Oleh : Teuku Masrizar
Minggu lalu saya dihubungi seorang guru Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi Aceh Selatan, menanyakan bibit tanaman untuk penghijauan. Saya menyarankan menghubungi KPH IX. Syukur alhamdulillah bibit yang dibutuhkan tersedia.
Kamis (30 April 2026) Sekolah Rakyat Aceh Selatan berkolaborasi dengan berbagai pihak melakukan penanaman pohon di Ladang Rimba. Kegiatan ekstra kurikuler (outing class) dirangkai dengan momentum peringatan Hari Bumi Tahun 2026.
Tentu kegiatan ini harus didukung karena menjadi edukasi sekaligus praktik lapangan bagi generasi pewaris masa depan. Pun demikian tempat pelaksanaan aksi yang dipilih tepat pada daerah pasca bencana, kegiatan ini semakin memberikan pemahaman bagi anak didik tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Ladang Rimba Kecamatan Trumon Tengah Kabupaten Aceh Selatan pada 20 November 2023 lalu mengalami musibah dasyat, banjir bandang. Jelang magrib waktu itu, air bercampur lumpur dengan derasnya menghancurkan rumah-rumah, fasilitas umum, tanaman perkebunan dan sumber penghidupan masyarakat.
Kondisi kerusakan akibat banjir bandang di gampong Ladang Rimba tidak saja menghancurkan pemukiman warga tapi dari hulu sampai hilir. Hingga saat ini kondisi lingkungan belum pulih.
Tanaman sawit, kelapa, pinang dan tanaman perkebunan lainnya mati akibat ditimbun tanah. Demikian juga parit dan drainase lingkungan pemukiman yang hancur dan belum kembali normal sampai kini.
Ternyata dampak banjir bandang tidak saja kerugian fisik dan harta benda. Tapi secara psikologis Masyarakat Ladang Rimba. Saat ini bila curah hujan tinggi masyarakat waspada akan kembali terjadinya banjir bandang kembali.
Saya meyakini aksi penanaman yang dilakukan murid Sekolah Rakyat Aceh Selatan tidak semuanya hidup. Kondisi cuaca panas dan sangat ektrim menjadi penyebab sulitnya tanaman tumbuh dan berkembang dengan baik disamping tidak dilanjutkan dengan pemeliharaan secara berkala.
Namun tentu usaha yang dilakukan perlu diapresiasi, dihargai. Anak-anak telah berusaha melakukan penanaman yang menjadi pembelajaran penting bagi mereka dan orang banyak. Mereka telah berkonstribusi untuk menanam pohon “Menyembuhan Bumi”. Contoh dan aksi nyata respon terhadap kondisi yang ada. Bagi mereka, situasi tidak akan berubah bila tidak ada ikhtiar untuk merubahnya.
Terlihat keceriaan dari wajah imut murid-murid SR Aceh Selatan setelah menanam pohon dan menyiramnya. Mereka senang dan bahagia, seakan lelahnya terobati dengan selesainya menanam pohon.
Kegiatan ini memberikan pembelajaran bagi kita, bahwa usaha yang telah dilakukan murid Sekolah Rakyat, menjadi inisiasi sekaligus pemantik bagi generasi muda lainnya berbuat hal yang sama.
Generasi muda sebagai penerus masa depan dan pewaris bumi perlu terus didorong peran aktif dan aksi nyata dalam menyelamatkan bumi. Karena menyembuhkan bumi adalah menumbuhkan masa depan.###









Diskusi