Mahasiswa: Hubungan yang Tidak Sederhana

Pandangan bahwa budaya menulis profesor berkontribusi terhadap perkembangan literasi mahasiswa pada dasarnya cukup rasional. Dalam lingkungan perguruan tinggi, dosen dan profesor tidak hanya menjalankan fungsi sebagai pengajar, tetapi juga menjadi contoh dalam praktik akademik dan kegiatan keilmuan. 

Akan tetapi, asumsi mengenai adanya pengaruh tersebut tidak dapat diterima sebagai kebenaran tanpa didukung oleh data dan bukti penelitian yang memadai.

Di sisi lain, pengalaman yang diperoleh dari praktik pembelajaran menunjukkan bahwa hubungan antara keduanya tidak selalu bersifat langsung maupun sederhana. 

Mahasiswa sering kali memperlihatkan kemampuan literasi yang baik ketika mereka terlibat dalam proses pembelajaran yang memberi kesempatan untuk membaca, berdiskusi, mengemukakan pendapat, dan membangun argumentasi secara aktif. 

Sebaliknya, tingginya produktivitas menulis dosen belum tentu diikuti oleh peningkatan literasi mahasiswa apabila kegiatan pembelajaran masih didominasi oleh metode yang pasif dan berpusat pada pengajar.

Dengan demikian, saya cenderung memandang bahwa budaya menulis profesor hanya merupakan salah satu elemen dalam ekosistem akademik yang lebih luas, bukan faktor utama yang secara langsung menentukan kualitas literasi mahasiswa.

Risiko Generalisasi dalam Melihat Dunia Akademik

Salah satu tantangan dalam membahas dunia akademik adalah kecenderungan untuk melakukan generalisasi. Padahal, komunitas profesor dan dosen sangat beragam dalam hal fokus kerja, bentuk kontribusi, dan orientasi akademiknya.

Ada profesor yang aktif menulis di media massa, ada yang lebih fokus pada publikasi jurnal ilmiah, ada yang menekuni penelitian terapan, dan ada pula yang lebih banyak berkontribusi dalam bidang pengabdian kepada masyarakat atau pengembangan kebijakan. Keragaman ini menunjukkan bahwa tidak tepat jika seluruh profesor dipandang sebagai kelompok yang seragam.

Selain itu, beban kerja akademik yang mencakup pengajaran, penelitian, pengabdian, serta tanggung jawab administratif juga perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari konteks institusional yang memengaruhi produktivitas akademik secara keseluruhan.

Penutup: Menuju Pemahaman yang Lebih Proporsional dan Berbasis Bukti

Pada akhirnya, diskusi mengenai budaya menulis profesor dan literasi mahasiswa perlu ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas, kritis, dan berbasis bukti. 

Pengalaman di ruang kelas menunjukkan bahwa literasi mahasiswa lebih banyak dipengaruhi oleh desain pembelajaran yang mendorong keterlibatan aktif, bukan semata-mata oleh keteladanan menulis di ruang publik.

Karena itu, alih-alih mencari hubungan tunggal yang sederhana, yang lebih penting adalah membangun pemahaman bahwa literasi merupakan hasil dari ekosistem akademik yang kompleks. 

Ekosistem tersebut mencakup interaksi antara dosen, mahasiswa, metode pembelajaran, budaya institusi, serta kebiasaan intelektual yang berkembang secara berkelanjutan.

Perguruan tinggi yang kuat tidak hanya ditopang oleh profesor yang aktif menulis, tetapi juga oleh sistem pembelajaran yang mampu menjadikan mahasiswa sebagai pembelajar mandiri, kritis, dan mampu mengonstruksi pengetahuan secara aktif. 

Pada titik ini, kualitas pendidikan tinggi sesungguhnya ditentukan bukan oleh satu variabel tunggal, tetapi oleh kekuatan ekosistem intelektual yang menopangnya secara keseluruhan.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...