Minggu, Mei 3, 2026

Dari Hikayat Ke TikTok: Menjaga Nyala Sejarah Islam Aceh di Tengah Arus Digital

Penulis M. Nur, S.Ag.,M.A
Mei 3, 2026
6 menit baca
39f65edf-c042-445a-abab-85abf153ccdd
Foto / Ilustrasi Dari Hikayat Ke TikTok: Menjaga Nyala Sejarah Islam Aceh di Tengah Arus Digital
Disunting Oleh

Oleh: M. Nur, S.Ag.,M.A

Guru Bidang Studi SKI MAN 7 Bireuen.

Di tanah pesisir Aceh angin laut tidak hanya membawa aroma garam, tetapi juga jejak sejarah panjang yang membentuk siapa kita hari ini. Bireuen, sebagai salah satu simpul penting di wilayah ini bukan sekadar daerah administratif, ia adalah ruang hidup tempat nilai, tradisi dan agama berkelindan sejak berabad-abad lalu.

Di sinilah, di antara riak ombak dan jalan-jalan yang kini dipenuhi kendaraan modern, pernah berdiri peradaban yang terhubung dengan dunia luas melalui jalur perdagangan dan dakwah. Kita mengenalnya dalam catatan sejarah sebagai bagian dari kejayaan Kerajaan Samudra Pasai, sebuah pusat awal penyebaran Islam di Nusantara.

Namun hari ini pertanyaan yang lebih penting bukan lagi “apa yang terjadi di masa lalu?” melainkan: apakah generasi kita masih merasa memiliki masa lalu itu?

Hikayat yang Memudar, Layar yang Menyala

Dahulu sejarah hidup dalam hikayat. Ia diceritakan dari mulut ke mulut, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Anak-anak Aceh tumbuh dengan kisah para ulama, habaib, dan tengku yang datang dari berbagai penjuru dunia untuk menyebarkan Islam dengan hikmah dan keteladanan. Cerita-cerita itu bukan sekadar hiburan; ia adalah sarana pendidikan, pembentukan karakter, bahkan penanaman identitas.

Hari ini ruang itu telah berubah. Hikayat perlahan digantikan oleh layar. Anak-anak kita lebih akrab dengan video berdurasi 30 detik dari pada kisah panjang penuh makna. Ini bukan sekadar perubahan media, tetapi perubahan cara berpikir. Jika dulu kita merenung, kini kita menggulir (scroll). Jika dulu kita mendengar kini kita menonton.

Namun apakah ini berarti kita harus menolak perubahan?

Saya kira tidak.

Sejarah Mengajarkan Kita untuk Adaptif

Jika kita membaca sejarah Islam di Aceh secara jernih kita akan menemukan satu pola penting: adaptasi. Para ulama yang datang ke pesisir Aceh tidak membawa pendekatan yang kaku. Mereka memahami budaya loka menggunakan bahasa masyarakat bahkan menyisipkan nilai-nilai Islam ke dalam tradisi yang sudah ada. Itulah sebabnya Islam tidak hadir sebagai sesuatu yang asing tetapi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks ini, media sosial hari ini sejatinya tidak berbeda dengan hikayat di masa lalu. Ia adalah alat. Yang membedakan hanyalah bentuknya.

Jika dulu dakwah dilakukan melalui cerita panjang di balai desa, maka hari ini ia bisa hadir dalam bentuk video pendek di platform digital. Jika dulu nilai disampaikan melalui syair maka hari ini ia bisa dikemas dalam visual yang menarik.

Masalahnya bukan pada medianya, tetapi pada siapa yang menguasainya.

Generasi Digital dan Krisis Keterhubungan

Data menunjukkan bahwa lebih dari 70% remaja Indonesia menghabiskan waktu lebih dari 3 jam per hari di media sosial. Di Aceh, angka ini mungkin tidak jauh berbeda. Ini berarti bahwa ruang pembentukan identitas generasi muda telah bergeser dari rumah dan sekolah ke ruang digital.

Namun di sisi lain konten tentang sejarah lokal Aceh termasuk Bireuen masih sangat terbatas. Jika pun ada sering kali disajikan dalam bentuk yang kurang menarik bagi generasi muda. Akibatnya, terjadi apa yang saya sebut sebagai krisis keterhubungan: generasi muda hidup di tanah yang kaya sejarah tetapi merasa jauh darinya.

Ini ibarat seseorang yang tinggal di tepi laut tetapi tidak pernah merasakan airnya.

