Esai · Potret Online

Sate Lolak

Mei 20, 2026
3 menit baca 5
10d11187-ac73-4abd-855b-835ad1c0669a
Foto / IlustrasiSate Lolak

Oleh: Ilham Mirsal
Rabu 20-05-2026

Jangan tanyakan dulu berapa naskah akademik yang harus saya periksa di kampus STAI Tapaktuan pagi ini. Pikiran saya sedang melompat jauh ke sebuah teluk kecil di pesisir selatan Aceh. Ke sebuah gampong yang namanya mendadak jadi buah bibir di level nasional: Lhok Rukam.

Anda yang tinggal di Banda Aceh atau Medan mungkin harus menjadwalkan ulang akhir pekan Anda. Lhok Rukam ini sedang seksi-seksinya.

Bayangkan jalurnya. Begitu Anda berkendara menyusuri Jalan Lintas Nasional Tapaktuan–Sidikalang, mata Anda akan dipaksa menyaksikan satu pemandangan yang egois: tebing hijau pegunungan yang rapat di sisi kanan, langsung berimpit dengan biru toska Samudra Hindia di sisi kiri. Kontras sekali. Indah sekali.

Saya ke sana bukan sekadar untuk mengagumi ciptaan Tuhan. Ada misi yang lebih penting: urusan lidah.

Di sepanjang bibir pantai Lhok Rukam, berderet kafe bambu yang teduh. Di situlah magnet utamanya berada. Kuliner khas yang membuat orang rela mengantre hingga tengah malam: Sate Lolak.

Anda sudah tahu apa itu lolak? Kalau belum, Anda sama dengan sebagian besar mahasiswa saya saat pertama kali kuliah. Lolak adalah sebutan lokal untuk siput mata lembu (turbo argyrostoma). Hewan ini hidupnya eksklusif: menempel di batu karang yang dihempas ombak besar. Nelayan di Lhok Rukam harus punya nyali dan keahlian khusus untuk memungutnya satu demi satu.

Bagaimana rasanya? Di luar dugaan. Daging siputnya kenyal tapi pas. Begitu dibakar dengan bumbu khas dan disiram kecap tradisional, rasanya gurih-manis tanpa ada jejak amis sedikit pun. Sensasi kenyalnya bikin lidah tidak mau berhenti mengunyah. Harganya? Hanya Rp15.000 per porsi.

Maka saya tidak kaget ketika menerima rilis resmi dari Kepala Dinas Pariwisata Aceh Selatan, Pak Muchsin, atas arahan Bupati H. Mirwan MS. Aceh Selatan kembali bikin gebrakan di tingkat nasional.

Sate Lolak dari Lhok Rukam resmi lolos masuk nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API) Award ke-10 Tahun 2026 untuk kategori Makanan Tradisional (API 1H). Bukan hanya itu, wisata alam Air Terjun Tingkat Tujuh juga lolos untuk kategori Destinasi Baru (API 17B).

Ini prestasi yang masuk akal. Kuliner yang otentik digabung dengan alam yang dramatis.

Sebagai akademisi yang sehari-hari bergelut di menara gading kampus, saya sering berdiskusi dengan kawan-kawan dosen. Kesimpulan kami sama: kampus tidak boleh anti-sosial. Kita harus turun tangan. Potensi Lhok Rukam ini harus didukung penuh agar tidak hanya jago di kandang, tapi harus mendunia. Promosi digital harus masif, kearifan lokal harus dijaga.

Sore hari di Lhok Rukam adalah puncaknya. Anda bisa duduk di bawah pohon cemara pantai, melihat perahu tradisional nelayan pulang melaut, sambil menatap matahari yang pelan-pelan tenggelam di cakrawala. Tenang sekali. Cocok untuk Anda yang penat dengan rutinitas kerja.

Lhok Rukam sudah membuktikan diri di panggung nasional melalui nominasi API Award 2026. Kini saatnya kita bergerak bersama, membawa kearifan lokal ini melompat lebih jauh ke kancah global. Langkahnya sederhana: klik votingnya, lalu jadwalkan kunjungan Anda ke Tapaktuan. Menikmati harmoni gunung dan laut di sini adalah kemewahan hidup yang tiada tanding. Mengenai rasanya.

Berwisata ke Lhok Rukam itu seperti menemukan sepotong surga yang tersembunyi di pesisir Aceh Selatan. Anda datang membawa penat, pulang membawa takjub yang melekat. Rasanya tidak perlu banyak retorika kampus untuk meyakinkan Anda. Datang saja sendiri. Nikmati senjanya, cicipi sate lolaknya. Karena pesona sejati Lhok Rukam. Anda Sudah Tahu….. (Ilham Mirsal).

Lewat tulisan ini, saya, dan seluruh civitas akademika STAI Tapaktuan, berdiri penuh di belakang perjuangan pariwisata daerah. Menangkan Sate Lolak, gaungkan Air Terjun Tingkat Tujuh. Kampus sudah bergerak, sekarang giliran Anda. Kapan lagi akademisi bicara sate kalau bukan demi Aceh Selatan mendunia?

Ilham Mirsal, MA
(Wakil Ketua III Bidang Humas & Kemahasiswaan STAI Tapaktuan Aceh Selatan).

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Tgk. Ilham Misal, MA (Ayah Ilham), Merupakan Dosen STAI Tapaktuan, dan Warga Gampong Ujung Batee (Terbangan Cut), Kemukiman Terbangan, Kecamatan Pasie Raja, Aceh Selatan.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...