Oleh: Teuku Johar Gunawan
Sebuah tulisan berjudul “Pendidikan di Persimpangan Makna” oleh Suko Wahyudi di potretonline yang memulai tulisan itu dengan kegelisahan tentang arah dan makna pendidikan di tengah kurikulum —yang semakin terkesan “canggih” —tapi pendidikan kehilangan ruh yang menghidupinya.
Dan kegelisahan itu menemukan jawaban dalam filsafat yang dirumuskan oleh Ki Hajar Dewantara. Penyebutan nama Ki Hajar Dewantara dalam tulisan tadi mengingatkan masa-masa penulis mengenyam pendidikan di sistem yang dibangun oleh menteri pendidikan pertama Indonesia tersebut (yang lahir sebagai Raden Mas Suwardi Suryaningrat). Sebuah sistem pendidikan yang membangun nilai manusia ketimbang hanya sekedar siswa dengan sertifikat kelulusan.
Perguruan itu bernama Taman Siswa. Dan Taman Siswa punya jenjang pendidikan mulai pendidikan dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Penulis sempat mengenyam pendidikan di Taman Dewasa (SMP) dan Taman Madya (SMA).
Ada satu mata pelajaran yang menjadi bagian integral dari proses pendidikan di Taman Siswa. Mata pelajaran itu bernama Ketamansiswaan. Penulis ingat betapa semangatnya ketika masuk mata pelajaran ini. Bukan hanya karena mata pelajarannya sendiri yang mengajarkan konsep- konsep hidup – tetapi karena juga semangat guru yang mengajarkannya dan juga karena moralitas yang tidak hanya menjadi pelajaran, tapi menjadi pengalaman hidup.
Adalah Ki Ermad Husein – demikian beliau biasa dipanggil – guru kami yang mengajarnya. Awalan di depan namanya “Ki” diberikan kepada tokoh senior di perguruan Taman Siswa – mengadopsi sebutan kepada Ki Hajar Dewantara – tokoh pendidikan nasional – yang sekaligus pendiri Taman Siswa.
Ki Ermad Husein. Rambutnya sudah memutih semuanya. Umurnya sudah lanjut. Tapi jalannya tetap tegak dan gagah. Wajahnya seperti bercahaya. Dan yang utama adalah pancaran semangatnya. Jika bertemu dengannya, maka siswa bisa tertular semangatnya.
Ia masuk mengajarkan konsep-konsep tentang Tut Wuri Handayani (di belakang memberi support), Ing Ngarsa sung Tuladha (di depan memberi teladan) , Ing Madya Mangun Karsa (di tengah-tengah membangun semangat) dan banyak konsep lainnya yang bermanfaat dalam kehidupan siswa setelah terjun ke masyarakat.
Konsep dasar Taman Siswa pada saat lahirnya adalah mengadopsi pendidikan kepada nilai-nilai dan budaya lokal sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonial Belanda yang menguasai tanah Jawa pada masa itu.
Sehingga beberapa konsep mengambil konsep dan budaya Jawa ketimbang nasionalisme murni. Apa yang disebut dalam sebuah journal sebagai cultural nationalism (nasionalisme budaya). Contohnya konsep Tutwuri Handayani.
Tutwuri Handayani sudah lama menjadi rangkaian kata yang bisa dilihat pada lambang Departemen Pendidian dan Kebudayaan pada masa itu. Sampai hari ini kalimat itu masih tetap ada digunakan meskipun kementriannya sudah dipecah menjadi pendidikan dasar dan menengah dan pendidikan tinggi, sains dan teknologi.
Betapapun konsep ini seharusnya diterapkan dalam kehidupan sebagai pemimpin. Karena sebagaimana Nabi kita yang mulia menjelaskan bahwa kita semua adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawabannya. Sebagai pemimpin salah satu karakteristiknya adalah di belakang memberikan dorongan, dukungan atau support kepada yang dipimpinnya.
Dalam konteks dunia pendidikan guru adalah pemimpin yang memberikan support dan dorongan kepada murid-muridnya. Dan siswa adalah pemimpin bagi dirinya dan kelak bagi lingkungannya.
Kembali kepada Ki Ermad Husein guru kami yang semangat itu. Kali lain Ki Ermad Husein masuk dalam pelajaran Bahasa German. Ia membangkitkan semangat kami ketika belajar Bahasa German dengan mengatakan bahwa kami harus bersemangat sama seperti ketika orang German meneriakkan: “Deutschland über alles” – German di atas lainnya.
