Akankah Disiplin dan Kinerja Meningkat atau Menurun dengan Empat Hari Kerja + 1 Hari WFH

“Disiplin sejati bukan ketika seseorang terlihat patuh di depan orang lain, tetapi ketika ia tetap konsisten, bahkan saat tidak ada yang melihat.”
874bc5ac-4790-4920-9a98-9bc97428afb8
Ilustrasi: Akankah Disiplin dan Kinerja Meningkat atau Menurun dengan Empat Hari Kerja + 1 Hari WFH
WA FB X

Oleh: Siti Hajar

Kebijakan empat hari kerja dengan satu hari bekerja dari rumah, khususnya di hari Jumat, sekilas terdengar sederhana. Namun, di balik kesederhanaannya, tersimpan perubahan besar dalam cara kita memaknai kerja itu sendiri. Jika dulu kerja identik dengan hadir secara fisik di kantor, kini perlahan bergeser menjadi tentang bagaimana tanggung jawab itu dijalankan, di mana pun tempatnya.

Perubahan ini, jika ditarik lebih dalam, melahirkan sebuah fenomena yang menarik pada sisi disiplin pegawai. Disiplin tidak lagi berdiri sebagai sesuatu yang tampak di permukaan—seperti kehadiran, absensi, atau kepatuhan pada jam kerja—melainkan berubah menjadi disiplin yang bersifat internal, yang bekerja dalam diam. Ia tidak lagi bisa diukur hanya dengan “siapa yang hadir”, tetapi dengan “siapa yang benar-benar menyelesaikan pekerjaannya”.

Fenomena ini sering disebut sebagai pergeseran dari external discipline menuju self-discipline. Dulu, lingkungan kerja membentuk disiplin. Ada atasan, ada rekan kerja, ada suasana kantor yang secara tidak langsung “memaksa” seseorang untuk tetap berada dalam ritme kerja. Kini, ketika bekerja dari rumah, semua itu berkurang. Yang tersisa adalah diri sendiri—dan di situlah disiplin diuji dalam bentuknya yang paling jujur.

Jika kebijakan ini benar-benar diberlakukan secara luas dan konsisten, maka dalam jangka pendek kita mungkin akan melihat dua pola yang kontras. Ada pegawai yang justru berkembang—mereka merasa dipercaya, diberi ruang, dan akhirnya menunjukkan tanggung jawab yang lebih tinggi. Namun, ada pula yang mengalami penurunan ritme kerja, bukan karena tidak mampu, tetapi karena belum terbiasa mengelola kebebasan.

Dalam jangka panjang, efeknya bisa lebih dalam lagi. Organisasi secara perlahan akan “tersegmentasi” secara alami. Pegawai dengan disiplin diri yang kuat akan semakin menonjol, sementara mereka yang masih bergantung pada pengawasan eksternal akan tertinggal. Ini bukan semata-mata soal rajin atau tidak rajin, tetapi soal kesiapan mental menghadapi perubahan cara kerja.

Dari sisi psikologis, pertanyaan tentang apakah kinerja akan menurun menjadi sangat relevan. Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Pada sebagian orang, bekerja dari rumah justru meningkatkan fokus. Tidak ada distraksi kantor, tidak ada tekanan sosial, dan waktu bisa dikelola lebih fleksibel. Mereka merasa lebih tenang, lebih otonom, dan pada akhirnya lebih produktif.

Namun, pada sebagian lainnya, kondisi ini bisa memunculkan tantangan baru. Rasa malas menjadi lebih mudah muncul, batas antara waktu kerja dan waktu pribadi menjadi kabur, dan motivasi bisa perlahan menurun. Tanpa struktur yang jelas, seseorang bisa merasa “kehilangan pegangan”. Bahkan dalam beberapa kasus, muncul rasa bersalah karena merasa tidak bekerja maksimal, yang pada akhirnya justru mengganggu kesehatan mental.

Menariknya, semua ini kembali pada satu hal, bagaimana seseorang memaknai pekerjaannya. Jika kerja hanya dipandang sebagai kewajiban yang diawasi, maka ketika pengawasan itu berkurang, semangat pun ikut menurun. Tetapi jika kerja dipahami sebagai tanggung jawab dan amanah, maka di mana pun ia berada, kualitas kerja akan tetap dijaga.

Di titik ini, kita seperti diajak untuk melihat kembali makna disiplin itu sendiri. Bahwa disiplin sejati bukanlah ketika seseorang terlihat patuh di depan orang lain, tetapi ketika ia tetap konsisten, bahkan saat tidak ada yang melihat. Dan mungkin, kebijakan ini bukan sekadar perubahan sistem kerja, melainkan sebuah proses panjang untuk membentuk karakter kerja yang lebih matang dan lebih bertanggung jawab.

Sistem Pengawasan

Perubahan pada disiplin pegawai itu, pada akhirnya, membawa kita pada satu kebutuhan yang tak bisa ditawar. Hadirnya sistem pengawasan yang benar-benar matang. Dalam model kerja yang tidak lagi bertumpu pada kehadiran fisik, pengawasan tidak bisa sekadar mengikuti pola lama. Ia harus tumbuh, menyesuaikan diri, dan menemukan bentuk barunya.

Jika dulu pengawasan identik dengan “melihat langsung”, kini ia berubah menjadi “memastikan pekerjaan tetap berjalan”. Fokusnya bukan lagi pada orangnya, tetapi pada alur kerja dan hasil yang dihasilkan. Di sinilah tantangan sekaligus peluang itu muncul—bagaimana memastikan setiap pegawai tetap berada dalam jalurnya, tanpa harus diawasi secara kasat mata.

Pengawasan yang baik dalam sistem ini pertama-tama harus dimulai dari kejelasan. Setiap pekerjaan perlu memiliki arah yang pasti. Apa yang harus dikerjakan, kapan harus selesai, dan seperti apa hasil yang diharapkan. Tanpa kejelasan ini, bekerja dari rumah justru membuka ruang kebingungan. Pegawai tidak tahu harus memulai dari mana, atasan pun kesulitan menilai apakah pekerjaan berjalan sesuai rencana atau tidak.

Dari kejelasan itu, lahir kebutuhan akan target yang terukur. Bukan target yang abstrak, tetapi target yang bisa dilihat dan dinilai secara konkret. Misalnya, berapa dokumen yang harus diselesaikan dalam satu hari, berapa layanan yang harus diproses, atau berapa laporan yang harus masuk dalam satu minggu. Dengan cara ini, pengawasan tidak lagi bergantung pada keberadaan fisik, melainkan pada capaian yang nyata.

Namun, pengawasan tidak cukup hanya dengan angka dan target. Ia juga membutuhkan komunikasi yang hidup. Dalam situasi bekerja dari rumah, komunikasi menjadi jembatan utama yang menghubungkan satu orang dengan yang lainnya. Tanpa komunikasi yang aktif—baik melalui pesan singkat, rapat daring, atau laporan berkala—pekerjaan bisa terputus tanpa disadari. Di sinilah peran pimpinan menjadi sangat penting, bukan sebagai pengawas yang kaku, tetapi sebagai pengarah yang memastikan semua tetap terhubung.

Dalam konteks pelayanan publik, kebutuhan akan pengawasan yang baik menjadi jauh lebih krusial. Karena yang dihadapi bukan hanya target internal, tetapi juga harapan masyarakat. 

Pelayanan tidak boleh melambat hanya karena sebagian pegawai bekerja dari rumah. Masyarakat tetap membutuhkan respons yang cepat, jelas, dan dapat diandalkan.

Maka, sistem pengawasan di sektor ini harus mampu menjamin bahwa layanan tetap berjalan tanpa jeda. Salah satu caranya adalah dengan membagi peran secara tegas—mana layanan yang harus tetap hadir secara langsung, dan mana yang bisa dialihkan ke sistem daring. 

Selain itu, perlu ada mekanisme pemantauan yang real-time, sehingga setiap proses pelayanan bisa dilacak. Sudah sampai di mana, siapa yang menangani, dan kapan akan selesai.

Yang tak kalah penting, pengawasan juga harus bersifat adil dan transparan. Setiap pegawai perlu merasa bahwa kinerjanya dinilai secara objektif, bukan berdasarkan kedekatan atau asumsi. Ketika sistem ini berjalan dengan baik, kepercayaan akan tumbuh—baik dari pimpinan kepada pegawai, maupun dari pegawai kepada sistem itu sendiri.

Pada akhirnya, pengawasan dalam model kerja seperti ini bukan tentang memperketat kontrol, tetapi tentang membangun sistem yang membuat setiap orang tetap bertanggung jawab. Ia bukan lagi sekadar alat untuk mengawasi, tetapi menjadi kerangka yang menjaga agar seluruh pekerjaan tetap bergerak ke arah yang sama.

Dan di situlah letak kuncinya—bahwa dalam dunia kerja yang semakin fleksibel, yang dibutuhkan bukanlah pengawasan yang lebih keras, melainkan pengawasan yang lebih cerdas.

Kualitas Manajemen Kerja

Point selanjutnya yang yang juga sangat penting adalah Kualitas Manajemen Kerja. Ini menjadi penentu utama berhasil atau tidak. Jika disiplin pegawai adalah fondasi dari dalam diri, dan pengawasan adalah sistem yang menjaga ritme, maka manajemen kerja adalah “otak” yang mengarahkan semuanya. Tanpa manajemen yang baik, keduanya bisa berjalan, tetapi tidak akan pernah benar-benar selaras.

ADVERTISEMENT

Dalam model kerja yang memadukan kantor dan rumah, manajemen tidak lagi bisa berjalan secara spontan atau mengandalkan kebiasaan lama. Ia dituntut untuk menjadi lebih terstruktur, lebih jelas, dan lebih sadar arah. Sebab ketika pegawai tidak berada dalam satu ruang yang sama, kesalahan kecil dalam perencanaan bisa berlipat dampaknya.

