Rabaan Mistis, Gelisah Penyair Membina Insan Kamil

Oleh Prof. DR. Fuad Mardhatillah UY Tiba
Bagian kedua
Ruang, waktu, konstruksi sejarah hasil ulah-laku dan lakon manusia, juga menunjuk kesadaran akan kehadiran Tuhan. Ini adalah semacam transendensi konfiguratif rendezvous para hamba, baik yang aulia, maupun yang hina, yang mempertemukan imagi alam makhluk dengan kehendak azali Tuhannya yang niscaya tak kunjung harus dipahami eksistensialNya.
Walau dalam maqam ma’rifat yang telah menyingkap serba hijab yang mendinding antara yang mencipta dengan yang diciptakan. Karena, Tuhan memang harus dan niscaya harus hadir dalam sifat-sifat keilahian, yang juga memang harus tidak pernah sepenuhnya dimengerti oleh hambanya, terhadap seluruh yang esensial dan substansial dari dimensi yang dinamakan “ketuhanan”.
Meskipun beragam upaya allegori dan interpretasi anthromorphism yang coba menggambarkan divine presence, memang sesungguhnya sah-sah saja dihadir-terjemahkan oleh manusia, walau dalam segala keterbatasannya yang sangat terbatas. Meski kita selalu sulit menentukan dengan pasti di mana letak keterbatasannya.
Namun, upaya itu harus dilihat sebagai wujud manifestasi curiosity dari rasa cinta, yang tanpa Dia, kita seringkali menghadirkan bencana. Sehingga, hermeneutika penafsiran itu merupakan proyeksi dari nama-nama yang menyifati wajibul-wujud eksistensial-Nya di alam bumi yang nyata, bersama segala misteri yang memang selalu harus tersisa.
Ini menjadi semacam kemestian azali, agar validitas ketuhanannya dapat diterima dan diakui oleh hambanya yang berakal, jika dan hanya jika masih tersisa aneka rahasia dan misteri.
Ini diperkuat oleh watak akal itu sendiri, yang lantas menyimpulkan bahwa Tuhan memang harus completely berbeda dan tak terpahami, justru karena agar Ia sah menjadi Tuhan.
Sementara kebaradaan Tuhan memang bukan untuk dipahami, tetapi Tuhan mencipta manusia agar manusia memahami dirinya sendiri, dari mana ianya berasal, apa pula tugas-tugas kemanusiaan yang secara sunatullah wajib diemban dan ke mana pula ia harus mengemudi langkah-langkah hidup, di tengah gelombang exodus manusia meninggalkan rumah-rumah kodratinya, tanpa cinta, penuh benci, dan keinginan memusnahkan, yang dipandang akan melempangkan jalan menuju istana-istana imagi, yang seluruhnya adalah ilusi. Karena manusia, memang diberi hak dan kuasa untuk bermimpi, khususnya saat in melek dan terjaga…
Maka Nabi Muhammad SAW juga memberitahukan pada para malaikat Allah, bahwa banyak manusia yang mengalami kematian saat ia masih bergerak hidup ke sana-ke mari, tetapi ia justru kembali merasa hidup saat ia telah terkurung dalam keranda kematiannya.
Di sinilah, kegelisahan dan persahabatan ataupun bahkan gugatan terhadap esensi ketuhanan yang semestinya tak pernah dipahami secara memadai dalam artian historisitas kemanusiaan.
Namun, Tuhan justru semakin membuat para hambanya menjadi semakin gelisah dan penasaran untuk terus berusaha dekat denganNya. Meski kedekatan itu hanya sekedar sebuah ilusi, saat ia telah merengkuh maut…
Barangkali, inilah suatu rabaan mistis seorang Din saja yang coba kembali pulang ke rumah azali, setelah sekian lama merantau ke alam nir-ilahi, yang mengembara ke alam teka-teki. Kini ia berikrar di hadapan Tuhan, justru karena ia kembali menggapai kemerdekaan dan kemandirian, melalui sujud-sujud yang kini telah mampu dilakukan.
Ada semacam kerelaan yang muncul saat ia menggapai kembali kemerdekaannya, yang selama ini dirasa direnggut oleh suatu kekuatan yang sebenarnya selalu bersemayam dalam benak dan kesadarannya sendiri yang merasa tidak merdeka.
Padahal, selain Tuhan itu sendiri, tiada suatu kekuatanpun yang mampu merenggut kemerdekaan yang telah dianugerahkan Tuhan pada semua manusia yang terlanjur hidup.
Walau seringkali merasa terjajah dan terpasung dalam kehidupan yang tak mampu dielak, kecuali bunuh-diri saat ia merasa sangat kecewa. Soal ikhwal kenapa kematian tak kunjung datang menyapa dan mengajak dirinya pergi.
Padahal semestinya ia tak perlu bunuh diri atau membunuh orang lain, ketika ia telah sejak lahir, secara gradual sukses menjadi binatang dan gagal menjadi manusia.
Sehingga sejarah kemunafikan yang kini menjadi ”agama” baru masyarakat, meskipun ia harus mengimpor, di mana importirnya adalah setan-setan yang telah mendapat lisensi dari Tuhan, untuk membunuh kemanusiaan dan menjelmakan kebinatangan, yang jalang dengan hunus pedang, bedil-bedil dan missile-missile, yang menggelikan para setan, yang tergelak tawa sendiri.
Itu merupakan sebuah momentum perayaan kesuksesan dengan ikrar kesetiaan kepada Tuhan-Tuhan baru yang diproduksi sendiri oleh alam ketakutan, yang kini mengurung eksistensinya.
Dengan senyum dan air mata, juga jubah, butir-butiran tasbih dan helaian sorban, beserta persujudan dirinya pada sajadah kenistaan dari berhala-berhala fana, yang disayembarakan dalam sebuah festival memenggal leher-leher keluarganya sendiri, sebagai tumbal yang dilakukan untuk membuktikan kesetiaan dirinya pada iblis dan setan yang memberhalakan kematian saudaranya, sesama manusia. Namun ia seolah dengan gagah melenggang masuk syurga.
Maka, kita tak perlu heran jika, di rumah-rumah banyak bekicot, yang memelototkan mata menyedot sumsum-sumsum peradaban manusia, apalagi di dinding-dinding kamar, laba-laba menebarkan jala-jala, untuk kemudian, entah siapa selanjutnya menjadi mangsa-mangsa.
Dan begitulah, saat Din saja, berpikir, membaca dan mengerti, apa maksud dan tujuan penciptaan, yang sepertinya, ada pertentangan antara dirinya dan Tuhan. Meskipun kemudian, ia bertekad untuk terus berzikir-pikir, semoga ia dapat bertemu dengan Dia, Allah, yang barangkali semakin malu bertemu dengan hamba-hambanya yang semakin angkuh dan nistanya keserakahan, menyusuri jalan menuju ke kuburannya, yang sejak awal telah dipersiapkan penggaliannya.
Walau kemudian, Din saja, kiranya berhasil bertemu dan bercakap-cakap dengan Tuhan dan melapor bahwa di negeri ini ada ”sekuntum mawar” yang tak lagi harum, yang batangnya alif: ”arogan, lancang, ilusif dan fasik”; yang daunnya lam: ”laknat, amuk dan musyrik”; dan yang kelopaknya mim: ”mengeluarkan igauan tangis yang menjijikkan…”