Teriakan yang dulu dimaksudkan untuk menyatukan German di atas berbagai kelompok pada masa itu. Ki Ermad Husein bukan hanya menguasai Bahasa German, tetapi juga Bahasa Arab dan ilmu agama Islam dan penerapannya.
Di lain waktu ketika kami siswa shalat Jum’at di masjid besar di daerah kami, tiba-tiba kami melihat Ki Ermad Husein berdiri sebagai khatib. Dan kami bangga melihat beliau di mimbar itu. Beliau menunjukkan multi talenta yang membuat kami murid-muridnya bersemangat juga untuk memiliki pengetahuan dan skill yang bernilai dan bermanfaat seperti beliau — bukan hanya buat diri pribadi tapi juga buat banyak orang lain.
Jadi kami melihat beliau adalah teladan yang tidak hanya cerdas, tapi juga utuh dan bermakna. Dan juga beliau sangat hormat kepada siswa-siswanya. Jika berbicara dengan siswa, beliau begitu santun padahal beliau adalah “petinggi” di perguruan (yang mencakup level TK, SD, SMP dan SMA pada saat itu). Tapi beliau tidak menjadikan kedudukan beliau sebagai penghalang komunikasi timbal balik antara siswa dan seorang guru.
Karena meski beliau duduk sebagai Ketua Perguruan – beliau adalah seorang guru – yang secara alamiah mempunyai kecintaan dan keinginan untuk memberikan yang terbaik kepada murid-muridnya. Dan ini menjadi contoh tidak langsung kepada siswa tentang akhlak.
Meski beliau juga orang yang tegas, santun itu menjadi bawaan pribadi beliau – dan siswa-siswa melihat model nyata dan contoh dalam kehidupan dan mereka berusaha untuk menirunya. Sehingga pendidikan menjadi pengalaman yang hidup.
Bahkan Ki Ermad Husein mengatakan ia tak terlalu risau dengan murid-muridnya akan mempunyai kedudukan keduniaan apa nanti di masa depan. Ia nampaknya lebih risau jika seandainya murid-muridnya kehilangan nilai-nilai baik yang mereka telah peroleh. Ia pernah mengatakan bahwa meskipun seandainya ada muridnya yang menjadi tukang becak – maka ia berpesan “jadilah tukang becak yang baik”. Dan itu adalah pesan moral bahwa hidup tidak melulu soal persaingan mendapatkan materi dan kedudukan – tapi lebih kepada seberapa bernilainya manusia dalam hidupnya.
Jika jadi pejabat jadilah pejabat yang baik. Jadi dokter jadi dokter yang baik dan seterusnya. Apapun peran kita dalam hidup, pesan moral kemanusiannyaadalah: be the best of you. Ia memberi semangat siswa untuk menemukan diri dan tujuan hidup.
Zaman itu siswa-siswi di sekolah belum mengenal internet. Jika jam istirahat sekolah hanya ada tempat beristirahat – satu di perpustakaan (library), satu di kantin atau bercengkerama di tempat
duduk panjang dari beton yang tersedia yang diselingi pilar kotak dikelilingi tanaman.
Banyak juga siswa-siswi beristirahat di perpustakaan sambil membaca berbagai macam buku yang memang tersedia pada saat itu. Dan saya bahkan sering berangkat kembali ke sekolah dengan
mengendarai sepeda yang dibelikan ayah untuk mengunjungi perpustakaan sekolah setelah jam sekolah usai.
Saya teringat diberi kepercayaan oleh bapak petugas perpustakaan untuk bisa punya akses di luar jam sekolah, karena saya telah membantu beliau menyusun buku-buku yang datang sesuai
dengan sistem Deway Decimal System — sebuah sistem penomoran resmi yang digunakan perpustakaan. Dan beliau merasa sangat terbantu. Dan saya merasa bersyukur mendapat kepercayaan itu.
Jadi siang hari di samping membaca di perpustakaan, maka sayapun secara volunteer atau suka rela membereskan buku-buku yang dibaca oleh siswa-siswi di pagi hari dan kemudian mengembalikan buku-buku tersebut ke tempatnya di rak-rak buku sesuai dengan penomora sistem Dewey, sehingga ketika pagi hari buku-buku itu sudah tersusun rapi kembali untuk siap dibaca oleh para siswa.
Dan itu meringankan tugas bapak petugas perpustakaan. Mungkin beliau telah menganggap saya sebagai asisten beliau sehingga beliau memberi akses perpustakaan di luar jam sekolah sehingga kegemaran saya membaca bukupun dapat terpenuhi.
Saya sangat menikmati masa-masa sekolah itu. Sesuai dengan namanya Taman Siswa. Seharusnyalah sekolah itu seperti taman bagi seorang siswa. Seperti taman, ia mempunyai banyak tumbuhan yang segar, berwarna-warni dan bermanfaat. Seperti taman ia dapat menjadi penopang bagi kehidupan di sekelilingnya dengan memberi ruang segar karena oksigen yang dihasilkan oleh tumbuhan-tumbuhan yang ada di taman itu.
Layaknya sebuah taman, sekolah juga mestilah menjadi tempat tumbuhnya tanaman baru yang berkembang dan dirawat yang semuanya kelak membawa kebaikan. Dan seperti sebuah taman sekolah adalah menjadi tempat yang sejuk dan jauh dari kekakuan. Alam mengajarkan kepada kita.
Sekolah mestilah menjadi tempat yang dirindukan bagi siswa-siswa dan bukan hanya sebuah “check list kewajiban”. Di sebuah taman – semua boleh datang mengambil manfaat. Layaknya
taman – maka semua pohon-pohon di sana memberikan oksigen yang sama kepada semua yang datang. Tak ada eksklusivitas. Tak ada unggul dan tidak unggul. Semua anak adalah unggul.
Masalahnya adalah tinggal memberikan kesempatan yang sama kepada anak-anak itu. Layaknya sebuah taman, maka warna bunga tidaklah mesti semuanya hijau. Anak-anak juga demikian.
Semua punya bakat masing-masing dan keunggulan masing-masing. Masalahnya apakah institusi pendidikan memberikan ruang dan kesempatan untuk mereka masing-masing – sehingga kita
akhirnya bisa mengatakan dengan lega bahwa institusi pendidikan sudah berusaha secara optimal agar siswa menjadi: the best of him/her – menjadi yang terbaik dari dirinya.
Hari ini salah satu isu dunia pendidikan adalah adanya kepercayaan bahwa untuk menjadi unggul sekolah perlu mendapat bibit unggul. Sekilas kedengarannya seperti ada kebenaran di sana.
Namun dalam konteks pendidikan, mengatakan bahwa dunia pendidikan hanya dapat menghasilkan produk unggul jika siswa yang masuk sudah unggul, jelas melupakan fakta bahwa manusia itu ketika dilahirkan telah dianugerahi keunggulan inherent atau bawaan dalam dirinyamasing-masing oleh Allah sebagai Sang Maha Pencipta.
Masalahnya di dunia pendidikan yang hanya berdasarkan kurikulum yang terlalu berorientasi kelulusan dengan nilai-nilai tertentu pada mata pelajaran baku yang dibuat sama rata untuk seluruh siswa – maka keunggulan-keunggulan dan kelebihan individu sering tidak dapat muncul secara alami atau bahkan terabaikan.
Sebagian siswa terpaksa menghabiskan sebagian waktunya untuk belajar sesuatu yang dia tidak minati – tapi harus dilakukan sebagai syarat untuk kelulusan. Sementara bakat dan minatnya tidak mendapat tempat untuk tumbuh dan berkembang yang layak.
Karena konsep itu nampaknya lahirlah upaya di sana sini untuk membuat berbagai sekolah unggulan. Yang kedengarannya dan terkesan seperti sekolah eksklusif. Padahal pendidikan harusnya dapat dijangkau oleh semua siswa dari berbagai latar belakang kehidupan.
Dan sekolah tidak memerlukan stigma yang melahirkan prasangka: membuat siswa belum apa-apa sudah meragukan kemampuan dirinya—apakah saya layak masuk sekolah itu ataukah tidak. Bagi penulis sekolah yang unggul justru sekolah yang bisa merubah keadaan diri siswa menjadi lebih baik dari keadaannya semula.
Yang diperlukan adalah proses yang unggul. Dan proses yang unggul tersebut mesti tersedia bagi semua siswa di negeri ini bukan hanya segelintir.
Kenyataan hari ini kadang di bawah tekanan eksternal dan keinginan bersaing, maka dunia pendidikan kita terseret dalam arah yang menjadikan pendidikan kehilangan ruhnya – kehilangan nilai-nilai dan keteladanan dalam realitas kehidupan.
Ironisnya sistem yang bertahan dalam idealisme – sering malah tergilas, dianggap ketinggalan dan tidak didukung dan diperhatikan. Saatnya untuk berubah








Diskusi