Hal pertama yang menjadi kunci adalah kejelasan perencanaan kerja. Setiap awal minggu, pekerjaan seharusnya sudah dipetakan dengan baik. Apa saja yang menjadi prioritas, siapa yang bertanggung jawab, dan kapan harus selesai. 

Tanpa perencanaan yang rapi, hari kerja di kantor bisa habis untuk “mengatur”, sementara hari kerja di rumah menjadi tidak efektif karena pegawai kehilangan arah. Dalam kondisi seperti ini, WFH bukan menjadi solusi, tetapi justru memperbesar kekacauan yang sudah ada.

Dari perencanaan, manajemen yang baik juga harus mampu membagi beban kerja secara proporsional. Ini sering menjadi titik lemah yang jarang disadari. Ada pegawai yang kelebihan beban, sementara yang lain justru longgar. Dalam sistem kerja fleksibel, ketimpangan ini akan semakin terlihat. Pegawai yang terlalu banyak tugas akan merasa terbebani, sementara yang terlalu sedikit bisa kehilangan ritme kerja. 

Keseimbangan inilah yang harus dijaga dengan cermat oleh pimpinan.

Selanjutnya adalah soal pengambilan keputusan. Dalam sistem kerja konvensional, banyak hal bisa diselesaikan dengan cepat melalui komunikasi langsung. Namun ketika sebagian pekerjaan dilakukan dari rumah, proses ini bisa melambat jika tidak diantisipasi. 

Baca Juga

Manajemen yang baik harus mampu menciptakan jalur keputusan yang jelas—tidak berbelit, tidak menunggu terlalu lama, dan tidak membingungkan. Setiap orang perlu tahu kepada siapa harus bertanya dan bagaimana keputusan bisa diambil dengan cepat.

Yang juga sering luput adalah kemampuan manajemen dalam membangun ritme kerja. Ritme ini bukan hanya soal jam kerja, tetapi tentang alur energi dalam menyelesaikan pekerjaan. Kapan waktu untuk fokus pada tugas utama, kapan waktu untuk koordinasi, dan kapan waktu untuk evaluasi. Jika ritme ini tidak terbentuk, maka pekerjaan akan terasa acak—sibuk, tetapi tidak produktif.

Dalam konteks pelayanan publik, kualitas manajemen kerja menjadi semakin penting. Karena di sini, kesalahan bukan hanya berdampak pada internal organisasi, tetapi langsung dirasakan oleh masyarakat. Pelayanan yang lambat, informasi yang tidak jelas, atau koordinasi yang terputus akan segera menimbulkan ketidakpuasan. 

Oleh karena itu, manajemen harus mampu memastikan bahwa meskipun sistem kerja berubah, kualitas layanan tetap terjaga, bahkan jika memungkinkan, menjadi lebih baik.

Menariknya, sistem kerja seperti ini justru membuka peluang bagi lahirnya manajemen yang lebih modern. Manajemen yang tidak lagi mengandalkan kontrol berlebihan, tetapi mengedepankan kepercayaan yang terukur. Manajemen yang tidak sibuk memastikan orang terlihat bekerja, tetapi fokus pada bagaimana pekerjaan benar-benar selesai dengan baik.

Namun tentu saja, ini bukan proses yang instan. Ia membutuhkan adaptasi, pembelajaran, dan kemauan untuk berubah. Tidak semua pimpinan siap, tidak semua sistem langsung berjalan sempurna. Akan ada masa transisi, ada kesalahan, ada penyesuaian. Tetapi dari situlah kualitas manajemen diuji dan dibentuk.

Tentu kita sepakat keberhasilan kebijakan empat hari kerja dengan satu hari WFH bukan ditentukan oleh seberapa canggih teknologinya, tetapi oleh seberapa matang cara kita mengelola kerja itu sendiri. Karena ketika manajemen berjalan dengan baik, disiplin akan mengikuti, pengawasan akan terasa lebih ringan, dan seluruh sistem akan bergerak dalam satu arah yang sama—menuju kinerja yang tidak hanya efektif, tetapi juga bermakna.[]

📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Penulis
Siti Hajar
Siti Hajar adalah seorang perempuan lahir di Sigli pada 17 Desember. Saat ini tinggal di Banda Aceh dan bekerja sebagai tenaga kependidikan di Fakultas Pertanian USK. Menggemari dunia literasi karena baginya menulis adalah terapi dan cara berbagi pengalaman. Beberapa buku yang sudah cetak, di antaranya kumpulan cerpen, “Kisah Gampong Meurandeh” Novel, Sophia dan Ahmadi, Patok Penghalang Cinta, Beberapa novel anak, di antaranya The Spirit of Zahra, Mencari Medali yang Hilang, Petualangan Hana dan Hani. Ophila si Care Taker. Dan buku Non Fiksi, Empati Dalam Dunia Kerja (Bagaimana Menjadi Bos dan karyawan yang Elegan) Ingin berkomunikasi lebih lanjut bisa menghubungi nomor WhatsApp 085260512648. Email: sthajarkembar@gmail.com

Discussion about this post

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.