Antara Kehilangan dan Kesempatan

Kita sering kali melihat media sosial sebagai ancaman. Ia dianggap merusak moral, mengganggu konsentrasi bahkan menjauhkan anak-anak dari nilai-nilai agama. Sebagian anggapan ini tidak sepenuhnya salah. Namun, melihat media sosial hanya dari sisi negatif adalah seperti melihat laut hanya sebagai ancaman badai tanpa menyadari potensi rezeki yang dibawanya.

Media sosial pada hakikatnya adalah ruang baru. Dan seperti semua ruang dalam sejarah ia bisa menjadi baik atau buruk tergantung siapa yang mengisinya.

Bayangkan jika kisah-kisah tentang ulama Aceh, tentang perjuangan dakwah di pesisir, tentang nilai-nilai adab dan keilmuan dikemas dalam bentuk yang menarik dan disebarkan secara luas. Bukankah itu akan menjadi bentuk dakwah yang sangat efektif?

Dari Konsumen Menjadi Produsen Sejarah

Salah satu tantangan terbesar generasi muda hari ini adalah mereka lebih banyak menjadi konsumen dari pada produsen. Mereka mengonsumsi konten dari luar tetapi jarang memproduksi konten yang merepresentasikan identitas mereka sendiri.

Di sinilah peran pendidikan menjadi sangat penting.

Sebagai pengajar, saya melihat bahwa siswa tidak kekurangan kreativitas. Yang mereka butuhkan adalah arah dan konteks. Ketika mereka diberi tugas untuk membuat video tentang sejarah lokal, misalnya, hasilnya sering kali mengejutkan. Mereka mampu mengemas cerita lama menjadi sesuatu yang segar dan relevan.

Ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan pada kemampuan generasi muda tetapi pada kesempatan yang kita berikan kepada mereka.

Menjembatani Masa Lalu dan Masa Depan

Menjaga sejarah bukan berarti membekukannya. Sejarah yang hidup adalah sejarah yang terus ditafsirkan ulang sesuai dengan zamannya. Dalam konteks Aceh, ini berarti kita perlu menjembatani nilai-nilai lama dengan realitas baru.

Analogi sederhana: jika sejarah adalah api, maka media sosial adalah angin. Angin bisa memadamkan api, tetapi juga bisa membuatnya menyala lebih besar. Tergantung bagaimana kita mengarahkannya.

Solusi: Dari Wacana ke Gerakan

Untuk memastikan bahwa sejarah dan budaya Islam Aceh tetap hidup di era digital, diperlukan langkah-langkah konkret:

  1. Integrasi Kurikulum Berbasis Lokal.
    Sejarah lokal harus menjadi bagian penting dalam pembelajaran, bukan sekadar pelengkap. Siswa perlu diajak untuk memahami bahwa mereka adalah bagian dari sejarah itu.
  2. Proyek Digital Kreatif
    Sekolah dapat mendorong siswa untuk membuat konten digital, video, podcast, atau tulisan tentang sejarah dan budaya Aceh. Ini bukan hanya meningkatkan pemahaman tetapi juga keterampilan abad 21.
  3. Kolaborasi dengan Komunitas
    Melibatkan tokoh masyarakat, ulama, dan komunitas lokal dalam proses pembelajaran akan memperkaya perspektif siswa.
  4. Pelatihan Literasi Digital
    Generasi muda perlu dibekali kemampuan untuk menggunakan media sosial secara bijak dan produktif.
  5. Revitalisasi Narasi Lokal
    Cerita-cerita lama perlu ditulis ulang dengan bahasa yang lebih kontekstual dan menarik bagi generasi sekarang.

Penutup: Menyalakan Kembali Nyala Itu

Pada akhirnya menjaga sejarah bukan hanya tentang mengenang masa lalu tetapi tentang menentukan arah masa depan. Bireuen dan Aceh memiliki warisan yang sangat kaya. Namun, warisan itu tidak akan berarti jika tidak diwariskan.

Kita tidak bisa memaksa generasi muda untuk kembali ke masa lalu. Tetapi kita bisa membawa masa lalu itu ke dalam dunia mereka hari ini.

Dari hikayat ke TikTok, dari balai desa ke layar digital, perjalanan ini bukanlah kehilangan melainkan transformasi. Dan dalam setiap transformasi selalu ada peluang untuk tumbuh.

Tugas kita adalah memastikan bahwa dalam setiap perubahan nilai-nilai itu tetap hidup tidak hanya dalam buku, tetapi dalam hati dan tindakan generasi yang akan datang.

Karena pada akhirnya, sejarah bukan hanya tentang apa yang telah terjadi tetapi tentang siapa yang kita pilih untuk menjadi.


✦ ✦ ✦
Apakah artikel ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
M. Nur, S.Ag.,M.A
Majalah Perempuan Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Preview
Memuat komentar...

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist