Puisi Pril Huseno
Bung, mari kita kembali berkunjung
Pada satu sudut kopi di bilangan menteng raya
Di sana sampai kini, tetap berpendar
Api revolusi yang digagas anak anak muda pada jamannya
Pun pada suatu sore, di ujung jalan tak jauh dari teriakan Merdeka
Kita pernah sama sama berkhidmat
Suatu Indonesia yang bebas dari penjajahan dan eklsploitasi
Dari satu orang kepada orang lainnya
Satu Indonesia kaya yang akan memakmurkan segenap anak negeri
Bung, wajahmu kini pucat
Menelan kenyataan yang menyayat nyayat batin kita
Meracuni otak, menghancurkan jantung dan hati nurani
Hingga berserakan tubuh yang tak lagi punya cita cita
Nihil ideologi sebagai lampu penerang
Dan otak, otak mereka yang kosong melompong
Kita semua telah teramat jauh melangkah
Membawa amanat sekian banyak doa dan cita cita
Namun tetap saja, ada yang rasanya terlupa kita bingkai
Ruh suci kejuangan, sepertinya luput kita tanam
Atau sengaja tercerabut oleh ganasnya keinginan
Yogyakarta, 15 Maret 2026
Pada Setiap Baris Kata
Puisi Pril Huseno
Kepak sayap merpati rintih nyanyikan
Satu dua bait kehilangan
Benderang siang dan gulita malam melagukan
Awan yang berarak beriringan,
kamu tetap di pelukan
Tinggi harap selaksa rindu persaudaraan
Bangsa besar berwibawa pembawa harum kahyangan
Bagai doa doa rohaniwan suci takjub pada angan angan
Oo, kita masih duduk di singgasana yang lupa hutan perawan
Sejarah dipenuhi auman harimau kehilangan pijakan
Negeriku negeri surgawi bermandikan ratna mutu manikam
Berlari berkelahi suara teriakan adat yang tertikam
Pedih perih pantang tertukar pada kulit tertanam api dalam sekam
Sementara laut bersiap menelan, siapa bermain di malam jahanam
Kita tetap saudara katamu, kita tetap saudara kataku
Dan bila alunan biola menularkan kidung permataku
Jangan ragu mengambil beras sekuku tanda rinduku padamu
Ambil air di kuali berbunga tujuh rupa, mandikan kepalaku
Agar darah mendidih tidak muncrat menembus batas marahku
Aduhai adik, batas murka dan tertawa ada pada kata hatiku
Merpati merpati putih merapat pada lafaz doa satu nusa
Kita gelar malam renungan penghabisan genggam tangan bersama
Pejamkan mata berkelebat pada tetua pendiri bangsa
Hingga lilin lilin kecil akhirnya pancarkan cahaya
Setitik doa segumpal asa pada ujung gawai cinta
Akulah anak negeri yang tak bosan merangkul dalam suka duka
Yogyakarta, 15 Maret 2026
Diskusi