Oleh Humairoh Khalid Pulungan
Mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Syiah Kuala
Pernahkah Anda merasa tetap lelah meski sudah tidur sepanjang akhir pekan? Ada rasa berat yang menggelayuti bahu setiap kali melihat notifikasi pekerjaan atau tumpukan tugas kuliah. Perlahan, gairah yang dulu menyala saat mengerjakan proyek ilmiah kini berubah menjadi rasa muak.
Jika Anda merasa terjebak dalam hampa yang tak berujung, kemungkinan besar Anda bukan sedang malas—Anda sedang mengalami burnout.
Dalam budaya masyarakat yang sangat mendewakan kesibukan (hustle culture), berhenti sejenak sering kali dianggap sebagai tanda kelemahan. Kita dipaksa untuk terus berlari, hingga tanpa sadar tubuh dan pikiran mulai kelelahan.
Saya sering melihat fenomena ini di kampus Universitas Syiah Kuala (USK). Di kantin atau sudut perpustakaan, banyak mahasiswa tampak “kosong” meski tangan mereka tetap sibuk di depan laptop.
Kita sering menyebutnya “kejar tayang”. Namun ada satu momen yang membekas di ingatan saya: seorang teman tiba-tiba menutup laptopnya dengan keras dan berkata, “Aku lelah, tapi bukan lelah yang bisa hilang cuma dengan tidur siang.”
Kalimat sederhana itu menjadi alarm bahwa kesehatan mental mahasiswa sedang berada dalam tekanan yang serius di tengah tuntutan akademik.
Bukan Sekadar Lelah Biasa
Dalam psikologi, burnout adalah kondisi kelelahan yang multidimensi. Christina Maslach menjelaskan bahwa burnout bukan hanya soal energi yang terkuras, tetapi juga melibatkan sinisme serta perasaan tidak kompeten meskipun seseorang sudah bekerja keras.
Di era digital, batas antara ruang pribadi dan pekerjaan semakin kabur. Ponsel membuat kita seolah tidak pernah benar-benar “lepas” dari tugas dan tanggung jawab.
Fenomena seperti Quiet Quitting dan burnout juga banyak dibahas di media seperti Kompas.com, menunjukkan bahwa ini bukan sekadar masalah individu, tetapi juga masalah sistem kerja yang lebih luas.
Mengapa Liburan Saja Tidak Cukup?
Banyak orang mengira burnout bisa sembuh hanya dengan liburan singkat. Namun penelitian menunjukkan bahwa pemulihan harus menyentuh akar masalah seperti beban kerja berlebih dan kurangnya kontrol atas pekerjaan.
Jika budaya kerja masih menganggap lembur sebagai tanda prestasi, maka istirahat hanya menjadi solusi sementara, bukan penyembuhan yang sesungguhnya.
Menemukan Kembali Diri yang Hilang
Pemulihan burnout membutuhkan keberanian untuk menetapkan batas (boundaries). Tidak membalas pesan kerja di luar jam produktif bukanlah kesalahan.
Mencari bantuan profesional seperti psikolog juga bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kesadaran diri bahwa manusia memiliki batas kemampuan.
Kita bukan mesin produktivitas, tetapi manusia yang membutuhkan jeda untuk tetap sehat secara mental dan emosional.
“Menepi sejenak bukan tanda kalah, tetapi strategi untuk bisa melangkah lebih jauh.”
Referensi
Maslach, C., & Leiter, M. P. (2016). The Burnout Challenge. Harvard University Press.
Sonnentag, S., & Fritz, C. (2015). Journal of Applied Psychology.
Kompas.com (2024). Mengenal Burnout dan Tantangan Kesehatan Mental di Era Digital.
Artikel ini disusun sebagai bagian dari eksplorasi mendalam terhadap isu burnout pada mahasiswa.





















Diskusi