
Pada Hari Pendidikan tahun ini, penulis tergelitik dengan berbagai masalah yang mencuat di dunia keluarga “OemarBakrie.” Muncul berbagai hal melintas tayang di media sosial. Suka atau benci, bahagia atau kecewa. Bukan lagi tabu untuk dibahas di depan publik.
Penulis kupas walau tidak tuntas. Sebagian fakta lapangan dunia kerja pendidikan.
Penulis bermula menjadi guru di era Kurikulum 1984. Empat tahun mengenal kurikulum tersebut lahirlah Kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)/1994. Sepuluh tahun kemudian berganti Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)/2024, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)/2006, Kurikulum 2013 (K-13)/2013, dan Kurikulum Merdeka Belajar (Kurmer)/2022. Tiga tahun lagi (2029) penulis akan tiba purnabakti sebagai Pengawas TK/SD yang telah diemban sejak Juni 2017.
Bukan mustahil rentang waktu itu akan bertemu kurikulum teranyar lagi. Melewati lima fase kurikulum (sejak 1989 sampai 2026) dalam perjalanan karir PNS (sekarang ASN). Penulis rangkum beberapa kalimat yang memicu permasalahan panas di dunia kerja guru.
Menjadi serangan yang sangat tidak mengenakkan sebagai seorang pendidik. Antara tuntutan profesi dan harga diri yang tak berharga lagi. Nilai kepribadian guru yang dicabik-cabik di tengah penanaman pendidikan karakter siswa.
Pembunuhan karakter yang terjadi terang-terangan pada pembangun karakter. Etika menjaga lisan lenyap di tengah gempuran krisis karakter yang tak lagi beradab. Perilaku guru terhadap teman sejawat, guru terhadap siswa, dan sebaliknya siswa terhadap gurunya.
Mendisiplinkan Etika Dianggap BULLY
Bullying adalah perangai agresif yang dilakukan secara sengaja dan berulang kali dengan tujuan menyakiti, merendahkan atau menindas. Seringkali melibatkan orang-orang yang punya kuasa. Bisa seenak isi kepalanya dia lakukan tanpa memikirkan sebab akibat.
Tindakan bullying terbagi dalam berapa bagian. *Fisik seperti, memukul, menendang, menjambak, atau merusak barang-barang korban. Pelaku seperti mendapat kepuasan batin bisa menyakiti orang lain tanpa ampun.
*Verbal seperti, memaki, mengejek, mengancam, atau memberikan nama lain dengan tujuan menghina. Penulis kerap mendengar siswa hingga mahasiswa menyebut kawan ngobrolnya dengan sebutan njir, anjir, dan jeng. Bahkan dengan jelas disapa temannya (maaf) anjing. Sungguh ironis ucapan itu dianggap biasa di muka publik.
Rasa malu tak memiliki adab, tak mereka punyai. Wajah cantik/tampan dan berpendidikan tak beretika dalam berbicara; dianggap gaul. Penulis pernah beberapa kali meletakkan secarik kertas di meja kopi berisi coretan, “JANGAN NORMALKAN KATA NJIR, ANJIR = ANJING.”
Ketika mendengar obrolan berjam-jam dengan sebutan bikin sakit telinga.
*Sosial/Psikis tindakan yang dilakukan seperti,mengucilkan, menyebar gosip/fitnah, atau memanipulasi pertemanan. Nah, yang ini seperti sarapan sebelum bekerja. Ada saja yang menjadi sentilan perbincangan di tengah guru. Mulai stylemode (mode gaya), korban skin care, hingga status WhatsApp (WA). Terkadang brakhir dengan pengucilan.
*Cyberbullying tindakannya berupa: mengintimidasi melalui media sosial, mengirim pesan kejam, atau menyebarkan konten memalukan secara daring. Terjadi juga di tengah para guru sosialita. Berjibaku pembangun karakter anak didiknya juga sebagai pelaku di tengah mitra kerjanya.Bahkan ada yang live streming; perang medsos.
Kelompok bestie/sesircle guru di sekolah kerap menjadi tempat belajar plus ladang toxic. Berseragam rapi dan wangi.Bicara bullying (perundungan) di antara siswanya. Namun, sengaja atau tidak seringkali antar guru lebih sadis. Di depan berkata manis. Balik kanan kontan dirasuki iblis. Fakta atau mitos?
Mendapat Hadiah Dianggap GRATIFIKASI
Di tengah puncak tugas guru yang berjubel ada ortu yang perhati. Anak dititipkan oleh-oleh untuk gurunya. Terngiang. Seorang siswi perempuan kelas 3 SD. Meminta penulis sebagai pemilih pertama untuk menerima titipan. Penulis hanya guru kelas sebelah si anak (paralel). Namun, si anak setengah memaksa penulis wajib memilih pertama.
Setelah berbagai pertanyaan, penulis terima. Mengajarkan belajar menghargai tanpa meminta. Namun, esok harinya penulis minta ketemu ortu si anak menceritakan perihal itu. Ternyata si anak yang memilih sendiri tiga benda serupa tapi, tak sama. Diperuntukkan pada tiga guru sejenjang kelasnya. Karakter saling berbagi sudah tertanam dalam jiwanya.
Tentu saja didukung penuh oleh ortu.
Pernah seorang guru senior ditabalkan namanya guru kado. Penabalan itu bukan tanpa alasan. Ketika guru dicap materialis. Penulis tepis dengan komitmen pada diri dan menjelaskan semampunya.
Bukan perkara mudah melawan arus. Justru datang dari atasan langsung. Misalkan siswa pindahan. Wajib jok peng kupi (beri uang kopi). Alasan beli kursi. Eit tungguuu… Itu doeloesebelum membooming kata GRATIFIKASI. Bagaimana dengan sekarang?
Awal tahun 2026 datang seorang guru pindahan ke sekolah binaan. Kabar kedatangan tidak menyenangkan. Ia terekam CCTV menerima kue dari dari ortu usai membagi rapor. Ketua yayasan membebastugaskannyal. Guru honor hilang kesempatan mengajar. Harus membayar mahal untuk sekerat kue. Duh, separah itukah efek dari kata GRATIFIKASI?
Study Tour Dituding NUMPANG LIBURAN
Kata-kata yang menyayat hati guru. Seakan tanpa ikut study tour guru tak pernah tau dunia luar. Pembulyan verbal yang benar-benar penulis mendengarnya dengan telinga sendiri. Tak hanya membaca ocehan beberapa netizen yang anti profesi guru. Kehabisan kata merespon tudingan seperti itu.
Bagaimana mengajarkan anak-anak berkarakter jika saja lisan orang tua mereka sedemikian.
Tanpa guru ikut apakah masih pantas disebut dengan study tour? Andai boleh memilih, guru juga punya keluarga sendiri yang perlu diperhatikan. Butuh waktu liburan dekat/jauh mengawal anak-anak rohaninya.
Saatnya ortu mengawal anak-anaknya. Melepas mereka meninggalkan sekolah. Setelah bertahun-tahun ditempa kepribadiannya oleh guru ASN atau non-ASN. Apa yang akan terjadi jika itu menjadi nyata?
Mengolah Nilai Dituduh…
Nilai lahir bukan lewat pemberian. Namun, hasil asesmen anak yang mampu dipertanggungjawabkan di depan teman-teman sekelas, guru, dan ortunya. Terutama di depan Tuhan kepercayaannnya. Jangan berpikir akan menukar pemberian dengan angka-angka pada akhir semester. Dianggap sedekah nilai berbagi balik. Bagi penulis, tak ada dalam kamus hidup seperti itu.
Penutup
“Guru menjadi beban negara.” Ucapan viral eks Menteri Keuangan Srimulyani terendus digital. Terlepas dari hoax atau deep fake. Seberapa besar beban negara untuk jasa guru dibandingkan pekerja proyek MBG? Hanya menambah beban kerja guru mengurus ompreng, kuah tumpah, waktu belajar tersita, dan lebih buruk siswa keracunan.
Jika siswa tewas, guru lagi menanggung beban, bukan negara. Seberapa banyak negara membayar guru untuk ngurus proyek ompreng? Siapa yang mampu mendidik anaknya sendiri hingga menjadi pejabat penting di dunia ini; tanpa guru. Punya jawaban?
Lhokseumawe, 3 Mei 2023
Oleh, Syamsiah Ismail, M. Pd. (email: buksam1969@gmail.com)















© 2026 potretonline.com