Buku Jendela Dunia: Tantangan Literasi di Tengah Budaya Digital

Oleh Teuku Johar Gunawan
Setelah Hamdalah dan Shalawat, mari kita renungi fenomena ini. Konsumsi orang terhadap teks dan informasi lebih banyak dibandingkan dahulu, tapi ironisnya kemampuan baca orang secara mendalam menurun.
Sebuah tulisan berjudul “Seriuslah Membangun Budaya Literasi” oleh Pak Tabrani Yunis pada potretonline mengingatkan saya pada persoalan kegemaran membaca buku. Tulisan itu di antaranya menyoroti lemahnya literasi anak-anak muda negeri ini dan kerisauan tentang itu dan menghimbau pemerintah agar lebih memperhatikan hal itu jika negeri ini ingin maju.
Saya bersetuju- kerisauan itu ada di banyak kepala orangtua, guru dan dosen hari-hari ini. Persoalan rendahnya literasi dimulai dan dan tidak bisa dilepaskan dari rendahnya minat baca, lebih spesifik minat membaca buku dan lebih tepatnya membaca buku secara mendalam.
Padahal minat membaca sedemikian ini sangat penting untuk ditumbuhkan. Karena membaca buku yang mendalam melatih kita untuk memiliki konsentrasi yang lebih baik – terutama perhatian yang berkelanjutan dan fokus. Ini jelas karena untuk memahami apa yang kita baca, mencernanya dan merenungi isinya kita memerlukan konsentrasi.
Kita tahu bahwa membaca tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan kesadaran akan ide-ide, budaya dan perspektif yang mungkin belum pernah kita temukan sebelumnya. Membaca juga tidak hanya membantu pembacanya memperkuat kosa kata dan kemampuan berbahasa dan membantu bagaimana mengungkap diri dengan lebih jelas.
Tetapi lebih dari itu membaca melatih critical thinking atau berpikir kritis, termasuk melakukan kritik atas isinya, membuat perbandingan, merenungi dan merefleksikan.Tentu saja untuk mempunyai kemampuan sedemikian itu, mestilah diawali dengan banyaknya kita terlatih membaca secara mendalam: mata yang melihat, pikiran yang bertanya dan hati yang merenung.
Manusia diberikan bekal pikiran oleh Allah Pencipta kita, dan membaca yang demikian adalah salah satu kegiatan yang dapat memelihara dan melatih pikiran kita agar tetap dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Kenangan: ketika Perpustakaan jadi “Rumah Kedua”
Teringat saya gedung yang paling menonjol dan paling megah di kampus kami dahulu adalah perpustakaan atau library. Dari semua sudut kampus dan dari kejauhan gedung itu sudah terlihat. Ketika membuka pintunya yang berat dan terbuat dari kayu pilihan, maka mahasiswa disambut dengan tulisan besar di dalamnya berbunyi Book is the Window of The World.
Di dalamnya ada beberapa lantai yang membuat gedung ini cukup tinggi. Bahkan perpustakaan ini mempunyai beberapa lantai ruang bawah tanah – tetapi agar ruang bawah tanah tersebut mendapat cahaya, desainnya sedemikian rupa dibuat sehingga ruang itupun bisa dilihat dari lantai utama luar perpustakaan. Di lantai bawah tanah dibuat menghadap ke sebuah taman yang mengelilinginya, meja-meja disusun di dekat jendela agar mendapat cahaya dan pengunjungnya bisa membaca sambil sesekali bisa memandang ke taman, dengan pemandangan yang indah dan cahaya yang berlimpah.
Jika dikatakan book is the window of the world (buku adalah jendela dunia), maka perkataan itu tidak berlebihan. Karena lewat bukulah banyak informasi dan pengetahuan yang sebelumnya kita tidak ketahui menjadi kita ketahui dan peroleh.
Sejak zaman dahulu ilmu itu ditulis dan diteruskan” sampai kepada kita lewat buku-buku atau dalam bahasa Arab disebut juga Kitab. Dan perpustakaan bagi pecinta ilmu, bagaikan “rumah kedua” karena di sana ia bisa menjelajah dunia di alam pikirannya tanpa banyak gangguan.
Lalu, di masa-masa kuliah dahulu, perpustakaan bagi sebagian kita mungkin juga pernah menjadi “rumah kedua” – salah satu tempat yang menyenangkan untuk larut dalam keasyikan membaca buku – ketika zaman ketersediaan buku bahkan tidak sebanyak hari-hari ini.
Akses bacaan yang mudah
Ironisnya hari ini kita dibanjiri dengan bacaan dan dikelilingi oleh “teks” melebihi bahkan generasi sebelum kita.Smartphone kita mengantarkan artikel kepada kita, essay, update berita, pesan and seakan tidak ada habisnya aliran informasi setiap waktu.
Dibandingkan zaman dahulu, buku-buku yang tersedia hari ini sangat banyak. Bermacam-macam buku hadir dalam berbagai bentuk dan cover yang menarik dan bahkan indah. Juga tidak hanya buku berbentuk kertas. Dengan alasan mengurangi penggunaan kertas, maka banyak buku-buku dalam bentuk ebook atau electronic book tersedia. Dan bahkan banyak buku-buku yang dahulu dalam bentuk fisik kini didigitalisasi sehingga tersedia dengan mudah. Intinya akses terhadap bacaan tidak pernah semudah hari-hari ini.
Selama bertahun-tahun salah satu fokus diskusi tentang literasi adalah mengenai akses. Di banyak belahan dunia, keterbatasan pendidikan, kesenjangan ekonomi, dan ketiadaan atau kurangnya perpustakaan atau sumber bacaan memang masih menjadi persoalan nyata.
Tantangan itu masih tetap ada di banyak komunitas di berbagai belahan dunia ini. Tetapi, di banyak tempat lainnya di perkotaan misalnya dan di lingkungan yang mereka bahkan tersambung dengan dunia digital dan internet, informasi begitu banyak tersedia dan mudah.
Seseorang hanya dengan bermodalkan telepon genggamnya dapat memperoleh informasi dan materi dalam satu hari dibandingkan satu bulan waktu bagi generasi sebelumnya untuk jumlah materi dan informasi yang sama.
Tapi, lalu mengapa minat dan kemampuan membaca berkurang padahal akses terhadap informasi dan bahkan buku semakin mudah dan sedemikian maju?
Tantangan baru itu bernama perhatian yang berkurang dan kurangnya kemampuan untuk membaca secara mendalam.
Paradox: bacaan banyak – perhatian kurang
Fenomena ini bisa saja kita sebut sebagai paradox (paradoks).Karena ternyata akses yang semakin besar itu tidak mesti menghasilkan interaksi atau keterlibatan yang mendalam terhadap apa yang dibaca. Karena tidak bisa dipungkiri di masyarakat yang dibanjiri content digital (konten digital) hari ini headline (judul) menggantikan artikel, ringkasan menggantikan buku, potongan-potongan narasi pendek menggantikan penjelasan yang panjang.
Sehingga akhirnya membaca terpecah menjadi potongan momen-momen singkat dan sesaat yang lebih menyerupai scanning (memindai – membaca sekilas) ketimbang waktu yang panjang untuk membaca dengan sebenarnya dan merenungi maknanya.
Platform digital hari ini memang didesain secara agresif untuk mencuri waktu dan perhatian penggunanya. Mulai dari isi media sosial, pemberitahuan, video-video pendek, dan kebiasaan dan kemampuan menggulirkan jemari (scrolling) di gadget hari ini telah membuat orang mampu untuk bergerak dengan cepat dari satu konten ke konten lainnya.
Semakin cepat pengguna mengonsumsi konten yang tersedia, semakin lama pengguna berpartisipasi pada platform tersebut.
Mengapa Membaca Secara Mendalam Seolah Beban
Sementara membaca dengan mendalam bekerja dengan cara yang sama sekali berbeda. Membaca buku yang serius atau sebuah artikel yang panjang jelas memerlukan perhatian, konsentrasi, kesabaran dan usaha. Membaca seperti ini meminta pengorbanan waktu, membaca secara agak perlahan dan mengikuti argumentasi yang dikemukakan secara hati-hati.
Membaca seperti ini juga membutuhkan kemampuan membayangkan ide-ide yang tercantum di dalam tulisan tersebut, dan kemudian bisa merenungi dan merefleksikan maknanya. Jadi jelas cara ini bertolak belakang dengan cara membaca konten-konten digital tadi. Jika cara-cara membaca konten digital yang singkat dan tidak mendalam itu menjadi kebiasaan, maka tidak heran jika bacaan serius yang membutuhkan renungan dan refleksi tadi kini terasa seolah menjadi “beban” bagi sebagian orang, termasuk siswa-siswa di sekolah.
Dampaknya tidak hanya terbatas pada bidang sastra atau prestasi akademis. Membaca secara mendalam sangat erat kaitannya dengan pemikiran kritis. Membaca teks panjang mengajarkan orang cara memproses hal-hal yang kompleks, mengevaluasi argumen, dan menyadari adanya nuansa.
Hal ini mendorong refleksi, bukan reaksi spontan. Tanpa kebiasaan-kebiasaan ini, wacana publik berisiko menjadi semakin dangkal, emosional, dan terpolarisasi. Ketiadaan membaca secara mendalam menyebabkan: pemahaman yang dangkal – karena membaca hanya secara scanning sering memberikan kesan yang keliru seolah sudah paham; kesulitan ketika berhadapan atau terlibat dalam ide-ide atau gagasan yang lebih rumit.
Tapi perlu dicatat bahwa tidak serta merta berarti bahwa orang-orang hari ini lebih lemah secara intelektual dibandingkan generasi sebelumnya. Hanya saja lingkungan yang berubah secara luar biasa ini menjadikan pikiran dilatih secara berbeda.
Kita bisa bayangkan begini: jika kita sebagai manusia di”bombardir” dengan informasi-informasi atau lebih tepatnya arus informasi yang seakan tiada hentinya, tapi datang dalam potongan-potongan yang seperti menyita waktu dan pikiran, maka hal itu dapat merubah cara pikiran kita dilatih. Dan fenomena itu sudah bisa dirasakan.
Banyak orang hari ini sudah tidak terbiasa lagi dengan keheningan, atau konsentrasi pikiran yang lama, karena “kehidupan digital” di sekelilingnya menuntut untuk tidak bisa berkonsentrasi lama. Kita teringat ketika masuk di ruang perpustakaan zaman dahulu – maka suasana hening di mana orang-orang tenggelam dalam apa yang dibacanya. Suasana itu hari-hari ini bisa jadi akan semakin sulit dijumpai.
Di sisi lain, kita juga tidak bisa menyalahkan teknologi sepenuhnya karena itu akan menyederhanakan masalah ini secara berlebihan. Kita juga mengakui bahwa media digital juga telah memperluas akses terhadap pengetahuan dengan cara yang luar biasa. Arsip daring, buku elektronik, buku audio, dan platform pendidikan telah membuat pembelajaran menjadi lebih mudah diakses daripada sebelumnya.
Komunitas media sosial bahkan telah membantu membangkitkan kembali minat membaca buku di kalangan sebagian generasi muda. Teknologi itu sendiri tidak secara inheren bertentangan dengan kegiatan membaca.
Tantangan sesungguhnya terletak pada kenyataan bagaimana teknologi telah membentuk kebiasaan yang kadang menyebabkan hilangnya perhatian, fokus dan konsentrasi.Dan kenyataan bahwa akses terhadap informasi saja tidak menjamin keterlibatan yang bermakna bagi informasi yang diperoleh tersebut.
Dan tugas kita adalah merubahnya sebelum semua menjadi terlambat.
Sekolah Perlu Jadi “Lahan Subur” Minat dan Kemampuan Baca
Budaya cinta membaca secara ideal memang harusnya lahir dari rumah.
Lingkungan paling dekat bagi seorang anak. Tapi sekolah berperan besar karena anak-anak menghabiskan hampir separuh waktunya di sekolah. Jadi sekolah harus menjadi lahan subur atau “breeding ground” kegemaran membaca.
Perpustakaan sekolah harus dilengkapi dengan bacaan dan buku-buku yang bermanfaat dan juga menarik. Segala upaya perlu diusahakan untuk menjadikan perpustakaan menjadi daya tarik.
Karenanya sekolah tetap diharapkan memainkan peran yang sangat penting. Sekolah tentu saja menjadi tempat harapan agar minat baca dan kemampuan membaca secara mendalam itu dapat tumbuh subur.
Tapi sayangnya tanpa disadari sistem pendidikan kita hari inipun ikut menyumbang kepada persoalan ini. Di banyak sekolah, membaca sering diperlakukan hanya sebagai sebuah “check-list”tugas ataupun tugas fungsional semata, alih-alih menjadi sebuah pengalaman bagi siswa. Siswa hanya diminta untuk mengambil informasi, menyarikannya dan menyiapkan diri untuk ujian.
Tentu saja kemampuan mengambil informasi dan menyarikannya penting, tetapi jika sebatas itu maka kemampuan demikian tidak serta merta dapat menumbuhkan ketekunan, rasa ingin tahu ataupun keterlibatan untuk menghasilkan renungan dan refleksi ketika seorang murid membaca.
Dan hasilnya banyak siswa lulus dari sekolah dan mereka mampu membaca, tetapi tidak terbiasa membaca secara mendalam.
Padahal siswa perlu dididik untuk membaca dengan benar, berinteraksi dengan apa yang sedang dibacanya, dan tidak membaca cepat-cepat kalimat demi kalimat, ia kadang mungkin perlu berhenti untuk memahami maknanya dan implikasi ataupun hubungannya. Membaca seperti ini tentu lebih mengedepankan pemahaman ketimbang kecepatan baca.
Jika ini dibiasakan maka siswa akan memiliki kemampuan untuk bukan hanya membaca informasi, tetapi juga kemampuan memprosesnya, mempertanyakannya, dan menginternalisasikannya. Dalam lingkungan dunia digital hari ini yang didominasi “kecepatan” dan arus informasi yang terpotong-potong, bentuk keterlibatan membaca dengan pendekatan demikian semakin jarang.
Karena itu sekolahpun harus merubah pendekatan bagi murid-muridnya dalam hal membaca. Kenapa? karena kita memerlukan juga pendekatan institusional di samping pendekatan “mendisplinkan individu” – yakni menyemangati mereka membaca dengan cara yang benar tadi.
Sehingga sekolah tidak hanya menjadi tempat pengajaran membaca, tetapi sekolah dapat membentuk budaya membaca seperti apa, yang akan dimiliki masyarakat.
Jadi sekolah perlu berfungsi menjadi lingkungan utama di mana kebiasaan membaca secara mendalam, dan kesenangan membaca itu ditumbuhkembangkan, khususnya di tengah derasnya arus budaya digital yang semakin meningkat dan cenderung “menghargai” perhatian yang dangkal dan terpotong-potong.
Seandainya kebiasaan membaca secara mendalam itu menghilang di tengah masyarakat, maka sekolah adalah benteng terakhir (termasuk kampus seharusnya) yang dapat melestarikannya dan kemudian membangunnya kembali. Karena di tengah perhatian yang berkurang —“terenggut oleh” — dunia digital, maka sekolah adalah di antara segelintir institusi yang masih mempunyai ruang dan kemampuan melindungi fokus yang tak terputus bagi kognitif siswa-siswanya.
Di luar lingkungan sekolah, akan sangat sulit untuk menerapkan dan menstimulasi minat dan kemampuan baca dengan benar, bahkan hanya untuk sekedar minat baca sekalipun, karena siswa-siswa begitu berada di luar sekolah akan “dibombardir” dengan konten-konten yang bersifat hiburan, visual dan singkat dan berkompetisi dengan kegiatan membaca bahkan keinginan membaca.
Karenanya tanpa program penguatan yang sengaja dibuat di sekolah untuk meningkatkan minat dan kemampuan membaca dengan benar, maka akan sangat sulit diharapkan tumbuh secara alamiah di luar sistem dunia pendidikan.
Kelas yang Jadi Platform Diskusi
Disadari atau tidak bahwa minat membaca dan kemampuan membaca secara mendalam tidak akan meningkat hanya dengan kita memerintahkan siswa misalnya untuk “membaca lebih banyak”. Tetapi ia dapat meningkat jika kita berusaha untuk merubah lingkungan kelas dan mendesain kelas-kelas di sekolah-sekolah kita yang dapat menumbuhkan konsentrasi, renungan, refleksi dan keterlibatan secara intelektual.
Membaca akan menjadi berarti ketika siswa-siswa diperlakukan bukan hanya sebagai “penerima informasi” yang pasif tetapi juga menjadi peserta aktif yang dilibatkan dan di”undang” untuk berinteraksi dengan teks atau buku yang dibacanya.
Di banyak kelas di sekolah-sekolah yang dilakukan adalah model informasi satu arah, yakni informasi mengalir hanya satu arah: guru menjelaskan, siswa menerima informasi, murid menghasilkan jawaban.
Struktur demikian itu tentu saja mendorong hafalan dan pengambilan informasi semata, tetapi tidak ada renungan, refleksi dan interpretasi di sana.
Tawaran alternatifnya adalah: kelas sebagai platform diskusi yang memberikan ruang dan kesempatan sebuah teks atau buku di”jelajahi” secara bersama-sama, dipertanyakan secara kritis, dan dihubungkan dengan pengalaman nyata kehidupan.
Maka siswa akan memiliki pengalaman membangun budaya membaca yang lebih mendalam ketika siswa secara aktif terlibat dengan teks yang dibacanya — mempertanyakan argumen-argumen, memperdebatkan makna-makna, dan menghubungkan ide-ide yang muncul dengan realita sosial yang ada.
Maka di dalam kelas yang demikian, membaca tidak lagi hanya menjadi tugas mencari dan mengambil informasi; tapi ia menjadi sebuah proses parsipasi intelektual, renungan dan refleksi. Hal ini membantu siswa melihat membaca sebagai sesuatu yang bermakna, bukan sebatas tugas akademis semata.
Secara praktis dalam satu sesi pelajaran misalnya, maka siswa-siswi di kelas dapat dibagi menjadi beberapa kelompok dengan beberapa topik dan kemudian mereka diminta untuk mencari referensi dan membacanya dengan mendalam,diberikan waktu yang cukup untuk membaca, kemudian mereka mempresentasikan dan mendiskusikan di dalam kelas bersama-sama.
Kegiatan demikian bukan saja membantu proses membaca yang mendalam tapi juga mengasah kemampuan siswa-siswi untuk dapat menyampaikan ide-idenya di depan rekan-rekan dan guru mereka.
Penugasan ini tidak mesti bersifat individual pada awalnya. Bisa bersifat kelompok, di mana di dalam kelompok itu masing-masing secara aktif sukarela bisa bergantian tampil untuk menyampaikan hasil diskusi mereka, kritik ataupun temuan dan pandangan mereka terhadap suatu bacaan. Intinya kelas harus menjadi platform yang mendorong kegemaran membaca dan juga berdiskusi soal bacaan tersebut.
Jadi jika dunia digital mendorong konsumsi yang pasif, maka dunia pendidikan harus dengan sengaja menumbuhkan antitesis dari keadaan demikian, yaitu menumbuhkan minat baca dan kemampuan membaca yang mendalam secara aktif.
Salah satu syarat penting untuk menjadikan ruang kelas lebih berorientasi pada diskusi adalah mengurangi tekanan terus-menerus terkait penilaian selama kegiatan membaca. Ketika siswa menyadari bahwa setiap interpretasi akan dievaluasi secara ketat berdasarkan kebenarannya, maka mereka bisa cenderung memprioritaskan jawaban yang “aman” daripada keterlibatan yang jujur dengan teks.
Hal ini dapat membatasi rasa ingin tahu dan menghambat munculnya pertanyaan yang lebih mendalam. Sebaliknya, ketika diskusi dipisahkan dari penilaian formal, siswa cenderung lebih bebas mengeksplorasi gagasan, mengungkapkan ketidakpastian, dan mengembangkan interpretasi mereka sendiri.
Dalam lingkungan ini, membaca lebih banyak tentang berpikir ketimbang memikirkan dan mengkhawatirkan soal penilaian.
Dengan kata lain: membaca yang mendalam tidak dapat berkembang sepenuhnya dalam lingkungan atau lingkungan kelas di mana setiap pemikiran harus segera dinilai dan diberi nilai. Pengambilan risiko intelektual—yang merupakan bagian penting dari proses penafsiran — membutuhkan ruang di mana siswa diizinkan untuk merasa ragu.
Membangun Kembali Kebiasaan Penting dan kewajiban Bersama
Kita menyadari bahwa membangun kembali kebiasaan membaca yang benar dan mendalam membutuhkan lebih dari sekadar upaya individu. Hal ini bergantung pada perbaikan secara bertahap kebiasaan membaca dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, dan dalam budaya yang lebih luas di masyarakat kita.
Siswa membutuhkan kesempatan terstruktur untuk membaca secara perlahan, berpikir kritis, dan berinteraksi secara bermakna dengan teks, sementara kegiatan membaca itu sendiri harus dipandang sebagai proses renungan dan refleksi, bukan sekadar kewajiban akademis.
Pada saat yang sama, pemerintah dan lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam mendukung budaya membaca—melalui perpustakaan, perancangan kurikulum yang mendukung, dan kebijakan yang memprioritaskan pembelajaran mendalam ketimbang hanya soal kecepatan dan prestasi.
Di dunia yang semakin dibentuk oleh banyak sekali gangguan atau distraction, melestarikan kemampuan membaca secara mendalam bukan hanya masalah pendidikan, tetapi juga masalah budaya yang membutuhkan tanggung jawab bersama.












