Artikel · Potret Online

Idul Adha dan Seni Berdamai Dengan Luka

Penulis  Nurul Hikmah
Mei 27, 2026
4 menit baca 47
IMG_1323
Foto / IlustrasiIdul Adha dan Seni Berdamai Dengan Luka
Disunting Oleh

Oleh: Nurul Hikmah

Setiap kali Idul Adha datang, kita selalu diingatkan pada kisah qurban Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihissalam. Namun di balik peristiwa besar itu, sebenarnya ada pelajaran yang jauh lebih dalam dari sekadar menyembelih hewan qurban. 

Ada kisah tentang luka batin, pengorbanan, keikhlasan, dan bagaimana manusia memilih untuk sembuh.

Jauh sebelum perintah qurban turun, keluarga Nabi Ibrahim sudah berkali-kali diuji. Salah satu ujian paling berat adalah ketika Nabi Ibrahim harus meninggalkan Siti Hajar dan bayi kecilnya, Ismail, di sebuah lembah tandus yang bahkan tidak memiliki penghuni. 

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Hajar sempat menarik pakaian suaminya dan bertanya, “Engkau mau pergi ke mana?” Namun Nabi Ibrahim diam. Hingga akhirnya pertanyaan itu berubah, “Apakah ini perintah dari Rabb-mu?”

“Iya,” jawab Nabi Ibrahim.

Bayangkan keadaan seorang ibu yang baru melahirkan, lemah secara fisik, rapuh secara emosi, bahkan mungkin mengalami baby blues. Tetapi Siti Hajar memilih untuk percaya kepada Allah. 

Beliau mengikhlaskan kepergian suaminya dan bertahan membesarkan anaknya di tengah keterasingan.

Ismail pun tumbuh tanpa sosok ayah di sisinya. Ia dibesarkan hanya bersama ibunya hingga beranjak remaja. Secara manusiawi, seharusnya ada ruang bagi luka dalam dirinya. Namun ketika ayahnya kembali dan meminta sebuah pengorbanan besar — bahkan nyawanya sendiri — Ismail memilih taat. Tidak ada pemberontakan. Tidak ada amarah. Tidak ada kalimat, “Ayah meninggalkanku sejak kecil, sekarang datang meminta pengorbanan?”

Di sinilah kita belajar sesuatu yang sangat penting: luka batin memang nyata, tetapi manusia tetap diberi pilihan untuk tidak menjadikan luka itu sebagai alasan menghancurkan diri sendiri maupun orang lain.

Hari ini ilmu psikologi berkembang sangat luas. Kita memahami istilah trauma, inner child, luka pengasuhan, hingga generational trauma — bahwa luka yang tidak disembuhkan bisa diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. 

Anak yang tumbuh dalam kemarahan bisa menjadi orang tua yang penuh amarah. Anak yang hidup dalam kekurangan kasih sayang bisa tumbuh menjadi pribadi yang sulit mencintai.

Namun menariknya, Al-Qur’an justru menghadirkan banyak kisah tentang manusia-manusia yang memilih sembuh karena kedekatannya dengan Allah.

Lihatlah Nabi Musa ‘alaihissalam. Secara logika manusia, beliau bisa saja menyimpan luka karena sejak bayi dihanyutkan ke sungai dalam sebuah keranjang. Beliau dapat tumbuh menjadi pribadi yang penuh kebencian terhadap keadaan. Namun Nabi Musa memilih menjadi sosok yang kuat, bijaksana, dan penuh kasih.

Begitu pula Nabi Ismail. Beliau tidak menjadikan masa kecilnya sebagai alasan untuk membangkang. Siti Hajar pun tidak membesarkan anaknya dengan dendam atau kemarahan. Padahal beliau memiliki banyak alasan untuk kecewa. Dititipkan di lembah tandus bersama bayi kecil, jauh dari kenyamanan, jauh dari perlindungan suami. Tetapi beliau memilih tetap menjadi ibu yang sehat secara mental dan penuh kasih sayang.

Begitu juga Maryam ‘alaihassalam. Dalam Al-Qur’an diceritakan bagaimana beliau pernah berada pada titik kelelahan selepas melahirkan hingga berkata ingin mati saja. Namun setelah itu, Maryam bangkit dan memilih menjadi ibu yang kuat bagi Nabi Isa. Beliau tidak membiarkan kesedihan menguasai seluruh hidupnya.

Maka Idul Adha bukan hanya tentang menyembelih hewan qurban. Ia juga mengajarkan kita untuk menyembelih ego, kemarahan, dendam, dan luka-luka yang terus kita pelihara. Sebab tidak semua luka harus diwariskan.

Hari ini, mungkin banyak dari kita tumbuh dengan pengalaman yang tidak mudah. Ada yang dibesarkan dalam keluarga penuh pertengkaran, ada yang kekurangan kasih sayang, ada yang hidup dengan trauma dan rasa kecewa yang panjang. Semua itu nyata dan tidak bisa dipungkiri. Namun agama tidak mengajarkan kita untuk terus tenggelam di dalam luka.

Memelihara kesedihan mungkin terasa nyaman, tetapi menjadikan luka sebagai identitas hidup bukanlah jalan penyembuhan. Kita tetap punya pilihan untuk menjadi pribadi yang lebih sehat, pasangan yang lebih dewasa, orang tua yang lebih lembut, pemimpin yang bijaksana dan sosok manusia yang lebih tenang.

Semoga Idul Adha kali ini bukan hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga momentum untuk berdamai dengan diri sendiri. Semoga Allah menyembuhkan luka-luka yang tampak maupun yang tersembunyi. Luka lama ataupun luka yang baru. Luka yang kita ingat ataupun yang diam-diam tinggal di alam bawah sadar kita. Selamat Idul Adha. Kullum am waantum bikhair.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Guru SMAN 10 Fajar Harapan Banda Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...