Jumat, April 17, 2026

Agama yang Meninabobokan atau Menggerakkan? Dari Mimbar ke Realitas, Mencari Kembali Ruh Peradaban

Oleh: Dayan Abdurrahman

Ada satu suasana yang sering kita temui di kampung-kampung Aceh. Malam hari, lampu meunasah menyala, suara mikrofon sedikit bergetar, lalu seorang penceramah mulai berbicara tentang surga yang indah dan neraka yang mengerikan. Jamaah duduk tenang, sebagian mengangguk, sebagian larut dalam suasana haru. Setelah selesai, semua pulang dengan hati yang terasa ringan—seolah beban hidup sedikit terangkat.

Namun esok paginya, kehidupan berjalan seperti biasa. Tidak banyak yang berubah.

Di sinilah muncul pertanyaan yang jarang diucapkan, tetapi sering terasa: apakah agama hanya hadir untuk menenangkan, atau seharusnya juga menggerakkan?

Aceh bukan wilayah tanpa sejarah. Kita pernah berdiri sebagai peradaban yang disegani, bukan sekadar komunitas religius yang khusyuk dalam ibadah. Nama seperti Sultan Iskandar Muda bukan hanya simbol kekuasaan, tetapi representasi dari sebuah sistem yang terorganisir—militer kuat, ekonomi hidup, dan pendidikan berkembang. Di masa itu, agama tidak berhenti di mimbar; ia menjelma menjadi kebijakan, strategi, dan arah pembangunan.

Masjid bukan hanya tempat sujud, tetapi pusat ilmu. Lembaga seperti Dayah tidak hanya mengajarkan fikih ibadah, tetapi juga membentuk karakter, kepemimpinan, dan cara berpikir. Ulama tidak hanya berbicara tentang akhirat, tetapi juga memberi arah bagaimana dunia ini dikelola.

Namun hari ini, ada jarak yang terasa—antara semangat masa lalu dan realitas sekarang.

Kita masih memiliki semangat beragama yang tinggi. Meunasah tetap hidup, pengajian tetap ramai, dan identitas keislaman tetap kuat. Tetapi ketika masuk ke ranah sistem—ekonomi, pendidikan, teknologi—kita sering tertinggal. Seolah-olah agama berjalan sendiri, sementara kehidupan dunia berjalan tanpa arah yang jelas.

Ini bukan kritik untuk menyalahkan, tetapi refleksi untuk memahami.

Ada kecenderungan halus yang tanpa sadar kita pelihara: menjadikan agama sebagai ruang nyaman, bukan ruang tumbuh. Kita lebih mudah menerima ceramah yang menenangkan daripada yang menantang. Lebih suka mendengar janji daripada tuntutan. Lebih nyaman diajak berharap daripada diajak berubah.

Padahal, dalam hakikatnya, agama bukan sekadar pelipur lara.

Agama adalah energi.

Energi yang seharusnya mendorong manusia untuk menciptakan, bukan hanya menghindari. Mengorganisir, bukan hanya bersabar. Membangun, bukan hanya berdoa.

Jika kita menoleh ke luar, kita bisa melihat bagaimana agama—ketika dipahami sebagai energi kolektif—mampu menggerakkan sebuah bangsa. Ambil contoh Iran. Terlepas dari berbagai perdebatan politiknya, ada satu hal yang tidak bisa diabaikan: bagaimana agama dijadikan sebagai basis mobilisasi sosial. Ia bukan hanya menjadi identitas, tetapi juga menjadi kerangka berpikir, sistem pendidikan, bahkan arah kebijakan negara.

Agama di sana tidak hanya berbicara tentang moral individu, tetapi juga tentang kemandirian bangsa, penguasaan teknologi, dan posisi dalam percaturan global. Dari negara yang pernah berada dalam tekanan besar, mereka mampu membangun daya tawar yang membuat dunia harus memperhitungkan keberadaannya.

Pertanyaannya: apakah itu semata-mata karena sumber daya? Tidak sepenuhnya. Itu juga tentang cara berpikir—tentang bagaimana agama ditempatkan sebagai kekuatan penggerak, bukan sekadar simbol.

Kembali ke konteks kita, mungkin masalahnya bukan pada kurangnya iman, tetapi pada arah iman itu sendiri. Iman yang tidak diarahkan sering kali berhenti pada perasaan. Ia hangat di hati, tetapi tidak mengalir ke tindakan. Ia kuat dalam doa, tetapi lemah dalam perencanaan.

Analogi sederhana: kita seperti memiliki bahan bakar yang melimpah, tetapi tidak memiliki mesin yang mengubahnya menjadi gerak.

Di sinilah pentingnya menggeser cara pandang. Bahwa agama bukan hanya tentang “menjadi baik” secara personal, tetapi juga tentang “menciptakan kebaikan” secara sistemik. Bukan hanya tentang menjauhi dosa, tetapi juga tentang menghadirkan nilai.

Ketika seseorang berdagang dengan jujur, itu baik. Tetapi ketika ia mampu membangun sistem perdagangan yang adil dan memberdayakan banyak orang, itu adalah level yang berbeda. Ketika seseorang rajin belajar, itu baik. Tetapi ketika ia mampu menciptakan sistem pendidikan yang melahirkan generasi unggul, itu adalah transformasi.

Dan semua itu tidak bertentangan dengan agama. Justru itulah esensinya.

Sayangnya, pendekatan seperti ini tidak selalu populer. Ia tidak selalu mendapat tepuk tangan. Kadang bahkan dianggap terlalu “keras” atau “tidak nyaman”. Karena ia membawa konsekuensi: perubahan.

Orang tidak hanya diajak merasa, tetapi juga berpikir. Tidak hanya diajak berharap, tetapi juga bertanggung jawab.

Namun di sinilah letak kejujurannya.

Agama yang hanya membuat kita merasa baik, tanpa mendorong kita menjadi lebih baik, pada akhirnya hanya akan melahirkan kepuasan semu. Ia seperti air hangat yang menenangkan, tetapi tidak cukup kuat untuk membersihkan.

Sebaliknya, agama yang menantang—meskipun kadang terasa berat—justru membuka ruang pertumbuhan. Ia seperti latihan fisik: melelahkan, tetapi membentuk kekuatan.

Aceh memiliki semua potensi untuk kembali bangkit. Kita punya sejarah, punya identitas, punya lembaga pendidikan, dan punya semangat kolektif. Nama-nama kampung yang sederhana, aktivitas di meunasah, dan kehidupan sosial yang erat—semua itu adalah modal sosial yang tidak dimiliki oleh banyak tempat lain.

Yang kita butuhkan bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru, tetapi cara pandang yang lebih utuh.

Bahwa iman tidak berhenti pada keyakinan.
Bahwa ibadah tidak berhenti pada ritual.
Bahwa agama tidak berhenti pada ceramah.

Ia harus bergerak—menjadi sistem, menjadi budaya kerja, menjadi arah pembangunan.

Mungkin ke depan, kita tetap membutuhkan ceramah yang menenangkan. Itu penting. Tetapi kita juga membutuhkan narasi yang membangunkan. Narasi yang membuat kita berpikir: apa kontribusi kita hari ini? Apa yang bisa kita bangun? Bagaimana kita mengubah keadaan, sekecil apa pun itu?

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan agama bukan hanya pada seberapa banyak kita mengingat Tuhan dalam doa, tetapi juga pada seberapa jauh nilai-nilai itu hidup dalam cara kita mengelola dunia.

Dan mungkin, di situlah perjalanan kita baru benar-benar dimulai—ketika agama tidak lagi hanya menjadi suara di mimbar, tetapi menjadi gerak dalam kehidupan.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist