Oleh Muhammad Maskur
(tentang seorang anak yang ingin menjadi “asing” demi meraih sesuatu yang lebih besar dari sekadar apa yang diwariskan oleh tanah kelahiran.)
Aroma tanah basah setelah hujan biasanya jadi bau paling surgawi bagi orang-orang di desa. Tapi bagi Bintang, bau itu justru terasa seperti rantai yang melilit kakinya. Di tangan kanannya, sebuah cangkul dengan pegangan yang licin kokarena keringat bertahun-tahun seolah sudah menyatu dengan telapak tangannya yang kapalan.
“Binn, jangan melamun terus. Garis sawah sebelah sana itu belum rata. Sebentar lagi matahari naik, airnya keburu surut,”suara berat Bapak memecah lamunan Bintang.
Bintang hanya berdehem. Ia menghujamkan mata cangkul ke lumpur dengan tenaga yang lebih besar dari biasanya.
Bruk!Tanah liat itu terbelah. Di kepalanya, dia bukan sedang meratakan tanah untuk ditanami padi. Dia sedang membayangkan dirinya menekan tuas kemudi di sebuah kokpit baja yang membelah awan.
“Pak,” panggil Bintang, tanpa menoleh. “Minggu depan ada ujian beasiswa di kota. Bintang mau ikut.”
Gerakan tangan Bapak yang sedang menyebar pupuk mendadak berhenti. Hening sejenak. Hanya ada suara gesekan daun padi yang ditiup angin dan derik tonggeret di kejauhan. Bapak menghela napas panjang jenis napas yang membuat dada Bintang ikut sesak.
“Beasiswa apa lagi, Bin? Pilot? Kamu sudah dengar kata sesepuh desa kemarin, kan? Garis keturunan kita itu penjaga tanah. Tanah ini yang memberi kita makan sejak zaman kakek buyutmu belum lahir. Kalau kamu pergi ke langit, siapa yang jaga bumi?”
“Tapi Pak, zaman sudah berbeda. Kita tidak bisa cuma mengandalkan sawah seluas ini selamanya. Bintang ingin lihat dunia dari atas, bukan cuma dari balik punggung kerbau,” balas Bintang.
Suaranya bergetar, tapi tetap rendah demi menghargai lelaki di depannya.
Bapak berjalan mendekat, kakinya yang penuh lumpur kering melangkah berat. “Menjadi asing di tanah sendiri itu sakit, Bin. Kalau kamu kejar langit itu, kamu bakal kehilangan akar. Kamu bakal jadi orang asing buat kami, buat adat kita. Apa itu yang kamu mau?”
Bintang diam. Ia menatap telapak tangannya sendiri. Cangkul itu ia lepaskan, dibiarkan jatuh tergeletak di atas pematang.
Malamnya, rumah kayu itu terasa lebih dingin. Ibu hanya diam di dapur sambil menyiapkan singkong rebus, tapi matanya sembab. Di desa mereka, ada kepercayaan kuat bahwa anak lelaki pertama adalah “pasak” rumah. Pergi jauh melintasi laut, apalagi mengejar pekerjaan yang dianggap“melawan kodrat bumi” seperti terbang di angkasa, dianggap sebagai bentuk pengkhianatan halus pada leluhur.
“Kamu benar-benar mau pergi?” tanya Ibu pelan sambil melihat Bintang mengemasi satu-satunya ransel miliknya.
“Bu, Bintang cuma mau buktikan kalau anak petani juga punya hak untuk bermimpi setinggi langit. Bintang nggak akan lupa jalan pulang,” jawab Bintang sambil memasukkan ijazah SMA yang tersimpan rapi di dalam plastik.
“Masalahnya bukan soal lupa jalan pulang, Bin. Tapi soal apakah rumah ini masih menganggapmu bagian dari mereka saat kamu pulang nanti dengan seragam yang tidak mereka kenali itu.”
Bintang tidak menjawab. Di hatinya ada pergulatan hebat. Ia mencintai desanya, ia mencintai bau padi, tapi ia merasa sesak dalam kotak aturan yang tidak pernah memberi ruang bagi imajinasinya.
Perjalanan menuju kota memakan waktu enam jam naik bus tua yang bau bensin. Selama perjalanan, Bintang menatap keluar jendela. Sawah-sawah hijau perlahan berubah jadi deretan ruko, lalu berganti jadi gedung-gedung beton yang seolah menantang langit.
Di kota, Bintang benar-benar menjadi orang “asing”. Logat bicaranya yang kental sering jadi bahan candaan teman-teman di tempat kursus. Tidurnya hanya empat jam sehari. Sisanya? Dia bekerja jadi kuli panggul di pasar subuh demi membayar biaya pendaftaran dan membeli buku-buku teori penerbangan yang harganya selangit.
Setiap kali tangannya lecet karena memanggul karung beras, dia teringat cangkul Bapak. Ini harganya, Bin. Kamu mau langit, kamu harus rasa sakit, batinnya menyemangati diri.
Tahun pertama terasa seperti neraka. Beasiswa yang ia incar gagal di tahap kesehatan karena paru-parunya sedikit kotor akibat terlalu sering menghisap rokok di desa. Dia hampir menyerah. Dia hampir ingin pulang, bersujud di kaki Bapak, dan memegang cangkul lagi. Tapi setiap kali melihat pesawat melintas di atas langit kota, hatinya kembali terbakar.
Ia berhenti merokok total, mulai lari pagi setiap hari, dan belajar bahasa Inggris dari kamus bekas yang sampulnya sudah hilang. Ia bekerja di tempat cuci mobil, makan mi instan yang dibagi dua untuk pagi dan malam. Ia benar-benar menjadi “asing” seorang pemuda desa yang tidak lagi punya sawah, tapi juga belum memiliki langit.
Tiga tahun berlalu.
Kabar tentang Bintang di desa simpang siur. Ada yang bilang dia jadi gelandangan, ada yang bilang dia masuk penjara. Bapak tidak pernah lagi bicara soal Bintang. Sawah di belakang rumah mulai digarap orang lain karena tenaga Bapak sudah tidak sekuat dulu.
Sampai suatu sore, sebuah mobil hitam mengkilap berhenti di jalan setapak menuju rumah Bapak. Seorang pria turun dengan pakaian rapi, kacamata hitam, dan tas jinjing yang elegan. Penduduk desa berbisik-bisik. Siapa orang kaya ini?
Lelaki itu melangkah menuju rumah kayu yang mulai lapuk. Di teras, Bapak sedang duduk sambil mengasah parang.
“Permisi, Pak,” suara itu tenang tapi penuh wibawa.
Bapak mendongak. Matanya yang rabun menyipit. Ia tidak mengenali pria di depannya sampai pria itu membuka kacamata dan berlutut tepat di depan kaki Bapak yang pecah-pecah.
“Bintang?” suara Bapak parau.
Bintang tidak menangis. Ia mencium tangan Bapak. “Bintang pulang, Pak. Bintang nggak bawa cangkul, tapi Bintang bawa ini.”
Bintang mengeluarkan sebuah foto dan sertifikat. Foto dirinya dengan seragam pilot putih bersih, berdiri di depan pesawat bermesin ganda.
“Bintang sudah lulus, Pak. Bulan depan Bintang mulai kontrak dengan maskapai internasional. Bintang datang mau ajak Bapak dan Ibu lihat langit yang Bintang kejar selama ini. Kita nggak akan pakai cangkul lagi untuk makan, Pak.”
Bapak terdiam lama. Tangannya yang kasar gemetar memegang foto itu. Ia melihat anaknya yang kini tampak begitu berbeda. Bintang memang sudah jadi “asing”. Bahasanya lebih tertata, badannya lebih tegap, dan tatapan matanya tidak lagi menunduk ke tanah.
“Kamu sukses, Bin,” kata Bapak lirih. “Tapi lihat sekelilingmu. Orang desa tetap menganggapmu orang luar sekarang.
Kamu sudah menukar duniamu dengan dunia yang tidak mereka paham.”
Bintang tersenyum tipis, sebuah senyum dengan kedewasaan yang pahit. “Memang itu harganya, Pak. Untuk mendapatkan langit, saya harus ikhlas kehilangan tempat di bumi yang lama.
Tapi bukan berarti saya lupa siapa yang memberi saya kaki untuk melompat.”
Ibu keluar dari rumah, langsung memeluk anaknya sambil menangis histeris. Di mata Ibu, Bintang tetaplah anaknya yang dulu sering main lumpur. Tapi bagi penduduk desa yang menonton dari jauh, Bintang adalah sebuah legenda sekaligus sebuah peringatan bahwa mimpi bisa membawa seseorang pergi begitu jauh, sampai-sampai ia tak lagi dikenali oleh tanah kelahirannya sendiri.
Malam itu, Bintang duduk di pematang sawah untuk terakhir kalinya sebelum membawa orang tuanya pindah ke kota. Ia melihat bulan yang terpantul di air sawah. Ia sadar, ia telah menukar kenyamanan tradisi dengan dinginnya kemajuan. Ia telah menukar cangkulnya dengan langit. Dan meskipun ia kini dianggap “asing” oleh adatnya, ia tahu bahwa di atas sana, di antara awan-awan, ia akhirnya menemukan rumah yang sebenarnya.
Ia bukan lagi penjaga tanah. Tetapi ia adalah penakluk langit. Dan bagi Bintang, harga menjadi “asing” itu sepadan dengan pemandangan cakrawala yang tidak akan pernah bisa dilihat dari balik cangkul.

























Diskusi