Sabtu, Mei 2, 2026

Talak 3 untuk Aceh

Referendum atau talak 3 — republik harus pilih salah satu, atau diam saja
1001460796_11zon
Ilustrasi: Talak 3 untuk Aceh
Talak 3 untuk Aceh
Opini

Mimpi Indonesia emas saat tidur terpotong oleh suara orang bicara. Saya terbangun dan mendengar mobil senior mogok di sebuah lokasi yang pernah didatangi tsunami 2004. Tanpa mandi apalagi sarapan, kami bergegas menuju lokasi.

Sesampainya di lokasi terlihat mobil yang gagah itu hanya jalan di tempat. Bukan tak ada BBM, bukan rusak mesin namun salah mengambil lintasan. Mobil tak mampu melaju ke depan. Persis seperti sebuah republik yang sudah puluhan tahun mendeklarasikan kemerdekaan.

Sumber daya alam jangan ditanya, tanah subur boleh dibandingkan dengan negara manapun. Letak geografis bikin iri negara-negara Eropa dan Amerika. Belum lagi soal budaya dan bahasa, super kaya.

Namun segala fasilitas mewah itu tak dikelola oleh manusia. Sebab hukum rimba yang berlaku. Tere Liye menyebutnya ‘negeri para bedebah’, netijen memanggilnya Konoha.

Konon republik itu sedang dipimpin seorang kepala negara yang anti-kritik. Bahkan rakyat menyindir dianggap tidak patriot, diusir ke Timur Tengah. Kepala negara atau kepala buzzer sih? Tanya kopi sore itu setelah mendengar pernyataan pecatan militer yang pernah berhalusinasi jadi juru damai Iran-Israel-USA.

Maklum sih, dia pernah ngimpi jadi ‘macan asia’. Ya namanya mimpi, sah-sah saja diceritakan di warung kopi. Asalkan jangan lupa itu hanya mimpi yang tidak melahirkan halusinasi menjadi penengah perang. Dikritik oleh rakyat saja masih sensi, artinya belum selesai dengan diri sendiri.

Pidatonya yang mempersilakan rakyat ke Yaman sebenarnya bagus. Yaman adalah salah satu negara, itu hanya contoh, bagaimana jika republik itu melepas Aceh sehingga rakyat republik punya pilihan lebih dekat ongkos.

Jika memang demokrat sejati yang menjunjung tinggi nilai demokrasi, seharusnya berani mengeluarkan kepres soal referendum. Berikan pilihan pada semua wilayah, masih mau di bawah republik atau tidak.

Bagi Aceh, ucapan kepala negara republik adalah serius bukan omon-omon. Verifikasinya adalah pemberian referendum. Sebuah mekanisme yang jujur dan adil, ngapain coba memaksa sebuah wilayah menetap di republik. Bukankah dalam beragama saja tidak ada paksaan.

Jika tidak mampu memberi nafkah lahir dan batin, KDRT 30 tahun, bagusnya talak 3 saja untuk Aceh. Biarkan Aceh menjadi wilayah merdeka, tak perlu lagi kirim dana otsus, tak perlu lagi kirim tentara yang hanya menghabiskan biaya. Apakah republik tak mampu hidup tanpa Aceh?

Melalui talak 3, Aceh dan republik dapat hidup berdampingan. Kerjasama bilateral dua negara yang punya masa lalu dengan geografis yang berdekatan tentu saja menguntungkan kedua pihak. Saya yakin Aceh akan siap mengekspor kebutuhan republik dan sebaliknya.

Jika tidak mampu memberi nafkah lahir dan batin, KDRT 30 tahun, bagusnya talak 3 saja untuk Aceh.

Buktinya, KDRT selama 30 tahun tak membuat Aceh sentimen pada republik. Namun pidato kepala negara republik yang memberi kebebasan rakyat kalau tak sudi bersama republik untuk keluar, mengapa tidak memulai dengan memberi referendum.

Setidaknya akan ketahuan, apakah rakyat masih nyaman bersama republik atau tidak. Dimulai dari Aceh saja, secara abjad kalau absensi di kelas dimulai dari A. Bukankah republik selama ini merasa Aceh sebagai beban APBN? Nah ini momentum yang tepat untuk talak 3 Aceh.

Dengan demikian, beban APBN republik akan berkurang. Pertumbuhan ekonomi 6 persen dapat terealisasi. Ditambah dengan pidato kepala negara republik yang selalu berapi-api, republik dipastikan akan sejajar dengan Amerika Serikat, Cina, Rusia, tanpa Aceh.

Republik terlalu besar diurus oleh mereka yang tidak berjiwa besar. Jiwa yang tak tahan kritik, jiwa yang hanya senang dipuji, melepaskan Aceh adalah salah satu solusinya.

Ada beberapa mekanisme yang dapat dilakukan, melalui referendum. Mekanisme ini pernah dilakukan di Timor Leste. Melibatkan pihak PBB namun karena lagi efisiensi, sebaiknya pilih rekomendasi saya, talak 3.

“Kami bebaskan rakyat Aceh untuk keluar dari republik dan berdiri sendiri”, demikian kira-kira ucapan yang bisa dilontarkan. Dan seperti uraian di atas, ini solusi terbaik bagi republik mengurangi pengeluaran APBN. Berani?

Toh di dalam pembukaan UUD 45 dikatakan bahwa kemerdekaan itu adalah hak setiap bangsa. Jangan sampai republik menjilat ludah sendiri apalagi itu pernyataan dari jiwa yang ingin merdeka pada saat itu.

Republik pernah dijajah dan tahu rasanya, wilayah yang bergabung pun tidak pernah dipaksa. Harusnya jika ada wilayah ingin berpisah ya biarkan saja, ibarat suami-istri hendak bercerai sambil berkata “jodoh kita sudah berakhir”.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Penikmat kopi tanpa gula

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist