POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Puisi Essay

Tas Sekolah di Kereta yang Ditabrak pun Bercerita

Redaksi by Redaksi
Mei 5, 2026
in Puisi Essay
0
ffc93479-aa4a-4862-abe1-a792790707df

Oleh Denny JA

(Kecelakaan menimpa sebuah kereta commuter line di Bekasi, akhir April 2026. Semua yang wafat adalah perempuan yang berada di gerbong terakhir) (1)

-000-

Baca Juga
  • Tas Sekolah di Kereta yang Ditabrak pun Bercerita - 94b60796 d087 433d 9cd5 92637384fc71 | Puisi Essay | Potret Online
    POTRET Budaya
    Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (1)
    23 Jan 2025
  • Tas Sekolah di Kereta yang Ditabrak pun Bercerita - 2025 06 21 14 08 44 | Puisi Essay | Potret Online
    Puisi Essay
    Negeriku Kaya Raya, Tapi Banyak Pencuri
    21 Jun 2025

Aku adalah tas sekolah,
dibeli dengan doa yang dilipat rapi di dalam dompet tipis seorang ibu.

Malam itu, aku masih berbau toko.
Masih menyimpan harapan yang belum sempat dipakai.
Masih kosong dari buku, tapi penuh masa depan.

Baca Juga
  • Tas Sekolah di Kereta yang Ditabrak pun Bercerita - 1eaa15b5 5049 46ed 8ecc 1f9d138c85ba | Puisi Essay | Potret Online
    Puisi Essay
    Badai di Bawah Pohon Pecan
    26 Mar 2025
  • Tas Sekolah di Kereta yang Ditabrak pun Bercerita - 74894ec2 9b84 4234 94e8 c0dd033fb1de | Puisi Essay | Potret Online
    POTRET Budaya
    Cut Nyak Dien: Nyala Perjuangan yang Abadi
    28 Jan 2025

Aku tergeletak di pangkuan seorang perempuan
yang tangannya masih menyisakan aroma bayi.
Ia pulang kerja lebih cepat hari itu, katanya,
karena ingin melihat anaknya tertidur dengan napas yang utuh.

Di dalam diriku, ia menyelipkan selembar kertas kecil.
Nama: Rina.
Kelas: 1 SD.

Baca Juga
  • Tas Sekolah di Kereta yang Ditabrak pun Bercerita - e0136ac9 9577 4b11 bb4c 19b870293d2f | Puisi Essay | Potret Online
    POTRET Budaya
    Puasa, Lapar, dan Makna Sabar
    03 Mar 2025
  • Tas Sekolah di Kereta yang Ditabrak pun Bercerita - 7cff1bac 8d15 4a90 bf36 7d06f5cacd91 | Puisi Essay | Potret Online
    POTRET Budaya
    Lelaki Yang Lahir Dari Darah Perempuan
    22 Jan 2025

Tulisan itu belum sempat disentuh pagi.

Kereta melaju seperti waktu yang tak pernah meminta izin.
Dan aku, tas kecil dengan resleting yang belum aus,
tidak tahu bahwa malam itu
aku akan belajar tentang kehilangan
lebih cepat dari buku apa pun.

-000-

Aku ingat suara itu.
Bukan dentuman biasa.
Bukan suara rel yang bergesekan dengan lelah.

Ini suara logam yang bertemu nasibnya sendiri.

Kereta berhenti sejenak di stasiun,
seperti seseorang yang menarik napas sebelum menangis.
Lalu dari belakang,
datang sesuatu yang terlalu cepat untuk ditolak.

Aku tidak melihatnya.
Tapi aku merasakan dunia terlipat.

Tubuh-tubuh di sekitarku menjadi doa yang tidak selesai.
Tangan yang memegangku terlepas
menjadi janji yang tak sempat ditepati.

Aku jatuh.
Aku terguling.
Aku terdiam.

Dan dalam diam itu,
aku tahu:
tidak semua perjalanan pulang
berakhir di rumah.

-000-

Aku adalah saksi dari gerbong terakhir.
Gerbong perempuan, kata mereka.

Gerbong perempuan disimpan di belakang, disebut paling aman; ketika bahaya datang dari arah yang tak dijaga, ia yang pertama hancur, perlindungan berubah menjadi sunyi yang paling rentan.

Di sini, tawa lebih pelan.
Cerita lebih dalam.
Lelah lebih jujur.

Mereka membawa dunia dalam tas masing-masing:
bekal anak, lipstik murah, surat tagihan,
dan mimpi yang tidak pernah cukup tidur.

Malam itu,
dunia mereka berhenti di satu titik.

Mengapa semua perempuan?
Aku bertanya,
meski aku hanya tas tanpa suara.

Mungkin karena mereka memilih duduk di tempat yang aman,
yang diberi label perlindungan.

Tapi siapa yang melindungi rel?
Siapa yang menjaga kecepatan?
Siapa yang memastikan waktu tidak bertabrakan dengan dirinya sendiri?

Gerbong ini bukan salah alamat.
Tapi sistem yang membiarkannya berada di jalur yang salah.

-000-

Aku pernah ikut ibu Lina, orang tua Rina, ke pasar.
Ia menawar harga sayur dengan senyum yang lelah tapi sabar.
Ia pernah berkata,
“Yang penting Rina sekolah, hidupnya jangan seperti Mama.”

Aku tidak mengerti saat itu.
Sekarang aku mulai mengerti.

Sekolah adalah harapan yang dijahit dari pengorbanan kecil.
Dari bangun pagi sebelum matahari.
Dari naik kereta yang terlalu penuh.
Dari percaya sistem bekerja untuk melindungi.

Aku bagian dari mimpi itu.

Tapi malam itu,
mimpi itu dihentikan oleh sesuatu yang lebih besar dari niat baik.

Oleh sinyal yang mungkin terlambat.
Oleh keputusan yang mungkin salah.
Oleh kelelahan yang mungkin dianggap biasa.

Kecelakaan bukan terjadi karena satu kesalahan.
Ia tumbuh dari kebiasaan yang dibiarkan.

-000-

Kini aku terkulai di lantai gerbong.
Resletingku terbuka seperti luka yang tidak bisa dijahit.
Di dalamku, kertas kecil itu masih ada.

Nama: Rina.

Aku tidak rusak sepenuhnya.
Tapi aku tidak utuh lagi.
Bagai dunia yang ditinggalkan oleh mereka yang tidak kembali.

Aku membayangkan Rina bangun esok pagi.
Mencari ibunya di pintu.
Menunggu suara yang tidak datang.

Aku ingin sampai ke tangannya.
Aku ingin menjadi awal dari hari pertamanya di sekolah.

Tapi aku terjebak di antara logam dan kenangan.

Aku hanyalah tas sekolah
yang gagal mengantar masa depan.

-000-

Beberapa hari setelah itu,
aku berada di tangan seseorang yang bukan ibunya.
Mereka berbicara tentang santunan, tentang investigasi,
tentang prosedur dan perbaikan.

Aku mendengar kata “evaluasi”
seperti mendengar doa yang terlalu sering diulang tapi jarang dijawab.

Aku ingin bertanya:
berapa banyak tas lagi yang harus rusak
agar rel belajar mendengar?

Berapa banyak ibu yang harus hilang
agar sistem berhenti menganggap kesalahan sebagai rutinitas?

Aku hanyalah tas.
Tapi aku tahu satu hal:

Tidak ada kecelakaan yang benar-benar tiba-tiba.
Ia selalu didahului oleh tanda-tanda
yang diabaikan.

-000-

Aku adalah tas sekolah.
Aku dibuat untuk membawa buku.

Tapi malam itu,
aku membawa cerita.

Cerita tentang ibu yang pulang terlalu cepat untuk ditabrak waktu.
Cerita tentang perempuan yang duduk di tempat yang katanya aman.
Cerita tentang kota yang bergerak terlalu cepat
tanpa cukup ruang untuk berhenti.

Dan tentang seorang anak bernama Rina,
yang hari pertamanya di sekolah
dimulai dengan kehilangan.

Di negeri yang tak merenungkan tragedi, yang selalu lebih cepat hanyalah kabar duka.***

Jakarta, 1 Mei 2026

CATATAN

(1) Puisi esai ini diinspirasi oleh kisah sebenarnya. Sekitar 1,2 juta penumpang, mayoritas pekerja komuter, menggantungkan hidup pada kereta api setiap harinya.

https://www.instagram.com/p/DXrH4exFFE6/?igsh=MnB6N29pcWo3d2Z0

-000-

Berbagai puisi esai dan ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/1LPGngJeZ5/?mibextid=wwXIfr
Previous Post

Membumikan Budaya Literasi Dengan Inovasi Sebagai Bagian Aksi Pasti Memajukan Negeri 

Next Post

Membaca Akar Arah Politik Aceh Pasca Bencana

Next Post
IMG_0518

Membaca Akar Arah Politik Aceh Pasca Bencana

Please login to join discussion
POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah