Perang Iran: Antara Minyak, Darah, dan Dunia Selatan

Oleh Ridwan al-Makassary
Ketika perang berkecamuk di Timur Tengah, antara Iran dan Amerika Serikat (AS)-Israel) yang saat ini memasuki bulan ketiga, maka yang paling dulu terbakar bukan hanya kota-kota yang dihujani misil di Teheran dan Haifa, melainkan juga dapur dan meja makan kecil di negara berkembang.
Di Indonesia, harga sembako telah merangkak naik, ongkos transportasi melonjak dan nelayan melautnya berkurang karena solar yang mahal. Singkatnya, masyarakat kecil juga mengeluh di tengah kondisi Indonesia yang tidak sedang baik-baik saja.
Perang Iran 2026, memang, mempertontonkan kenyataan pahit itu. Selat Hormuz—urat nadi energi dunia—berubah menjadi panggung ketakutan global. Kapal tanker bergerak dengan bayang-bayang drone yang mengancam.
Laut di Teluk Persia tidak saja memantulkan cahaya matahari, tetapi juga kecemasan pasar. Minyak naik, bursa panik. Dan, mata uang negara-negara berkembang melemah seperti daun tua diterpa angin.
Perkembangan terkini, Garda Revolusi mengumumkan membentuk Otoritas Selat Teluk Persia yang mengeloa Slat Hormuz.
Namun, di balik peristiwa tersebut, sesungguhnya ada darah manusia yang mengalir diam-diam. Kita hidup di dunia yang aneh di mana harga minyak bisa menjadi berita utama lebih cepat daripada jumlah anak dan orang tua yang kehilangan rumah karena perang.
Grafik ekonomi lebih sering dibicarakan daripada tubuh-tubuh yang tertimbun reruntuhan, dan juga rumah-rumah yang roboh. Seolah-olah nilai satu barel minyak jauh lebih penting dan berharga daripada satu nyawa manusia dan kerusakan harta benda dan infrastruktur.Inilah tragedi paling sunyi dari perang modern.
Amerika Serikat berbicara tentang stabilitas global. Bahkan, AS masih mengancam akan menggempur Iran lebih keras jika tidak ada kesepakatan damai. Iran berbicara tentang kedaulatan dan perlawanan yang tak berujung. China berbicara tentang keamanan jalur perdagangan. Rusia berbicara tentang keseimbangan kekuatan dunia.
Tetapi, di tengah semua pidato geopolitik itu, Dunia Selatan, termasuk Indonresia, kembali menjadi penonton yang harus membayar harga paling mahal.
Kita menyaksikan perang dari jauh, tetapi inflasinya masuk ke meja makan kita. Negara-negara berkembang sesungguhnya tidak punya kepentingan langsung terhadap rivalitas Washington dan Teheran. Namun, merekalah yang paling rentan ketika minyak menjadi senjata geopolitik.
Ketika harga energi naik, negara kaya masih memiliki cadangan fiskal, subsidi, dan sistem perlindungan sosial. Tetapi negara miskin hanya memiliki dua pilihan, menaikkan utang atau membiarkan rakyatnya menanggung penderitaan.
Lihatlah, di Benua Amerika negara Kuba dan Bolivia yang sedang mengalami kebangkrutan sebagai negara. Singkatnya, sejarah menunjukkan, perang global hampir selalu dibayar oleh mereka yang bahkan tidak ikut menekan tombol peluncur misil.
Ironisnya, negara-negara yang paling bergantung pada impor energi justru berada di Asia Selatan, Afrika, dan sebagian Amerika Latin—wilayah yang sejak lama dipanggil dengan istilah “Global South.” Mereka bukan pembuat perang, tetapi mereka menjadi korban paling konsisten dari setiap perang yang berkecamuk. Inilah kolonialisme bentuk baru, yaitu penderitaan ekonomi tanpa pendudukan militer.
Kita sering membayangkan kolonialisme sebagai tank, bendera asing, atau penjajahan wilayah.Di Indonesia, kita menyebutnya “antek-antek asing”.
Padahal hari ini dominasi bekerja lebih halus melalui energi, pasar, utang, dan ketergantungan ekonomi. Dunia Selatan dibuat terus-menerus rapuh terhadap krisis yang diciptakan oleh pertarungan kekuatan-kekuatan besar. Perang Iran 2026 telah dan sedang memperlihatkan betapa dunia masih diatur oleh logika lama, yaitu siapa menguasai energi, ia menguasai ketakutan dunia.
Namun, ada hal lain yang lebih mengkhawatirkan. Dunia mulai terbiasa dengan perang. Setelah puluhan hari konflik, berita tentang ledakan tidak lagi mengejutkan. Kematian berubah menjadi statistik harian. Media global bergerak cepat dari satu tragedi ke tragedi lain seperti tidak ada lagi waktu untuk berkabung.
Kita hidup di zaman ketika kemanusiaan dikalahkan oleh kecepatan informasi. Kenormalan baru terbentuk, seperti normalitas pada masa Covid.
Dan mungkin di situlah letak luka terbesar Dunia Selatan—bukan hanya karena miskin, tetapi karena suaranya tidak pernah benar-benar dianggap penting dalam arsitektur global.
Padahal merekalah mayoritas umat manusia. Ketika negara-negara besar berbicara tentang perdamaian, acap yang mereka maksud adalah stabilitas pasar. Ketika mereka berbicara tentang keamanan, yang mereka jaga pertama-tama adalah jalur energi. Sedangkan keamanan manusia berupa hak untuk makan, bekerja, dan hidup tanpa ketakutan selalu menjadi normor buncit.
Mungkin suatu hari perang akan berhenti atau tidak pernah dideklarasikan berhenti. Kapal-kapal tanker akan kembali melintasi Hormuz tanpa pengawalan militer. Harga minyak akan turun perlahan. Bursa saham kembali hijau. Para pemimpin dunia akan berjabat tangan di ruang diplomasi yang dingin dan penuh sorotan kamera. Tetapi, di banyak tempat di Dunia Selatan, luka itu akan tinggal lebih lama dan butuh waktu untuk pulih.
Luka itu berwujud dalam harga pangan yang tidak kembali normal. Dalam utang negara yang membengkak, dan juga kemiskinan yang diwariskan. Bahkan, dalam anak-anak yang tumbuh di dunia yang mengajarkan bahwa setiap perang besar selalu berarti penderitaan bagi mereka yang paling kecil.
Pungkasannya, mungkin itulah wajah paling jujur dari politik global hari ini, yaitu minyak mengalir ke Dunia Utara, tetapi darah tumpah ruah di Dunia Selatan.
Penulis adalah Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE).











